Connect with us

Islamik

Inilah 12 Fasa Selepas Kema tian. Subhanallah!

Published

on

Setiap manusia akan melalui 12 fasa (tempat, persingahan) yang penuh azab bagi yang melakukan banyak dosa dan maksiat, sebaliknya keamanan dan kebahagiaan bagi yang banyak beramal soleh. Ketika ini tidak ada siapa yang dapat membantu melainkan amalan yang dilakukannya semasa di dunia.

Pertama: Alam Barzakh

Para ulama bersepakat tentang kebenaran azab dan nikmat yang ada di alam kubur (barzakh). Nikmat tersebut merupakan nikmat yang hakiki, begitu pula azabnya, bukan sekadar bayangan atau perasaan.

Pertanyaan (fitnah) kubur itu berlaku terhadap roh dan jasad manusia baik orang mukmin mahupun bukan. Dalam sebuah hadis sahih disebutkan Rasulullah SAW selalu berlindung kepada Allah SWT dari seksa kubur.

Nabi S.A.W. mengajar kita agar sentiasa berdoa dan mohon perlindungan Allah S.W.T. ketika habis membaca tasyahhud akhir kepada empat perkara.

Sebagaimana sabdanya yang bermaksud, “Bila seseorang selesai membaca tasyahhud (akhir), hendaklah ia memohon perlindungan kepada Allah empat perkara, iaitu, ‘Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari seksa Neraka Jahannam, dari seksa kubur, dari fitnah hidup dan ma ti dan dari fitnah al-Masih Dajjal’. (Selanjutnya, hendaklah ia berdoa memohon kebaikan untuk dirinya sesuai kepentingannya)”. Hadis Riwayat Muslim, Abu ‘Awanah, Nasa’i dan Ibnu jarud dalam al-muntaqa.

Rasulullah SAW menyebutkan sebahagian dari pelaku maksiat yang akan mendapatkan azab kubur, diantaranya mereka adalah:

1. Suka mengadu domba, fitnah dan mengumpat.

2. Suka berbuat ghulul (pengkhianatan dalam baitul mal, zakat, atau ghanimah.)

3. Suka berbohong.

4. Membaca al-Quran tetapi tidak melaksanakan apa yang diperintahkan dan yang dilarang dalam al-Qur’an.

5. Melakukan zina.

6. Memakan riba.

7. Belum membayar hutang setelah ma ti (orang yang berhutang akan tertahan tidak masuk syurga kerana hutangnya).

8. Tidak bersuci setelah buang air kecil (solatnya tidak sah).

9. Meninggalkan solat 5 waktu.

Kedua: Peniupan Sangkakala

Sangkakala adalah trompet yang ditiup oleh malaikat Israfil yang menunggu apabila diperintahkan Allah SWT. Tiupan yang pertama akan mengejutkan manusia dan membinasakan mereka dengan kehendak Allah SWT, seperti dijelaskan pada al-Qur’an.

Firman Allah SWT, “Dan ditiuplah sangkakala maka ma tilah semua yang di langit dan di bumi, kecuali apa yang dikehendaki oleh Allah SWT.” Surah az- Zumar ayat 68.

Tiupan ini akan menggoncang seluruh alam dengan goncangan yang keras dan hebat sehingga merosak seluruh susunan alam yang sempurna ini.

Ia akan membuatkan gunung menjadi rata, bintang bertaburan, matahari digulung, lalu hilanglah cahaya seluruh benda di alam semesta. Setelah itu keadaan alam semesta kembali seperti awal penciptaannya.

Allah SWT menggambarkan kedahsyatan saat kehancuran tersebut sebagaimana firman-Nya yang bermaksud, “Hai manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu; sesungguhnya kegoncangan hari kiamat itu adalah suatu kejadian yang sangat besar (dahsyat). (Ingatlah) pada hari (ketika) kamu melihat kegoncangan itu, lalailah semua wanita yang menyusui anaknya dari anak yang disusuinya dan gugurlah kandungan segala wanita yang hamil, dan kamu lihat manusia dalam keadaan mabuk, padahal sebenarnya mereka tidak mabuk, akan tetapi azab Allah itu sangat keras.” Surah al-Hajj ayat 1-2.

Sedangkan pada tiupan sangkakala yang kedua adalah tiupan untuk membangkitkan seluruh manusia; Firman Allah SWT maksudnya, “Dan tiupan sangkakala (kedua), maka tiba-tiba mereka keluar dengan segera dari kuburnya (menuju) kepada Rabb mereka. Surah Yaa Siin ayat: 51

Rasulullah SAW bersabda maksudnya, “Kemudian ditiuplah sangkakala, dimana tidak seorang pun tersisa kecuali semuanya akan dibinasakan. Lalu Allah SWT menurunkan hujan seperti embun atau bayang-bayang, lalu tumbuhlah jasad manusia. Kemudian sangkakala yang kedua ditiup kembali dan manusia pun bermunculan (bangkit) dan berdiri.” Hadis Riwayat Muslim

Ketiga: Hari Kebangkitan

Firman Allah SWT maksudnya, “Pada hari ketika mereka dibangkitkan Allah semuanya, lalu diberitakannya kepada mereka apa yang telah mereka kerjakan. Allah mengumpulkan (mencatat) perbuatan itu, padahal mereka telah melupakannya. Dan Allah Maha menyaksikan segala sesuatu.” Surah al- Mujadalah ayat: 6

Keempat: Padang Mahsyar

Firman Allah SWT maksudnya, “(Iaitu) pada hari (ketika) bumi diganti dengan bumi yang lain dan (demikian pula) langit dan mereka (manusia) berkumpul (di padang Mahsyar) menghadap Allah Yang Maha Esa lagi Maha Perkasa.” Surah Ibrahim ayat 48

Hasr adalah pengumpulan seluruh makhluk pada hari kiamat untuk dihisab dan diambil keputusannaya. Lamanya di Padang Mahsyar adalah satu hari yang berbanding 50,000 tahun di dunia.

Allah berfirman maksudnya, “Malaikat-malaikat dan Jibril naik (menghadap) kepada Rabb dalam sehari yang kadarnya 50,000 tahun. Surah al-Maarij ayat 4

Kerana amat lamanya hari itu, manusia merasa hidup mereka di dunia ini hanya seperti satu jam saja.

Firman-Nya lagi yang bermaksud, “Dan (ingatlah) akan hari (yang di waktu itu) Allah mengumpulkan mereka, (mereka merasa di hari itu) seakan-akan mereka tidak pernah berdiam (di dunia) kecuali hanya sesaat saja di siang hari. Surah Yunus ayat 45

“Dan pada hari terjadinya kiamat, bersumpahlah orang-orang yang berdosa, bahawa mereka tidak berdiam (dalam kubur) melainkan sesaat saja.” Surah ar-Ruum ayat 55

Adapun orang yang beriman merasakan lama pada hari itu seperti waktu antara zuhur dan asar saja. Subhanallah.

Keadaan orang kafir saat itu sebagaimana firman-Nya yang bermaksud, ”Orang kafir ingin seandainya ia dapat menebus dirinya dari azab hari itu dengan anak-anaknya, dengan isteri serta saudaranya, dan kaum keluarganya yang melindunginya ketika di dunia, dan orang-orang di atas bumi seluruhnya, kemudian (mengharapkan) tebusan itu dapat menyelamatkannya.” Surah al-Ma’ arij ayat 11-14

Terdapat 7 golongan yang akan mendapat perlindungan Arasy:

Abu Hurairah ra telah meriwayatkan bahawa Rasulullah SAW telah bersabda maksudnya, ”Terdapat 7 golongan yang akan mendapat lindungan ‘Arasy-Nya pada hari yang tiada lindungan melainkan lindungan daripadaNya. Pemimpin yang adil; pemuda yang masanya dihabiskan untuk beribadah kepada Allah SWT; seseorang yang hatinya terpaut pada masjid, dua lelaki yang berkasih sayang dan bertemu dan berpisah kerana Allah SWT; lelaki yang digoda oleh perempuan cantik dan berpengaruh untuk melakukan maksiat tetapi dia menolak dengan mengatakan ‘aku Takutkan Alla’; seseorang yang bersedekah dan menyembunyikannya sehinggakan tangan kanannya tidak mengetahui apa yang diberikan oleh tangan kirinya; seseorang yang mengingati Allah ketika bersendirian sehinggakan mengalir air matanya kerana Allah SWT.” Hadis Riwayat Muslim

Kelima: Syafaat (pertolongan)

Syafaat ini khusus hanya untuk umat Islam, dengan syarat tidak berbuat syirik yang menyebabkan kepada kekafiran. Adapun bagi orang musyrik, kafir dan munafik, maka tidak ada syafaat bagi mereka. Syafaat ini diberikan oleh Rasulullah SAW kepada umat Muslim (dengan izin dari Allah SWT).

Sabda Rasulullah SAW yang bermaksud, “Diantara syafaatku ialah untuk orang yang melakukan doas besar dikalangan umatku.” Hadis Riwayat Abu Daud

Sabda Rasulullah SAW yang bermaksud, “…maka para malaikat telah memberi syafaat, para nabi sudah memberi syafaat, orang-orang beriman telah pun memberi syafaat, maka tidak ada lagi kecuali Zat Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Kemudian setelah berkata demikian Allah mengambil dengan sekali genggaman-Nya itu dari neraka orang-orang yang belum pernah berbuat kebaikan sedikitpun…” Hadis Riwayat Muslim

Keenam: Hisab

Pada tahap (fasa) ini, Allah SWT menunjukkan amal-amal yang mereka perbuat dan ucapan yang mereka lontarkan, serta segala yang terjadi dalam kehidupan dunia baik berupa keimanan, amal soleh atau kekafiran.

Setiap manusia berlutut di atas lutut mereka. Firman Allah SWT maksudnya, “Dan kamu lihat tiap-tiap umat dipanggil untuk (melihat) buku catatan amalnya. Pada hari itu kamu diberi balasan terhadap apa yang kamu kerjakan. Surah al- Jatsiah ayat 28

Umat yang pertama kali dihisab adalah umat Muhammad SAW, umat yang terakhir tapi yang pertama dihisab. Yang pertama kali dihisab dari hak-hak Allah pada seorang hamba adalah solatnya, sedang yang pertama kali di adili diantara manusia adalah urusan darah.

Allah SWT mengatakan kepada orang kafir, “Dan kamu tidak melakukan suatu pekerjaan melainkan Kami menjadi saksi atasmu diwaktu kamu melakukannya.” Surah Yunus ayat 61

Seluruh anggota badan juga akan menjadi saksi.

Allah bertanya kepada hamba-Nya tentang apa yang telah ia kerjakan di dunia, “Maka demi Rabbmu, kami pasti akan menanyai mereka semua tentang apa yang akan mereka kerjakan dahulu.” Surah al- Hijr ayat 92-93

Nabi SAW bersabda yang bermaksud, “Tidak berganjak kedua-dua kaki seorang hamba pada hari kiamat sehingga ia disoal mengenai umurnya pada perkara apakah ia habiskan, ilmunya untuk apakah ia gunakan, harta bendanya dari manakah ia peroleh dan pada apakah ia belanjakan, mengenai tentang tubuh badannya pada perkara apakah ia susutkan kemudaan serta kecergasannya.” Hadis Riwayat Tarmizi

Ketujuh: Pembagian catatan amal

Pada detik-detik terakhir hari perhitungan, setiap hamba akan diberi kitab (amal) nya yang mencakup lembaran-lembaran yang lengkap tentang amalan yang telah ia kerjakan di dunia.

Al Kitab di sini merupakan lembaran-lembaran yang berisi catatan amal yang ditulis oleh malaikat yang ditugaskan oleh Allah SWT.

Manusia yang baik amalnya selama di dunia, akan menerima catatan amal dari sebelah kanan. Sedangkan manusia yang buruk amalnya akan menerima catatan amal dari belakang dan sebelah kiri, seperti pada firman Allah SWT yang bermaksud, “Adapun orang yang diberikan kitabnya dari sebelah kanannya, maka ia akan diperiksa dengan pemeriksaan yang mudah, dan ia akan kembali kepada kaumnya (yang sama-sama beriman) dengan gembira.

“Adapun orang yang diberikan kitabnya dari belakang, maka ia akan berteriak, “celakalah aku”, dan ia akan masuk ke dalam api yang menyala-nyala (neraka).” Surah al- Insyiqaq ayat 8-12

“Adapun orang yang diberikan kepadanya kitabnya dari sebelah kirinya, maka dia berkata, “Wahai alangkah baiknya kiranya tidak diberikan kepadaku kitabku (ini), dan aku tidak mengetahui apa hisab terhadap diriku. Wahai kiranya kema tian itulah yang menyelesaikan segala sesuatu. Hartaku sekali-kali tidak memberi manfaat kepadaku. Telah hilang kekuasaanku dariku” (Allah berfirman), “Peganglah dia lalu belenggulah tangannya ke lehernya”, kemudian masukkanlah dia ke dalam api neraka yang menyala-nyala.” Surah al- Haqqah ayat 25 -31

Kelapan: Mizan (Timbangan amal)

Mizan adalah apa yang Allah letakkan pada hari kiamat untuk menimbang amalan hamba-hamba-Nya.

Allah berfirman yang bermaksud, “Dan kami akan memasang timbangan yang tepat pada hari kiamat, maka tiadalah seorang dirugikan walau sedikitpun. Dan jika (amalan itu) hanya seberat biji sawi pun pasti Kami mendatangkan (pahala)nya. Dan cukuplah Kami sebagai Pembuat perhitungan.” Surah al- Anbiya ayat 47

Dari Abu Hurairah radhiya alläh ‘anh, ia berkata, “Sesungguhnya Rasulullah Sallallähu ‘Alaihi Wa sallam bersabda maksudnya, ‘Siapa yang pernah zalim terhadap saudaranya, maka hendaklah ia minta dihalalkan (mohon maaf) dari perbuatan tersebut. Kerana sesungguhnya pada saat itu tidak ada dinar dan tidak pula dirham, sebelum pahala kebaikannya diambil untuk saudaranya. Jika ia tidak mempunyai kebaikan, maka diambillah kejahatan-kejahatan saudaranya itu, dan dibebankanlah (dosanya) kepadanya.” Hadis Riwayat Bukhari

Untuk orang kafir mereka akan dimasukkan ke dalam neraka tanpa melalui Mizan. Hanya orang muslim saja akan melalui Mizan (timbangan amal). Selepas Mizan mereka akan melalui tahap selanjutnya iaitu ke Telaga.

Kesembilan: Telaga (al-Haudh)

Umat Muhammad SAW akan mendatangi air pada telaga Rasulullah SAW. Barang siapa minum dari telaga tersebut maka ia tidak akan haus selamanya.

Rasulullah SAW bersabda maksudnya, “Sesungguhnya aku telah mendahului kalian menuju al-haudh…” Hadis Riwayat Bukhari dan Muslim dari sahabat Sahl bin Sa’d

Perlu kita ketahui bahawa setiap para nabi memiliki telaga. Namun telaga Rasulullah SAW adalah yang paling besar, paling mulia, paling indah, dan paling banyak pengikutnya.

Hal ini berdasarkan sabda Nabi SAW yang bermaksud, “Sesungguhnya setiap Nabi memiliki telaga, mereka membanggakan diri, siapa di antara mereka yang paling banyak peminumnya (pengikutnya). Dan aku berharap, akulah yang paling banyak pengikutnya.” Hadis Riwayat Tirmidzi

Setelah Telaga, umat muslim akan ke tahap selanjutnya yaitu tahap Ujian Keimanan Seseorang. Perlu dicatat bahwa orang kafir dan orang yang berbuat syirik sudah masuk neraka (setelah tahap Mizan, seperti dijelaskan di atas).

Kesepuluh: Ujian Keimanan Seseorang

Selama di dunia, orang munafik terlihat seperti orang beriman kerana mereka menampakkan keislamannya. Pada fasa inilah kepalsuan iman mereka akan diketahui, diantaranya cahaya mereka redup.

Mereka tidak mampu bersujud sebagaimana sujudnya orang mukmin. Apabila dibawa mengadap, orang-orang munafik ini merayu-rayu agar orang-orang mukmin menunggu dan menuntun jalannya.

Kerana masa itu benar-benar gelap dan tidak ada petunjuk kecuali cahaya yang ada pada tubuh mereka.

Allah SWT berfirman maksudnya, ”Pada hari ketika orang-orang munafik laki-laki dan perempuan berkata kepada orang-orang beriman: ”Tunggulah kami supaya kami dapat mengambil sebahagian dari cahayamu”. Dikatakan (kepada mereka): ”Kembalilah kamu ke belakang dan carilah sendiri cahaya (untukmu)”. Lalu diadakan diantara mereka dinding yang mempunyai pintu.Di sebelah dalamnya ada rahmat da di sebelah luarnya dari situ ada siksa.Surah al- Hadid ayat 13

Setelah ini umat muslim yang lulus sampai tahap Ujian Keimanan seseorang itu, akan melalui Sirat.

Kesebelas: Sirat

Sirat adalah jambatan yang dibentangkan di atas Neraka Jahannam, untuk diseberangi orang-orang mukmin menuju ke syurga (jannah).

Sesungguhnya Rasulullah SAW pernah ditanya tentang sirat, maka baginda bersabda maksudnya, “Tempat menggelincirkan, di atasnya ada besi penyambar dan pengait dan tumbuhan berduri yang besar, ia mempunyai duri yang membahayakan seperti yang ada di Najd yang disebut pohon Sud’an.” Hadis Riwayat Muslim

“Telah sampai kepadaku bahawasanya sirat itu lebih nipis dari rambut dan lebih tajam dari pedang.” Hadis Riwayat Muslim

“Ada yang melalui sirat laksana sekelip mata dan ada yang seperti kilat, ada yang seperti tiupan angina, ada yang terbang seperti burung dan ada yang menyerupai orang yang mengendarai kuda, ada yang selamat seratus peratus, ada yang lecet-lecet dan ada juga yang ditenggelamkan di Neraka Jahannam.” Hadis Riwayat Bukhari dan Muslim

Yang pertama menyeberangi sirat adalah Nabi Muhammad SAW dan para pemimpin umat baginda. Baginda bersabda maksudnya, “Aku dan umatku yang paling pertama yang diperbolehkan melalui sirat dan ketika itu tidak ada seorangpun yang bicara kecuali Rasul dan Rasul berdoa ya Allah selamatkanlah, selamatkanlah.” Hadis Riwayat Bukhari

Bagi umat muslim yang berhasil melalui sirat tersebut, akan ke tahap selanjutnya jambatan.

Kedua belas: Jambatan

Jambatan disini, bukan sirat yang letaknya di atas Neraka Jahannam. Jambatan ini dibentangkan setelah orang mukmin berjaya melewati sirat yang berada di atas Neraka Jahannam.

Rasulullah SAW bersabda maksudnya, “Seorang mukmin akan dibebaskan dari api neraka, lalu mereka diberhentikan di atas jambatan antara syurga dan neraka, mereka akan saling diqisas antata satu sama lainnya atas kezaliman mereka di dunia. Setelah mereka bersih dan terbebas dari segalanya, barulah mereka diizinkan masuk syurga. Demi Zat yang jiwa Muhammad di tangan-Nya, seorang diantara kalian lebih mengenal tempat tinggalnya di syurga daripada tempat tinggalnya di dunia.” Hadis Riwayat Bukhari

Setelah melalui jambatan ini barulah orang mukmin masuk syurga Allah SWT.

Kesimpulan

Sahabat yang dikasihi, marilah sama-sama kita bermuhasabah diri kita sendiri. Kebenaran telah terbentang luas dihadapan kita, jalan mana yang ingin kita ikuti? Jalan lurus atau jalan bengkok?

Jika jalan yang lurus maka kita akan terselamat melalui 12 fasa tersebut di atas, tetapi jika jalan yang bengkok maka kita akan mengalami azab sengsara yang tidak berkesudahan dan penyesalan ketika kita sudah tidak berguna lagi.

Oleh itu gunakanlah masa sebaik-baiknya ketika di dunia ini, buatlah amal kebaikan sebanyak-banyaknya dan tinggalkanlah kemungkaran, maksiat dan dosa.

Semoga Alah SWT memberi kekuatan dan selalu membimbing kita untuk tetap istiqamah di jalan-Nya sehingga dapat mencapai syurga-Nya dan dijauhkan dari seksa neraka-Nya.

Continue Reading
Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Islamik

12 Tahun Mak Meninggal, Jenazah Mak Masih Elok dan Cukup Sifat

Published

on

12 Tahun Mak Meninggal, Jenazah Mak Masih Elok dan Cukup Sifat

Sesungguhnya m4ti itu pasti dan setiap yang bernyawa pasti merasai m4ti. Namun, bagaimanakah kem4tian kita? Tiada siapa yang tahu. Semuanya bergantung kepada amalan kita di dunia ini sebagai hamba yang Maha Kuasa.

Seorang wanita yang dikenali sebagai Amina Jasmine telah berkongsi sebuah kisah mengenai ibunya yang sarat dengan pengajaran untuk dijadikan pedoman hidup. Kisah mengenai jasad ibunya yang masih terpelihara dan tidak berbau walaupun sudah dikebumikan 12 tahun lalu. Jom kita ikuti perkongsiannya dibawah.

Alhamdulillah selesai pemindahan kubur mak.

12 tahun mak pergi mengadap Illahi. Jenazah mak elok, masih dlm keadaan kiam. Kain kafan mak tak koyak, bantal dan tali masih ada. Susuk badan mak jelas dipandangan mata kami yang menyaksikan tadi. Cukup sifat dan tak berbau. Allahuakhbar, Maha Suci Allah.

Dia wanita yang lembut. Tak suka mengata org lain, tak suka menc3rca orang lain. Mak sangat mudah mengalirkan air mata. Hatinya bak tisu mudah terkoyak. Setiap c3rca orang mak balas dengan senyuman dan air mata. Dengan suami mak bersabar.

Dan siapa sangka dalam kepadatan Tanah Perkuburan Bukit Alip, mak dapat dikebumikan sebelah ku bur arwah ayah. Maha Suci Allah.

Setelah 12 tahun mak pergi, Allah beri aku ‘sesuatu’, tentang hidup ni, hati ini dan keinsafan ini. Cari redha Allah.

Tali kain kafan mak setelah 12 tahun. Masih elok tak reput berada disisi m4yat.

Mayat Tidak Hancur Tanda Allah Redha?

Tidak kurang kisah penyebaran peristiwa ajaib seperti mayat seseorang yang telah meninggal dunia dikalangan masyarakat kita. Kisahnya bermacam versi, kebanyakkan adalah kisah setelah lama kematian seseorang itu lalu kuburnya digali semula didapati mayatnya tidak reput dan tidak hancur malah seakan-akan baru sahaja ditanam. Fenomena ini dikenali sebagai incorruptible body. Lalu hasil dari kejadian sebegitu, ramai orang menyandarkan peristiwa itu adalah petanda Allah menjaga jasad tersebut. Lalu mereka akan mengaitkan bahawa individu ini dahulunya adalah seorang huffaz yang menghafal al Quran, orang soleh, atau orang yang baik-baik dan sebagainya.

Peristiwa mayat tidak reput ini tidak dinafikan sememangnya berlaku. Malah di dalam sebuah hadis nabi Muhammad SAW menyebut:

اَفْضَلُ اَيَّامِكُمُ الْجُمْعَةُ فِيْهِ خُلِقَ آدَمُ وَ فِيْهِ قُبِضَ وَ فِيْهِ النَّفْخَةُ وَ فِيْهِ الصَّعْقَةُ فَاكْثِرُوا عَلَيَّ مِنَ الصَّلاَةِ فَإِنَّ صَلاَتَكُمْ مَعْرُوضَةٌ عَلَيَّ قَالُوا وَ كَيْفَ تُعْرَضُ صَلاَتُناَ عَلَيْكَ وَ قَدْ اَرمَتَّ يَقُولُونَ بَلِيْتَ فَقَالَ اِنَّ اللهَ حَرَّمَ عَلَى الْأَرْضِ اَنْ تَأْكُلَ اَجْسَادَ الْأَنْبِيَاءِ

“Hari yang paling utama adalah hari Jumaat. Pada hari itu Adam diciptakan, pada hari itu dia meninggal, pada hari itu sangkakala ditiup dan pada hari itu terjadi kiamat, maka perbanyaklah kalian berselawat kepadaku di hari itu, kerana selawat kalian akan diperlihatkan kepadaku”). Para sahabat bertanya, “Bagaimana selawat kami diperlihatkan kepadamu padahal kamu telah menjadi debu?” Baginda menjawab, “Sesungguhnya Allah ta’ala telah mengharamkan bumi dari memakan jasad para Nabi.”

Hadis di atas diriwayatkan oleh Said bin Manshur, Ibnu Abu Syaibah, Ahmad dalam Musnad-nya, Ibnu ‘Ashim dalam bab berselawat, Abu Daud, al-Nasa’i dan Ibnu Maajah dalam kitab sunan mereka, al-Thabrani dalam kitab Mu’jam-nya, Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibban dan al-Hakim dalam kitab Shahih mereka, dan al-Baihaqi dalam Hayat al-Anbiya’ dan Syu’ab al-Iman dan karangannya yang lain.

Perlu diketahui hadis, “Sesungguhnya Allah ta’ala telah mengharamkan bumi dari memakan jasad para Nabi.”, telah datang dari jalan yang banyak yang dikumpulkan oleh al-Hafiz al-Mundziri dalam bahagian khusus dan dia berkata dalam al-Targhib wal Tarhib, “Hadits tersebut diriwayatkan oleh Ibnu Maajah dengan sanad yang jayyid (sangat bagus) dan diriwayatkan oleh Ahmad, Abu Daud, Ibnu Hibban dalam kitab shahihnya dan al-Hakim, dan dia juga menshahihkan hadits tersebut.”

Dalil hadis hanya mengkhususkan bahawa jasad para nabi sahaja dijaga dan tidak dimakan oleh tanah. Sememangnya jasad para nabi akan dijaga berdasarkan hadis ini, dan hadis ini tidaklah mengkhususkan bahawa kesemua jasad yang tidak dimakan tanah itu kesemuanya adalah jasad para nabi kerana terdapat juga jasad-jasad yang lain turut tidak dimakan oleh tanah. Ini kerana dalam konteks hadis ini tidak juga memberi isyarat bahawa perkara itu tidak berlaku kepada orang lain. Malah ia juga berlaku kepada orang yang Allah murkai.
Malah fenomena ini juga berlaku kepada mana-mana manusia di dunia ini. Jika dilihat di negara-negara lain juga terdapat kejadian seperti ini. Tetapi untuk menyandarkan peristiwa ini semata-mata sebagai penanda aras mayat itu diredhai oleh Allah adalah suatu yang perlu berhati-hati.

Sedangkan hal tersebut juga terjadi kepada orang jahat yang dilaknat oleh Allah sepertimana Firaun, firman Allah yang bermaksud:

“Maka pada hari ini Kami selamatkan badanmu supaya kamu dapat menjadi pelajaran bagi orang-orang yang datang sesudahmu dan sesungguhnya kebanyakan dari manusia lengah dari tanda-tanda kekuasaan Kami.” (Yunus: 92)

Jika ingin dikatakan jasad yang ditanam tidak reput dan rosak dimamah tanah itu adalah petanda aras adalah kebenaran kepada agama, maka bagaimana pula dengan jasad firaun juga yang dipelihara oleh Allah sehingga kekal pada hari ini? Begitu juga dengan peninggalan mayat-mayat di Pompeii yang diselaputi dengan letusan gunung berapi yang masih tersisa sehingga hari ini, adakah peninggalan itu menjadi tanda aras Allah meredhai mereka?

Begitu juga hal ini menjadi modal yang dijaja oleh penganut Kristian di Barat terutama denominasi Katolik. Mereka memiliki banyak koleksi mayat dari kalangan paderi (saint) yang tidak reput malah diletakkan di dalam bekas kaca untuk ditonjolkan kepada orang ramai bahawa paderi itu merupakan orang baik dan mayatnya itu dirahmati oleh Tuhan. Antaranya adalah St. Luigi Orione, St. John Neumann, St. Pio da Pietrelcina, St. Bernadette Soubirous dan banyak lagi.

Malah terdapat ramai tokoh agama yang saling mengejar peristiwa seperti ini untuk dijadikan sebagai penanda aras bagi kebenaran dan keredhaan Tuhan berpihak kepada mereka.

Kita tidak menafikan kuasa Allah dalam menguruskan alam ini. Apa yang mahu dibawa dalam perbicangan ini adalah perlunya mengubah cara berfikir dengan menyandarkan sesuatu perkara itu dengan aras ‘kebenaran’ dan ‘keredhaan’ Allah. Sedangkan kejadian Allah menjaga mayat seseorang dengan petanda Allah meredhainya itu tidak disebut khusus di dalam nas kecuali mengenai jasad para nabi sahaja.

Akan tetapi, masyarakat kita menyebar peristiwa itu seakan agama yang bercakap soal ukuran aqidah keimanan itu. Oleh itu membina pemikiran yang bebas dari sangkaan dan sikap rasa-rasa dalam beragama bukanlah sesuatu yang mudah untuk melawan arus masyarakat yang sedia terjinak dengan perkara-perkara ajaib ini. Terutama untuk membezakan diantara perkara itu berlaku bukan sebagai petanda aras kebenaran semata-mata. Perkara ini perlu diperhalusi dan jangan dirangkul pukal sekali bahawa ia adalah dalil semata-mata untuk kita.
Oleh itu untuk kembali berdiri dengan aqidah yang dibawa oleh al Quran dan Hadis adalah penting untuk membina pemikiran yang berhati-hati terhadap perkara yang melibatkan dengan sentimen keimanan.

Sumber : Amina Jasmine

Continue Reading

Islamik

Rezeki Datang Mencurah-Curah Bila Kita Amalkan Menyuap Isteri & Anak Makan

Published

on

Rezeki Datang Mencurah-Curah Bila Kita Amalkan Menyuap Isteri & Anak Makan

Semasa pergi ke hospital semalam, datang seorang lelaki yang baik mengajak saya duduk berbual kerana dia ada masalah. Dia bercerita yang kehidupan keluarganya sangat sempit dan tidak tenteram. Asyik bergaduh saja dan rasa sakit jiwa.

“Saya dah usaha macam-macam cara dah. Tak tahu nak buat macam mana dah,” katanya.

“Abang makan, ada suapkan makanan dalam mulut isteri tak?” saya tanya.

“Tak pernah ustaz,” jawabnya.

“Abang pernah menyuap makanan ke dalam mulut anak-anak tak?” soalan saya kemudian dijawab dengan jawapan yang sama.

“Orang dulu-dulu tak adalah kaya sangat tetapi kehidupan keluarga penuh dengan kasih sayang, rezeki pun cukup saja, rasa tenang dan berkat. Sebab janji Allah dengan menghargai keluarga, rezeki bertambah.

Sekarang? Dah banyak keluarga yang tak makan sekali apatah lagi suami menyuap isteri dan anak-anak. Ada yang masih makan bersama tetapi sambil makan, tangan sibuk melayan handphone, mata sibuk melayan tv. Ya Allah.

“Bila isteri makan dari tangan kita, terasa bahagia sangat. Bila kita menyuap isteri makanan kerana cinta, kerana Allah walaupun cuma beberapa suap, terasa nikmatnya. Buat pula tergigit jari sikit. Hehe! Sunnah berjemaah.
Juga makan satu bekas yang sama. Sekarang satu dulang rumah saya, kami makan berlima. Kadang-kadang anak pula berebut nak menyuap makanan ke mulut mak dan ayahnya sekali sekala.

“Cuba abang amalkan menyuap isteri dan anak-anak. Orang yang tidak mengasihi tidak akan dikasihi. Kasihilah keluarga, lihatlah bagaimana rezeki datang mencurah-curah,” jelas saya padanya.

“Baiklah ustaz. Saya nampak itulah jalan yang saya tidak pernah fikir. Rezeki datang bila kita berkasih sayang dan menghargai keluarga,” katanya.

Bila isteri suapkan saya, terasa best sangat nikmat. Ya Allah, inilah nikmat dunia ini. Ya Allah, berilah kami terus dapat menikmatinya dan bersama dalam syurga.

Oleh: Ustaz Ebit Lew

Continue Reading

Islamik

6 Jenis Penat Yang Meletihkan Tapi Tinggi Pahalanya Di Sisi Allah. No 3 Yang Paling Besar Ganjarannya

Published

on

6 Jenis Penat Yang Meletihkan Tapi Tinggi Pahalanya Di Sisi Allah. No 3 Yang Paling Besar Ganjarannya

Ada orang penat kerana kerja seharian, ada yang penat belajar, bahkan ada yang penat kerana tengah sarat mengandung. Dan macam-macam lagi jenis kepenatan yang dirasai oleh kita. Lain orang pasti lain pengalamannya dan ujian yang perlu ditempuh.

Namun, jika apa yang anda lakukan itu adalah kerana diri sendiri, agama dan juga untuk Allah, pasti akan ada ganjaran yang Allah berikan. Sedarkah anda, setiap kepenatan dan peluh yang dilalui itu ada jenisnya yang disukai Allah? Ada diceritakan melalui beberapa dalil mengenai jenis kepenatan yang disukai Allah, antaranya;

1. Penat Dalam Mengajak Kepada Kebaikan

Dalam kita menegur atau berdakwah ke arah kebaikan, tidak semua orang suka kepadanya. Ada yang akan mengambil masa yang lama untuk menerimanya dan ada juga yang langsung tidak mengendahkan apa yang kita sampaikan.

Jangan berputus asa! Yang paling penting ialah kita sendiri yang perlu sentiasa sabar dan terus berdakwah ke arah kebaikan. Walau kita penat kerana apa yang dilakukan itu kadang-kadang sehingga boleh menimbulkan kecaman, namun percayalah setiap usaha yang dilakukan amatlah disukai Allah.

Mafhum: “Dan tidak ada yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada (mengesakan dan mematuhi perintah) Allah, serta ia sendiri mengerjakan amal yang soleh.” (Surah Fussilat, 41:33)

2. Penat Dalam Beribadah

Hati manusia itu sentiasa berbolak-balik. Ada masa-masanya mungkin perasaan suka akan beribadat itu boleh diganti dengan perasaan yang lesu dan lemau. Apabila berada dalam situasi ini, salah satu sebabnya adalah kerana penat. Penat dalam beribadah ialah penat yang disukai Allah. Kerana kita telah meletakkan tenaga kita kepadaNya.

Jangan risau. Perasaan itu boleh sembuh jika kita tidak memaksa. Cuba untuk berehat dan cari balik motivasi untuk beribadah.

Mafhum: “Dan orang-orang yang berusaha dengan bersungguh-sungguh kerana memenuhi kehendak agama Kami, sesungguhnya Kami akan memimpin mereka ke jalan-jalan Kami (yang menjadikan mereka bergembira serta beroleh keredaan).” (Surah Al-Ankabut, 29:69)

3. Penat Mengandung, Melahirkan Dan Menyusukan

Wanita yang mengandung, melahirkan dan menyusu anaknya akan mengalami kepenatan dan kesakitan yang hanya dilalui oleh mereka. Betapa hebatnya wanita sehingga Allah memberi kekuatan kepada mereka sedemikian rupa.

Kepenatan yang dialaminya itu merupakan salah satu perkara yang disukai Allah kerana ia adalah pengorbanan yang luar biasa yang dilakukan untuk melahirkan khalifah di muka bumi. Hatta, ibu bapa yang penat membesar dan mendidik anak juga akan diberi ganjaran pahala yang tidak ternilai.

Mafhum: “Dan Kami wajibkan manusia berbuat baik kepada kedua ibu bapanya; ibunya telah mengandungnya dengan menanggung kelemahan demi kelemahan (dari awal mengandung hingga akhir menyusuinya), dan tempoh menceraikan susunya ialah dalam masa dua tahun.” (Surah Luqman, 31:14)

4. Penat Dalam Mencari Nafkah

Mencari nafkah dan rezeki itu adalah perkara yang dituntut bahkan ia adalah keperluan untuk meneruskan kelangsungan hidup. Sama ada yang bekerja dari awal pagi sehingga lewat malam atau yang bekerja secara shift, semuanya pasti ada kepenatan sendiri yang perlu dilalui.

Namun, percayalah jika ia adalah rezeki dan nafkah yang halal, maka ia adalah sesuatu yang disukai Allah.

Mafhum: “Kemudian, setelah selesai sembahyang, maka bertebaranlah kamu di muka bumi (untuk menjalankan urusan masing-masing) dan carilah apa yang kamu hajati dari limpah kurnia Allah serta ingatlah akan Allah banyak-banyak (dalam segala keadaan), supaya kamu berjaya (di dunia dan di akhirat).” (Surah Al-Jumu’a, 62:10)

5. Penat Dalam Menuntut Ilmu

Apabila kita lihat cabaran-cabaran yang dilalui mahasiswa hari ini, ujiannya adalah pelbagai. Ditambah pula dengan episod COVID-19 yang perlu dilalui. Ada yang berjaga malam untuk menyiapkan tugasan, ada yang perlu menghabiskan wang untuk keperluan pelajaran dan sebagainya.

Itu semua adalah asam garam dalam belajar. Kepenatan ini, jika ia membuahkan hasil suatu hari kelak pastinya akan membuatkan anda mampu mengukir senyum lebar dan merasa berbaloi dengan kesusahan yang dialami itu.

Mafhum: “Hendaklah kamu menjadi orang-orang Rabbaniyyin (yang hanya menyembah Allah dengan ilmu dan amal yang sempurna), kerana kamu sentiasa mengajarkan isi kitab Allah itu dan kerana kamu sentiasa mempelajarinya.” (Surah Ali-Imran, 3:79)

6. Penat Dalam Urusan Keluarga

Menggalas tanggungjawab sebagai ibu bapa mahupun kakak atau abang merupakan salah satu amanah yang perlu dijalankan dengan baik. Tidak semestinya tugas menjaga keluarga itu jatuh di atas bahu orang tua sahaja, namun juga kepada anak-anak.

Setiap keluarga itu pasti mempunyai ombak dan badai yang perlu diharungi. Bukan hari-harinya disinari pelangi. Justeru, walau penat menjengah, jangan pernah berputus asa dengan ujian itu.

Mafhum: “Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah diri kamu dan keluarga kamu dari neraka yang bahan-bahan bakarannya: manusia dan batu (berhala).” (Surah At-Tahrim, 66:6)

Continue Reading

Trending