Connect with us

Islamik

Amalkan Doa Ini, Nescaya Dosa-Dosa Besar Akan Terhapus

Published

on

أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ الَّذِي لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْحَيَّ الْقَيُّومَ وَأَتُوبُ إِلَيْهِ

Astaghfirullaah Laa Ilaaha Illaa HuwalHayyal Qayyuma wa Atuubu Ilaihi

“Aku mohon ampun dan bertaubat kepada Allah yang tiada tuhan (berhak disembah) kecuali hanya Dia, Dzat Maha hidup kekal dan berdiri sendiri”

Sumber Doa

Dari Zaid bin Haritsah –maula Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam- berkata: Aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:

مَنْ قَالَ أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ الَّذِي لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْحَيَّ الْقَيُّومَ وَأَتُوبُ إِلَيْهِ غُفِرَ لَهُ وَإِنْ كَانَ قَدْ فَرَّ مِنْ الزَّحْفِ

“Siapa yang membaca Asataghfirullaah Laa Ilaaha Illaa HuwalHayyal Qayyuma wa Atuubu Ilaihi maka akan diampuni dosanya walaupun ia pernah lari dari medan perang.” (HR. Abu Dawud, Al-Tirmidzi, al-Thabrani, Al-Hakim dan Ibnu Abi Syaibah. Dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani Rahimahullah di Shahih Abi Dawud dan Shahih al-Tirmidzi)

Terdapat tambahan dalam sebagian riwayat –seperti dalam Sunan Al-Tirmidzi & al-Hakim-, “Astaghfirullah Al-‘Adzim”.

Tempat Khusus Membacanya?

Telah datang beberapa riwayat yang menerangkan tempat khusus untuk membaca doa istighfar ini, seperti sesudah shalat, bangun tidur, dan di pagi hari Jum’at. Namun tak satupun dari keterangan-keterangan tersebut yang shahih sehingga tidak bisa diamalkan dengan kekhususannya tersebut.

Ada hadits yang berstatus maqbul –sebagian ulama menghasankannya dan sebagian lain menshahihkannya- menyebutkan istighfar tersebut tanpa mengaitkannya dengan waktu-waktu tertentu. Bisa dibaca pada waktu yang bebas tanpa mengkhususkannya dengan waktu dan tempat.

Al-Hakim mengeluarkannya dalam Mustadraknya dari hadits Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu ‘Anhu, ia berkata: Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:

مَنْ قَالَ أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ الَّذِي لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْحَيَّ الْقَيُّومَ وَأَتُوبُ إِلَيْهِ ثَلَاثًا غُفِرَتْ ذُنُوْبُهُ وَإِنْ كَانَ قَدْ فَارًّا مِنْ الزَّحْفِ

“Siapa yang membaca Asataghfirullaah Alladzii Laa Ilaaha Illaa HuwalHayyal Qayyuma wa Atuubu Ilaihi maka diampuni dosa-dosanya walaupun ia pernah lari dari medan perang.” (HR. Al-Hakim, beliau berkata: “ini adalah hadits shahih sesuai syarat Muslim namun Al-Bukhari dan Muslim tidak mengeluarkannya.” Hadits ini juga dikeluarkan oleh Al-Thabrani dalam Al-Mu’jam Al-Kabir, no. 8541. Abu Nu’aim meriwayatkan yang serupa dalam Akhbar Ashbahan dari hadits Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu)

Keutamaannya

Doa ini mengandungi istighfar (permohonan ampunan) yang sangat agung dan memakai wasilah (sarana) yang sangat mulia dengan menyebut nama-nama Allah yang Maha Indah –Allah, Al-Adzim, Al-Hayyu, dan Al-Qayyum-, ikrar akan uluhiyah Allah dan tekad bertaubat saat itu juga.

Astaghfirullah memiliki makna meminta ampunan kepada Allah, memohon agar Allah menutupi dosa-dosanya, dan tidak menghukumnya atas dosa-dosa tersebut.

Disebut kalimat tauhid setelah kalimat “Aku meminta ampun kepada Allah” memberikan makna bahwa hamba tersebut mengakui kewajibannya untuk ibadah kepada Allah semata yang itu menjadi hak Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Ini menuntut agar orang yang beristighfar untuk membuktikan ubudiyahnya kepada Allah dengan mengerjakan perintah-perintah-Nya dan menjauhi larangan-larangan-Nya.

Al-Hayyul Qayyum: dua nama Allah yang agung ini disebut sesudahnya memiliki kaitan dengan permintaan ampunan karena semua nama Allah dan sifat-Nya yang Maha tinggi yang Dzatiyah dan Fi’liyah kembali kepada keduanya. Sifat Dzatiyah merujuk kepada nama Al-Hayyu (Maha hidup kekal). Sedangkan sifat fi’liyah kembali kepada nama Al-Qayyum (Tegak berdiri sendiri dan mengurusi semua makhluk-Nya)

Ditutup doa tersebut dengan Waatubu Ilaihi (Aku bertaubat kepada-Nya) mengandung keinginan kuat dari hamba untuk bertaubat (kembali) kepada Allah Tabaraka wa Ta’ala. Karenanya jika hamba mengucapkan kalimat ini hendaknya ia jujur dalam melafadzkannya pada dzahir & batinnya. Jika ia dusta, dikhawatirkan ia tertimpa kemurkaan Allah. (Lihat al-Fuuthaat al-Rabbaniyah: 3/701)

Allah siapkan balasan terbaik untuknya, yakni ampunan untuknya sehingga dihapuskan dosa-dosanya, ditutupi aib-aibnya, dilapangkan rizkinya, dijaga fisiknya, dipelihara hartanya, mendapat kucuran barakah, semakin meningkat kualitas agamanya, menjapatkan jaminan keamanan di dunia dan akhirat, dan mendapat keridhaan Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Dosa yang akan diampuni dengan doa istighfar ini bukan hanya dosa-dosa kecil, tapi juga dosa besar. Bahkan dosa yang terkategori min akbaril dzunub (dosa paling besar), yaitu lari dari medan perang, “. . . walaupun ia pernah lari dari medan perang.”

Lari dari medan perang adalah lari meninggalkan medan jihad fi sabilillah saat berkecamuk peperangan melawan orang kafir. Ini menunjukkan bahwa melalui doa istighfar yang agung ini Allah akan mengampuni dosa-dosa terbesar yang tidak memiliki konsekuensi hukuman jiwa dan harta seperti lari dari medan perang dan dosa-dosa semisalnya. Jika hamba mengucapkan doa di atas dengan ikhlash, jujur, memahami makna-maknanya; niscaya ia akan mendapatkan kabar gembira maghfirah yang agung ini.

Penutup

Setiap diri kita dipenuhi dosa dan kesalahan; bisa berupa tidak menunaikan kesyukuran, tidak menunaikan perintahnya, tidak meninggalkan larangan-Nya, menyia-nyiakan kesempatan yang dibeirkan-Nya, lalai dari mengingat-Nya, dan sebagainya. Dosa-dosa tersebut akan membuat sesak dada, menghilangkan keberkahan hidup, mempersempit rizki, membuat berat menjalankan ketaatan, menjadi sebab datangnya berbagai kesulitan, dan di akhirat menjadi sebab kegelapan dan kesengsaraan. Karenanya setiap kita membutuhkan ampunan Allah setiap saat. Doa istighfar ini menjadi salah satu alternatif dan saranan meraih ampunan-Nya. Wallahu A’lam.

Continue Reading
Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Islamik

Ini Penjelasan Mufti Mengenai Hukum Tinggalkan 3 Kali Solat Jumaat Kerana Covid

Published

on

Ini Penjelasan Mufti Mengenai Hukum Tinggalkan 3 Kali Solat Jumaat Kerana Covid

Sejak penularan meluas COVID-19 di seluruh Malaysia, semua aktiviti yang melibatkan perhimpunan dibatalkan termasuklah aktiviti keagamaan.

Hasil perbincangan antara mufti-mufti dan pakar kesihatan, ahli agama mengambil keputusan untuk menghentikan solat Jumaat di semua masjid di seluruh negara.

Justeru, hal ini menimbulkan tanda tanya bagi sebahagian netizen yang keliru sama ada mereka termasuk dalam golongan diancam amaran jika meninggalkan solat Jumaat tiga kali berturut-turut ataupun terkecuali dari golongan tersebut.

Berikut merupakan soalan netizen dan jawapan Mufti Wilayah Persekutuan bagi isu ini.

Soalan :

Assalamu’alaikum ustaz, sekiranya ditakdirkan Perintah Kawalan Pergerakan yang turut melibatkan larangan menghadiri solat Jumaat dan solat berjemaah sekarang ini akan dipanjangkan tempohnya, adakah saya termasuk dalam amaran yang terdapat dalam hadis berkenaan mereka yang meninggalkan solat Jumaat tiga kali berturut-turut itu ? Mohon penjelasan.

Jawapan :

Wa’alaikumussalam w.b.t. Alhamdulillah segala puji dan syukur kami panjatkan kepada Allah S.W.T. Selawat dan salam kami ucapakan ke atas junjungan besar Nabi Muhammad S.A.W, para isteri dan keluarga baginda, para sahabat, seterusnya golongan yang mengikut jejak langkah baginda sehingga hari kiamat.

Menghadiri solat Jumaat merupakan salah satu tuntutan syarak kepada setiap lelaki beragama Islam yang mukallaf. Ini berdasarkan firman Allah S.W.T :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا نُودِيَ لِلصَّلَاةِ مِن يَوْمِ الْجُمُعَةِ فَاسْعَوْا إِلَىٰ ذِكْرِ اللَّـهِ وَذَرُوا الْبَيْعَ ۚ ذَٰلِكُمْ خَيْرٌ لَّكُمْ إِن كُنتُمْ تَعْلَمُونَ

Maksudnya : Wahai orang-orang yang beriman apabila diserukan azan untuk mengerjakan sembahyang pada hari Jumaat, maka segeralah kamu pergi (ke masjid) untuk mengingati Allah (dengan mengerjakan sembahyang Jumaat) dan tinggalkanlah berjual-beli (pada saat itu), yang demikian adalah baik bagi kamu, jika kamu mengetahui (hakikat yang sebenarnya).”

Surah Al-Jumu‘ah (9)

Maka dapat difahami bahawa menghadiri dan mendirikan kewajipan solat Jumaat merupakan ciri seorang mukmin yang mendahulukan tanggungjawab seorang hamba kepada Allah S.W.T mengatasi sebarang kepentingan duniawi seperti berjual beli pada masa tersebut.

Diberi keringanan dengan keuzuran

Meskipun begitu, tuntutan menghadiri solat Jumaat secara berjemaah ini diberikan keringanan kepada mereka yang mempunyai keuzuran yang diambil kira di sisi syarak untuk tidak menghadirinya. Ini berdasarkan sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Ibn Abbas R.Anhuma beliau berkata bahawa Rasulullah S.A.W bersabda :

مَنْ سَمِعَ النِّدَاءَ فَلَمْ يَأْتِهِ فَلاَ صَلاَةَ لَهُ إِلاَّ مِنْ عُذْرٍ

Maksudnya : Sesiapa yang mendengar seruan azan kemudian tidak mendatanginya (pergi ke masjid) maka tidak sempurna solatnya, melainkan disebabkan keuzuran.

Riwayat Ibn Majah (793)

Menurut hadis di atas, secara asasnya seseorang itu dituntut untuk menghadiri solat berjemaah sekiranya dia mendengar panggilan azan. Meskipun begitu, jika ada keuzuran tertentu maka dia diberi pengecualian untuk hadir menyahut seruan tersebut.

Maksud keuzuran

Manakala dalam sebuah riwayat yang lain, para sahabat bertanya kepada Rasulullah S.A.W apakah yang dimaksudkan dengan keuzuran ? Maka Rasulullah S.A.W. menjawab :

خَوْفٌ أَوْ مَرَضٌ

Maksudnya : Perasaan takut ataupun sakit.

Riwayat Abu Daud (551)

Maka jelas daripada hadis di atas bahawa perasaan takut atau sakit termasuk dalam kategori uzur yang membolehkan seseorang itu untuk tidak hadir ke masjid bagi solat berjamaah.

Kemudian para fuqaha memperincikan lagi akan tahap ketakutan yang membolehkan seseorang itu tidak menghadiri solat berjemaah dan juga solat Jumaat. Ini seperti yang disebutkan oleh Syeikh Ali al-Qaradaghi seperti berikut :

‘’Harus untuk meninggalkan solat Jumaat dan solat berjemaah dalam keadaan virus yang sedang tersebar disebabkan oleh perasaan takut dijangkiti virus tersebut.’’

Beliau juga menyebut bahawa keharusan tersebut perlulah disyaratkan dari sudut ketakutan penyebaran itu benar-benar yakin berlaku dan bukanlah pada sangkaan semata-mata. Rujuk https://bit.ly/2WvN367

Justeru, bertitik tolak dari nasihat dan pandangan pakar yang berautoriti berkenaan cepatnya Covid-19 ini merebak, maka dikeluarkan arahan supaya segala aktiviti solat berjemaah dan solat Jumaat di masjid dihentikan sementara waktu. Maka ketidakhadiran umat Islam ke masjid pada tempoh ini merupakan suatu keuzuran yang diambil kira di sisi syarak iaitu wujudnya perasaan takut akan jangkitan virus ini.

Hukum tinggalkan tiga kali berturut-turut

Berbalik kepada persoalan yang dikemukakan di atas, kami menyatakan bahawa memang benar terdapatnya ancaman terhadap mereka yang meninggalkan solat Jumaat sebanyak tiga kali secara berturut-turut di sisi syarak. Ini berdasarkan sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Abu al-Ja’d al-Dhamri (sebahagian menyatakan Al-Dhumairi) R.A beliau berkata bahawa Rasulullah S.A.W bersabda :

مَنْ تَرَكَ ثَلاَثَ جُمَعٍ تَهَاوُنًا بِهَا طَبَعَ اللَّهُ عَلَى قَلْبِهِ

Maksudnya : Sesiapa yang meninggalkan tiga kali solat jumaat kerana mengambil mudah akannya, nescaya Allah akan mengunci jantung hatinya.

Riwayat Abu Daud (1052)

Manakala dalam sebuah riwayat yang lain daripada Jabir bin Abdillah R.A beliau berkata bahawa Rasulullah S.A.W bersabda :

مَنْ تَرَكَ الْجُمُعَةَ ثَلاَثًا مِنْ غَيْرِ ضَرُورَةٍ طَبَعَ اللَّهُ عَلَى قَلْبِهِ

Maksudnya : Sesiapa yang meninggalkan solat Jumaat sebanyak tiga kali tanpa sebarang dharurat maka Allah akan mengunci mati jantung hatinya.

Riwayat Al-Nasa’ie (1370)

Kedua riwayat hadis di atas jelas menunjukkan kepada kita ancaman dan amaran yang terdapat di dalam hadis tersebut terikat dengan keadaan meninggalkan solat Jumaat kerana mengambil enteng, meremehkan ia, serta meninggalkan perlaksanaannya tanpa sebarang dharurat.

Syeikh Badruddin al-‘Aini dalam syarahan beliau terhadap hadis riwayat Abu Daud di atas berkata :

‘’Bab ini menjelaskan tentang kerasnya ancaman bagi perbuatan meninggalkan solat Jumaat tanpa sebarang keuzuran’’. Beliau menambah, perkataan تهاونا بها membawa masud : ‘’(Meninggalkannya) kerana malas serta culas dalam melakukannya’’. Rujuk Syarah Abi Daud, Badr al-Din al-‘Aini (4/371).

Manakala Mulla ‘Ali al-Qari ketika mengulas hadis tersebut menukilkan kata-kata Al-Thibi yang menyebut : ‘’(Iaitu meninggalkannya dengan tujuan menghina)’’. Kemudian dinukilkan pendapat ulama lain yang menyebut : ‘’Meninggalkannya kerana mengambil mudah’’. Rujuk Mirqaat al-Mafatih, Mulla ‘Ali al-Qari (3/1024).

Ancaman buat mereka yang tiada keuzuran

Maka jelas kepada kita bahawa ancaman yang dimaksudkan di dalam hadis di atas merupakan ke atas mereka yang meninggalkannya tanpa sebarang keuzuran yang dibenarkan di sisi syarak. Manakala mereka yang meninggalkan solat Jumaat disebabkan ada keuzuran, maka mereka tidak termasuk dalam ancaman tersebut. Sebaliknya, diberikan ganjaran sama seperti yang disebutkan oleh Rasulullah S.A.W :

إِذَا مَرِضَ الْعَبْدُ أَوْ سَافَرَ، كُتِبَ لَهُ مِثْلُ مَا كَانَ يَعْمَلُ مُقِيمًا صَحِيحًا

Maksudnya : Apabila seseorang hamba itu sakit atau bermusafir, akan ditulis buat dirinya ganjaran sama seperti yang diamalkannya semasa bermukim atau sihat.

Riwayat Al-Bukhari (2996)

Penjelasan panjang lebar berkenaan hal ini boleh dirujuk kepada Al-Kafi #1661: Ganjaran Solat Berjemaah Di Rumah Jika Meninggalkan Perlaksanaannya Di Masjid Disebabkan Keuzuran.

Kesimpulan

Sebagai kesimpulan, setelah kami meneliti beberapa nas dan hujahan yang dikemukakan di atas, maka kami berpendapat sekiranya tempoh kawalan pergerakan ini mengambil masa yang lama sehingga membawa kepada terlepasnya perlaksanaan solat Jumaat sebanyak tiga kali, mengambil kira faktor takut merebaknya Covid-19 dengan lebih meluas, maka mereka yang meninggalkan solat Jumaat disebabkan keuzuran ini tidak termasuk di dalam ancaman yang terdapat di dalam hadis-hadis tersebut. Wallahu A’lam.

Akhir kalam, kami berdoa kepada Allah S.W.T agar memberikan kefahaman yang tepat kepada kita semua dalam beragama. Ameen.

Sumber: Mufti Wilayah Persekutuan

Continue Reading

Islamik

Inilah 12 Hikmah dan Kebaikan Polig4mi Dalam Islam

Published

on

Inilah 12 Hikmah dan Kebaikan Polig4mi Dalam Islam

Apabila membicarakan hukum berpolig4mi terdapat 3 hukum yang ditetapkan oleh Islam iaitu harus, tidak dibenarkan dan digalakkan (istihbaab)

Firman Allah S.W.T. :

{وَإِنْ خِفْتُمْ أَلَّا تُقْسِطُوا فِي الْيَتَامَى فَانْكِحُوا مَا طَابَ لَكُمْ مِنَ النِّسَاءِ مَثْنَى وَثُلَاثَ وَرُبَاعَ}

Maksudnya : “Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yatim (bilamana kamu mengawininya), maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi: dua, tiga, atau empat”

(Surah an-Nisaa’ ayat 3).

Perintah Allah dalam ayat ini tidak menunjukkan wajibnya polig4mi, kerana perintah tersebut ada dijelaskan dengan ayat yang lain iaitu firman-Nya,

{فَإِنْ خِفْتُمْ أَلَّا تَعْدِلُوا فَوَاحِدَةً أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ ذَلِكَ أَدْنَى أَلَّا تَعُولُوا}

Maksudnya : “Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (kawinilah) seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya” (Surah an-Nisaa’ ayat 3).

Maka dengan adanya ayat ini, jelaslah bahwa ayat di atas meskipun berbentuk perintah, akan tetapi maknanya adalah larangan, iaitu larangan menikahi lebih dari satu wanita jika dikhawatirkan tidak dapat berbuat adil atau maknanya, “Janganlah kamu menikahi kecuali wanita yang kamu senangi”.

Ini seperti makna yang ditunjukkan dalam firman-Nya,

{وَقُلِ الْحَقُّ مِنْ رَبِّكُمْ فَمَنْ شَاءَ فَلْيُؤْمِنْ وَمَنْ شَاءَ فَلْيَكْفُرْ}

Maksudnya : “Dan katakanlah:’Kebenaran itu datangnya dari Rabbmu; maka barangsiapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan barangsiapa yang ingin (kafir) biarlah ia kafir”

(Surah al-Kahfi:29).

Maka tentu saja makna ayat ini adalah larangan melakukan perbuatan kafir dan bukan perintah untuk melakukannya.

Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Abdulah bin Baz ketika ditanya, “Apakah polig4mi dalam Islam hukumya mubah (boleh) atau dianjurkan?”

Beliau menjawab : “Polig4mi hukumnya disunnahkan (dianjurkan) bagi yang mampu, kerana firman Allah Ta’ala (beliau menyabutkan ayat tersebut di atas), dan kerana perbuatan Rasulullah S.A.W. menikahi sembilan orang wanita, Allah memberi manfaat (besar) bagi umat ini dengan adanya para isteri Nabi S.A.W. tersebut, dan ini (menikahi sembilan orang wanita adalah khusus untuk baginda sahaja.)

Adapun selain daripada Nabi S.A.W. boleh bernikah tidak lebih dari empat orang wanita. Kerana dalam polig4mi banyak terdapat kemaslahatan/kebaikan yang agung bagi kaum lelaki maupun wanita, bahkan bagi seluruh umat Islam. Sebab dengan polig4mi akan memudahkan bagi lelaki maupun wanita untuk menundukkan pandangan, menjaga kemaluan (kesucian), memperbanyak (jumlah) keturunan, dan (memudahkan) bagi lelaki untuk memimpin beberapa orang wanita dan membimbing mereka kepada kebaikan, serta menjaga mereka dari sebab-sebab keburukan dan penyimpangan.

Adapun bagi yang tidak mampu melakukan itu dan khawatir berbuat tidak adil, maka cukuplah dia menikahi seorang wanita (saja), kerana Allah Ta’ala berfirman,

{فَإِنْ خِفْتُمْ أَلَّا تَعْدِلُوا فَوَاحِدَةً أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ ذَلِكَ أَدْنَى أَلَّا تَعُولُوا}

Maksudnya : “Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (kawinilah) seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya” (Surah an-Nisaa’ ayat 3).

Semoga Allah senantiasa memberi taufik-Nya kepada semua kaum muslimin untuk kebaikan dan keselamatan mereka di dunia dan akhirat.

Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin berkata, “…Seorang laki-laki jika dia mampu dengan harta, badan (tenaga) dan hukumnya (bersikap adil), maka lebih utama (baginya) untuk menikahi dua sampai empat orang wanita jika dia mampu. Dia mampu dengan fizikalnya (tenaga ba tin) sehingga dia mampu menunaikan hak yang khusus bagi isteri-isterinya. Dia juga mampu dengan hartanya sehingga dia boleh memberi nafkah yang layak bagi isteri-isterinya. Dan dia mampu pula dengan bersikap adil di antara mereka. Kalau dia mampu seperti ini maka hendaknya dia menikah (dengan lebih dari seorang wanita), semakin banyak wanita yang dinikahinya maka itu lebih utama.

Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata, “Orang yang terbaik di umat ini adalah yang paling banyak isterinya.”(tidak lebih daripada 4 isteri)

Hikmah dan kebaikan polig4mi:

Hukum polig4mi telah disyariatkan oleh Allah Ta’ala yang mempunyai nama al-Hakim, ertinya Zat yang memiliki ketentuan hukum yang Maha Adil dan yang Maha Sempurna, maka hukum Allah Ta’ala yang mulia ini tentu memiliki banyak hikmah dan faedah yang agung, di antaranya:

12 hikmah dan manfaat di dalam hukum berpolig4mi:

Pertama: Terkadang polig4mi harus dilakukan dalam keadaan tertentu. Misalnya jika isteri sudah lanjut usia atau sakit, sehingga kalau suami tidak polig4mi dikhawatirkan dia tidak boleh menjaga kehormatan dirinya. Atau jika suami dan isteri sudah dianugerahi banyak keturunan, sehingga kalau dia harus menceraikan isterinya, dia merasa berat untuk berpisah dengan anak-anaknya, sementara dia sendiri takut terjerumus dalam perbuatan zi na jika tidak berpolig4mi. Maka masalah ini tidak akan boleh diselesaikan kecuali dengan polig4mi, insya Allah.

Kedua: Pernikahan merupakan sebab terjalinnya hubungan (kekeluargaan) dan terikatnya di antara sesama manusia, setelah hubungan nasab. Allah Ta’ala berfirman,

{وَهُوَ الَّذِي خَلَقَ مِنَ الْمَاءِ بَشَرًا فَجَعَلَهُ نَسَبًا وَصِهْرًا وَكَانَ رَبُّكَ قَدِيرًا}

“Dan Dia-lah yang menciptakan manusia dari air (mani), lalu Dia jadikan manusia itu (punya) keturunan dan mushaharah (hubungan kekeluargaan kerana pernikahan), dan adalah Rabbmu Maha Kuasa” (Surah al-Furqaan ayat 54).

Maka polig4mi (adalah sebab) terjalinnya hubungan dan mendekatkan (antara) banyak keluarga, dan ini salah satu sebab polig4mi yang dilakukan oleh Rasulullah S.A.W.

Ketiga: Polig4mi merupakan sebab terjaganya (kehormatan) sejumlah besar wanita akan dapat dipenuhi keperluan hidup mereka dengan mendapat nafkah daripada suami , tempat tinggal, memiliki keturunan dan anak yang banyak, dan ini merupakan tuntutan syariat.

Keempat: Di antara kaum laki-laki ada yang memiliki nafsu syahwat yang tinggi sehingga tidak cukup baginya hanya memiliki seorang isteri, sedangkan dia orang yang baik dan selalu menjaga kehormatan dirinya. Akan tetapi dia takut terjerumus dalam perzin aan dan dia ingin menyalurkan keperluan syahwatnya ditempat yang halal . Jelaslah ini adalah rahmat Allah S.W.T. kepada manusia membenarkan polig4mi sesuai dengan syariat-Nya.

Kelima: Kadangkala setelah menikah ternyata isteri mandul, tetapi suami berkeinginan untuk mendapatkan zuriat keturunan. Maka berpolig4mi adalah lebih baik daripada suami menceraikan isterinya.

Keenam: Kadangkala juga seorang suami sering bermusafir untuk mencari nafkah, sehingga dia perlu untuk menjaga kehormatan dirinya ketika dia berada jauh daripada isterinya.Maka adalah lebih baik dia bernikah ditempat dia mencari nafkah.

Ketujuh: Banyaknya peperangan dan disyariatkannya berjihad di jalan Allah, yang ini menjadikan ramai lelaki yang terbunuh sedangkan jumlah wanita semakin ramai, padahal mereka perlukan suami untuk melindungi mereka. Maka dalam keadaan seperti ini polig4mi merupakan penyelesaian terbaik.

Kelapan: Kadangkala seorang lelaki tertarik atau kagum terhadap seorang wanita atau sebaliknya, kerana kebaikan agama atau akhlaknya, maka pernikahan merupakan cara terbaik untuk menyatukan mereka berdua.

Kesembilan: Kadangkala terjadi masalah besar antara suami-isteri, yang menyebabkan terjadinya perceraian, kemudian suami menikah lagi dan setelah itu dia ingin kembali kepada isterinya yang pertama, maka dalam keadaan seperti ini polig4mi merupakan penyelesaian terbaik.

Kesepuluh: Umat Islam sangat memerlukan lahirnya banyak generasi muda, untuk mengukohkan barisan dan persiapan berjihad melawan orang-orang kafir, ini hanya akan boleh diperolehi dengan polig4mi dan tidak membataskan jumlah keturunan.

Kesebelas: Termasuk hikmah yang lain dengan suami berpolig4mi, seorang isteri memiliki kesempatan lebih besar untuk menuntut ilmu, membaca al-Quran dan mengurus rumahnya dengan baik, ketika suaminya sedang di rumah isterinya yang lain. Kesempatan seperti ini umumnya tidak didapatkan oleh isteri yang suaminya tidak berpolig4mi.

Keduabelas: Dan termasuk hikmah dan kebaikan polig4mi, semakin kuatnya ikatan cinta dan kasih sayang antara suami dengan isteri-isterinya. Kerana setiap kali tiba waktu giliran salah satu dari isteri-isterinya, maka suami dalam keadaan sangat rindu pada isterinya tersebut, demikian pula isteri sangat merindukan suaminya. Masing-masing isteri cuba memberi khidmat terbaik kepada suami mereka, keadaan ini hanya berlaku dengan adanya polig4mi.

Sahabat yang dimuliakan,

Masih terdapat banyak hikmah dan kebaikan lainnya, yang tentu saja orang yang beriman kepada Allah dan orang bertakwa meyakini akan kebenaran hukum-hukum Allah S.W.T. dan tidak ragu-ragu walaupun sedikit daripadanya.

Wahai kaum wanita yang mukmin!

Yakinlah bahawa setiap hukum yang disyariatkan oleh Allah S.W.T mengandungi hikmah dan kebaikan yang tidak dapat dijangkau oleh pemikiran kita. Walaupun mungkin kalian berat untuk menerimanya tetapi bila hati kalian dididik dengan asas iman dan takwa dan meletakkan kepentingan Allah dan Rasul-Nya melebihi kepentingan diri kalian maka kalian akan mencapai tahap wanita solehah. Tidak ada tempat yang paling baik untuk wanita solehah melainkan syurga Allah S.W.T seluas langit dan bumi.

Janganlah kalian terbawa-bawa dengan wanita barat dan wanita sekular yang membenci polig4mi dan menganggap hukum polig4mi ini adalah merampas hak wanita dan merendahkan darjat kaum wanita. Kelemahan sebahagian daripada kaum lelaki yang mengamalkan polig4mi bukannya alasan bahawa polig4mi itu membawa kemudaratan. Yakinilah bahawa kehidupan sebenar adalah di hari akhirat di dunia ini adalah medan ujian untuk menguji lelaki dan wanita siapakan di antara mereka yang taat dan patuh kepada-Nya dan menjadi orang-orang yang bertakwa.

Continue Reading

Islamik

Subhanallah! Inilah Makna 6 Tiang Di Dalam Raudhah Masjid Nabawi Tempat Paling Mustajab Doa

Published

on

Ramadan yang bakal tiba kurang dalam tempoh dua bulan ini pasti membuatkan ramai umat Islam yang berkemampuan memilih melakukan ibadah umrah di sana. Tidak hanya ketika Ramadan, Makkah dan Madinah, bumi yang sentiasa barakah ini sentiasa menjadi pilihan umat Islam untuk dikunjungi.

Jika anda berpeluang mengerjakan umrah dan mungkin haji dalam masa terdekat ini, ketahui makna di sebalik 6 tiang yang ada di dalam Raudhah yang selalu dikatakan sebagai tempat paling mustajab untuk berdoa. Masjid Nabawi sering menerima kunjungan umat islam kerana di dalamnya terletak Makam Nabi dan juga Raudhah, tempat paling mustajab untuk berdoa

Perkongsian ini telah dikongsikan oleh saudara Azrul Azbani di fbnya berkenaan maksud di sebalik 6 tiang ini. Ia bukan sekadar tiang tetapi punyai makna yang mendalam untuk kita merasai lebih dekat dengan baginda Rasulullah SAW. Semoga kita menjadi insan terpilih di hari akhirat kelak.

Jom kita kenali 6 tiang-tiang penting yang ada di dalam Raudhah. Tiang-tiang ini bukan sebarang tiang kerana suatu masa dahulu tiang-tiang ini ada kisah-kisah yang hebat di sebaliknya. Antara Tiang tersebut ialah:-

Tiang Sarir– Tiang ini ialah tiang di mana suatu masa dahulu adalah tiang di mana tempat Nabi Muhammad berehat dan di sini dahulu ada pangkin di mana Saidatina Aishah R.A menyikat dan menyisir rambut Nabi (anak panah warna hijau).

 Tiang Ali / Tiang Pengawal– Tiang ini dahulu adalah tiang yang digunakan pengawal sebagai port untuk mengawal rumah Nabi Muhammad S.A.W, di mana pengawalnya diketuai oleh Saidina Ali.

Tiang ini merupakan tempat pertemuan Rasulullah dengan orang luar yang mahu bertemu Baginda.

Tiang Wufud (Deligasi) – Suatu masa dahulu di tiang ini digunakan oleh Nabi Muhammad untuk berjumpa dengan pemimpin dari delegasi luar yang datang ke Madinah untuk berjumpa dengan Baginda.

Allahuakbar. Inilah Tiang Aishah yang juga amat disukai oleh sahabat Rasullah iaitu Saidina Abu Bakar dan Saidini Umat kerana inilah tiang Rasulullah selalu lakukan solat tahajut dan solat taubat.

Tiang Aishah – Tiang ni sangat istimewa, di mana di tiang inilah Nabi Muhammad selalu mengerjakan solat Tahajut dan solat Taubat setiap malam. Tiang ini juga turut disukai oleh Saidina Abu Barq dan Saidina Umar. Kalau kita masuk ke dalam Raudhah, cubalah untuk bersolat di tepi atau belakang tiang ni. Mintak doa banyak-banyak.

Hanya kerana berbohong kepada Rasulullah, Abu Lubabah mengikat dirinya tiga hari di tiang ini kerana berasa malu dengan perbuatannya

Tiang Abu Lubabah (Tiang Taubat) – Tiang ini adalah tiang Abu Lubabah yang telah melakukan kesilapan dengan berbohong kepada Nabi Muhammad, akibat rasa bersalah pada Nabi Muhammad dia mengikat dirinya di tiang ini selama 3 hari. Dan tiang ini digelar tiang taubat Abu Lubabah.

Jika sebatang pohon kurma pun menangis jika ditinggalkan Rasulullah hingga baginda memujuknya, kita sebagai khalifah juga seharusnya berusaha untuk lebih dekat dengan sentiasa berselawat kepada Nabi Muhammad saw (tanda oren)

Tiang Muhallaqah – Tiang ni dahulu adalah sebatang pokok kurma, batang pokok ini menangis dan bunyinya seperti seekor anak unta kerana dia tidak mahu ditukarkan dengan batang pokok yang baharu. Lalu Nabi Muhammad berkata kepada pokok tu, “hang akan kekal dengn aku di syurga dengan batang pokok macam ni” barulah pokok kurma ini diam dan ditukar dengan tiang yang baru. Tiang ini juga dikenali dengan tiang wangi.

Mehrab Nabi – Ini Mehrab Nabi (Mehrab baru) di Mehrab inilah nabi gunakan untuk solat berjemaah bersama sahabat-sahabat beliau. Kalau tuan-tuan berpeluang masuk ke dalam Raudhah cubalah untuk solat betul-betul depan mehrab ini, tuan-tuan seolah-oleh telah bersujud di telapak kaki Nabi. Di Mehrab ini juga Saidina Umar ditikam oleh Abu lulu’ah al-majusi semasa beliau mengimamkan solat subuh.

Saya sharekan maklumat ni kepada semua. Kadang-kadang jemaah masuk Raudhah depa tak tau nak tuju untuk solat dan berdoa di tempat-tempat yang mustajab untuk berdoa, asalkan masuk Raudhah solat saja kat mana yang boleh. So sekarang dah tau la port mana yang nak ditujui.

Sumber: Azrul Zabani

Continue Reading

Trending