Connect with us

Islamik

Inilah Doa Mustajab Agar Dimurahkan Rezeki dan Dipermudahkan Urusan

Published

on

Khasiat dari amalan doa dzikir asma adalah supaya bisa dimudahkan rezeki dan juga dilapangkan rezeki. Amalan doa sangatlah mustajab jika diyakini dan mau untuk mengamalkannya dengan segala ketulusan, ikhlas dan juga pasrah pada Allah SWT. Jika Allah SWT berkehendak, maka akan dimudahkan segala urusan untuk mencari rezeki tersebut. Percayalah jika rezeki berasal dari Allah SWT dan apabila tidak memohon atau meminta pada Allah SWT, maka siapa yang akan membantu segla aurusan rezeki kita?. Oleh karena itulah, Allah sangat menyukai hamba-Nya yang bersedia untuk memanggil nama Allah Yang Baik. Berikut ini akan kami berikan beberapa doa agar dimudahkan rezeki dalam Islam yang paling mustajab untuk anda.

Arti: Ya Allah, tidak ada kemudahan kecuali yang Engkau buat mudah. Dan engkau menjadikan kesedihan (kesulitan), jika Engkau kehendaki pasti akan menjadi mudah.

Doa Kemudahan Rezeki Pertama

Al-hamdu lillaahil ladzii rozaqonii haadza min ghairi haulin minnii wa laa quwwatin, alloohumma baarik fiihi

Arti: Segala puji bagi Allah, yang telah memberi rizqi kepadaku dengan tidak ada daya dan kekuatan bagiku, ya Allah semoga Engkau berkahi pada rizkiku.

Doa Kemudahan Rezeki Kedua

Alloohumma innii as-aluka an tarzuqonii rizqon halaalan waasi’an thoyyiban min ghairi ta’abin wala masyaqqatin walaa dloirin walaa nashabin innaka ‘a-laa kulli syai-in qodiir

Arti: Ya Allah, aku minta pada Engkau akan pemberian rizki yang halal, luas, baik tidak tanpa repot dan juga tanpa kemelaratan dan tanpa keberatan sesungguhnya Engkau kuasa atas segala sesuatu.

Doa Kemudahan Rezeki Setelah Shalat Isya

Sebelum membacakan doa, terlebih dahulu lakukan shalat Isya kemudian dilanjutkan dengan shalat Sunat ba’diyah dua rakaat lalu dilanjutkan shalat tobat dua rakaat dan sesudah selesai barulah membacakan doa berikut ini:

Istighfar / astaghfirullahal adhin [seribu kali]
Laa ilaaha illa anta subhanaka inni kuntu minadhdholimin [seratus kali]
Dilanjutkan dengan shalat hajat dua rakaat dan sesudah selesau shalat hajat membacakan sholawat.
Asholaatu wassalaamu ‘alaika yaa sayyidi rasulullah, hud bi yadii qolat hillati, adrikini [seribu kali]
Yaa latif, yaa latif, yaa latif, sampai subuh [usahakan jarang kurang dari 41.000 kali]
Amalan ini cukup dilakukan sekali saja akan tetapi tiap malam akan lebih bagus. Apabila benar benar sedang mengalami kesulitan dan tidak bisa diselesaikan dengan cara biasa.

Doa Kemudahan Rezeki Setelah Shalat Subuh dan Maghrib

Apabila doa dibawah ini dibacakan setiap selesai menunaikan shalat subuh dan maghrib, maka akan dimudahkan rezeki, dihilangkan kesusahan, dibukakan kunci pintu surga, dilindungi dari siksa kubur, dijadikan orang baik dan lunak hatinya serta diampuni dosanya.

Laa ilaha llooh al malikul haqqul mubiin. Muhammadun rasulullah. Shodiqul qa’dul amin [seratus kali]

Doa Kemudahan Rezeki Kelima

A’uudzubilaahil aliiminassaythoonirojim. Bismilaahirrohmaanirrohiim. Bismilaahi tawakkaltu alallah, walahaula wala quwwata illa bilaahil aliyyil adziim. Insya allaahu minal aaminiin.

Sambil membacakan doa diatas, tanamkan di dalam hati keyakinan jika Allah yang akan memberikan rezeki lalu meminta pada-Nya, selalu mendekat pada-Nya dan selalu mengharapkan rahmat turun pada kita dan membacakan doa tersebut dalam situasi apa saja dengan keyakinan sepenuhnya bahwa Allah SWT akan menolong dan mempermudah kalian.

Doa Kemudahan Rezeki Dengan Shalat Sunat Hajat

Lakukan shalat Hajat sebanyak dua rakaat dan pada rakaat pertama dan kedua sesudah membaca Al-Fatihaha, membacakan ayat sebagai berikut sebanyak 77 kali.

Rabbana anzil ‘alaynaa maa idatam minas samaa i takuunu lanaa ‘iidan li awwalina wa aakhirinaa wa aayatan minka warzuqnaa wa antaa khayrur raaziqiin.

Arti: Ya Tuhan kami, turunkanlah kepada kami suatu hidangan dari langit [yang hari turunannya] akan menjadi hari raya bagi kami, yaitu orang orang yang bersama kami dan orang orang yang datang sesudah kami dan menjadi tanda kekuasaan-Mu dan berilah kami rezeki, Engkau adalah pemberi rezeki paling utama [QS Al-Maidah: 1-114]

Sesudah salam, bacakan shalawat berikut ini sebanyak 70 ribu kali.

Allahuma shalli wasallim ‘alaa sayyidinaa Muhammadinil aalifil ma ‘luufi ujburnii haajatii

Arti: Ya Allah, limpahkan rahmat dan keagungan serta keselamatan atas junjungan kami Nabi Muhammad yang penyayang dan disayangi, pemulihlah hajatku.

Doa Kemudahan Rezeki Setiap Penjuru

Doa kemudahan untuk meraih rezeki dari tiap penjuru ini dibacakan sebanyak tujuh kali sesudah shalat Fardhu.

Wahai Allah limpahkanlah rahmat atas junjungan kita Nabi Muhammad sebanyak aneka rupa rezeki. Wahai Dzat yang maha meluaskan rezeki kepada orang yang dikehendaki-Nya tanpa hisab. Luaskan dan banyakanlah rezekiku dari segenap setiap penjuru dari perbendaharaan rezeki-Mu tanpa pemberian dari makhluk, berkat kemurahan-Mu juga. Dan limpahkanlah pula rahmat dan salam datas dan para sahabat beliau.

Doa Kemudahan Rezeki Halal

Doa supaya bisa mendapatkan rezeki yang halal ini dibacakan tiga kali sesudah shalat Jumat atau shalat Fardhu.

Allahumma yaa ghaniyyu ya hamiidu yaa mubdi’u yaa mu’iidu yaa rahiimu, yaa waduudu aghninii bi halaalika;an haraamka wakfinii bi fadhilika ‘amman siwaaka wa shallallahu ‘alaa muhammadin wa aalihi wa sallama.

Arti: Wahai Allah, wahai Dzat Yang Maha Kaya, wahai Dzat Yang Maha Terpuji, wahai Dzat Yang memulai, wahai Dzat yang mengembalikan, wahai Dzat yang mencintai. Cukupilah kami dengan kehalalan-Mu dari keharaman-Mu, cukupilah kami dengan anugerah-Mu dari selain Engkau semoga Allah melimpahkan rahmat dan salam atas junjungan kita Nabi Muhammad, keluarga dan sahabat beliau.

Allahumma yaa ahadu yaa waahidu yaa maujuudu yaa jawwaadu yaa baasithu yaa kariimu yaa wah haabu yaa dzath thouli yaa ghaniyyu yaa mughnii yaa fattahu yaa razaaqu yaa ‘aliimu yaa hayyu ya qayyumu yaa rahmaanu yaa rahiim yaa badii’as samawaati wal ardhi yaa dzal jalaali wal ikraani ya hannaanu yaa maninaanu infahni minka nafhatin khairin tughninii ‘amman siwaaka.

Arti: Wahai Allah, wahai Dzat Yang Maha Tunggal tidak memiliki bagian, wahai Dzat Yang Maha Tunggal, tidak menyerupai makhluk dan tidak sekutu, wahai Dzat yang Maujud, wahai Dzat yang amat murah hati, wahai Dzat yang Melempangkan rezeki, wahai Dzat Yang memiliki anugerah, wahai Dzat yang maha kaya, wahai Dzat yang Maha membuka, wahai Dzat Yang Maha Hidup, wahai Dzat yang Maha bersiti sendiri, wahai Dzat Yang Maha Pengasih, wahai Dzat yang Maha Penyayang, wahai Dzat yang Menciptakan langit dan bumi, wahai Dzat Yang Memiliki keagungan dan Kemuliaan, wahai Dzat yang Maha Memberi, semerbakanlah aku dari-Mu dengan semerbak yang bagus yang dapat mencukupi aku dari selain Engkau..

Dengan nama Allah, semoga Engkau menjaga diri kamu, harta kami dan agama kami. Wahai Allah, ridhailah kami dengan ketetapan-Mu dan berilah kami berkah kepada kami pada segala apa yang engkau percepat apa yang Engkau akhiri dan tidak pula menyukai mengakhiri apa yang Engkau cepatkan.

Asmaul Husna

Amalan Asma-Ul Husna berguna untuk membuka pintu rezeki

Al Wahhaabu

Dengan arti Dzat yang maha memberi yakni memberikan segalanya pada keperluan makhluk-Nya tanpa diminya sebelumnya Allah sudah menyediakan.

Barang siapa membaca “Yaa Wahhaab” sebanyak 23 kali secara berturut turut sebagai amalan rutin setiap selesai shalat fardhu atau sesudah selesai shalat hajat dua rakaat sebanyak 800 kali, maka baginya akan dijauhkan dari kesempitan rezeki dan diberikan kemudahan dalam segala urusannya.

Ar Rozzaaqu

Dengan arti Dzat yang maha memberi rezeki yakni memberi rezeki untuk semua makhluk-Nya untuk kebutuhan hidupnya dan Dia pula yang menentukan banyak atau sedikitnya rezeki yang akan diberikan pada para hamba-Nya.

Cara mengamalkan:

Seseorang yang membaca Yaa Rozzaaq sebanyak mungkin setiap hari sesudah shalat fardhu, maka akan dijauhkan dari kesempitan rezeki dan usahana akan selalu mendapatkan keuntungan yang berkelimpahan.

Al Baasithu

Dengan artin Dzat yang maha melapangkan rezeki yakni memberikan kelapangan rezeki pada para hamba-Nya yang sudah dikehendaki-Nya, sehingga akan banyak orang bodoh dapat hidup kaya dan sebaliknya, orang cerdik yang pandai hidupnya akan miskin.

Cara Mengamalkan:

Seseorang yang membacakan Yaa Baasith sebanyak mungkin sebagai amalan rutin setelah shalat fardhu atau sesudah shalat hajat sebanyak 3000 ali, maka akan dijamin usahanya dalam bidang perniagaan mendapat kemajuan yang cepat dan selalu bisa mendapatkan keuntungan.

Surah Al Insyarah

Seseorang yang membacakan Surah Al Insyiraah sebanyak tujuh kali di setiap sesudah selesai sembahyang, maka akan terlepas dari kesusahan dan mudah oleh Allah SWT akan rezeki.

Seseorang yang membacakan Surat Al Insyarah sebanyak 40 kali setiap sesudah sembahyang fardhu selama tujuh hari berturut turut, amak akan dikurniai kekayaan oleh Allah SWT.

Nabi Muhammad SAW bersabda, : Barangsiapa membaca Surah Alam Nasyrah seperti ia mendatangi aku dan aku mengambil kesempatan maka menjadi suatu kelapangan daripadaku”.

Barangsiapa membiasakan diri untuk membaca surah Alam Nasyrah sesudah shalat fardhu, maka Allah SWT akan memudahkan urusannya dan juga dimudahkan segala rezeki.

Ada Hajat

Wa ahaatho bimaa ladaihim wa ahshaa kulla syai-in adadan [Al Jin:28]. Apabila dibacakan ayat ke sepuluh ini secara terus menerus maka hajat duniawi dan ukhrowi insya Allah segera terlaksana.

Demikian beberapa informasi tentang doa-doa yang bisa diamalkan bagi mereka yang ingin rezekinya dimudahkan dan dilapangkan agar mendapatkan kehidupan yang berkecukupan, sejahtera, nan harmonis. Semoga bermanfaat bagi kita semua. Aamiin ya Rabbal A’lamin.

Continue Reading
Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Islamik

12 Tahun Mak Meninggal, Jenazah Mak Masih Elok dan Cukup Sifat

Published

on

12 Tahun Mak Meninggal, Jenazah Mak Masih Elok dan Cukup Sifat

Sesungguhnya m4ti itu pasti dan setiap yang bernyawa pasti merasai m4ti. Namun, bagaimanakah kem4tian kita? Tiada siapa yang tahu. Semuanya bergantung kepada amalan kita di dunia ini sebagai hamba yang Maha Kuasa.

Seorang wanita yang dikenali sebagai Amina Jasmine telah berkongsi sebuah kisah mengenai ibunya yang sarat dengan pengajaran untuk dijadikan pedoman hidup. Kisah mengenai jasad ibunya yang masih terpelihara dan tidak berbau walaupun sudah dikebumikan 12 tahun lalu. Jom kita ikuti perkongsiannya dibawah.

Alhamdulillah selesai pemindahan kubur mak.

12 tahun mak pergi mengadap Illahi. Jenazah mak elok, masih dlm keadaan kiam. Kain kafan mak tak koyak, bantal dan tali masih ada. Susuk badan mak jelas dipandangan mata kami yang menyaksikan tadi. Cukup sifat dan tak berbau. Allahuakhbar, Maha Suci Allah.

Dia wanita yang lembut. Tak suka mengata org lain, tak suka menc3rca orang lain. Mak sangat mudah mengalirkan air mata. Hatinya bak tisu mudah terkoyak. Setiap c3rca orang mak balas dengan senyuman dan air mata. Dengan suami mak bersabar.

Dan siapa sangka dalam kepadatan Tanah Perkuburan Bukit Alip, mak dapat dikebumikan sebelah ku bur arwah ayah. Maha Suci Allah.

Setelah 12 tahun mak pergi, Allah beri aku ‘sesuatu’, tentang hidup ni, hati ini dan keinsafan ini. Cari redha Allah.

Tali kain kafan mak setelah 12 tahun. Masih elok tak reput berada disisi m4yat.

Mayat Tidak Hancur Tanda Allah Redha?

Tidak kurang kisah penyebaran peristiwa ajaib seperti mayat seseorang yang telah meninggal dunia dikalangan masyarakat kita. Kisahnya bermacam versi, kebanyakkan adalah kisah setelah lama kematian seseorang itu lalu kuburnya digali semula didapati mayatnya tidak reput dan tidak hancur malah seakan-akan baru sahaja ditanam. Fenomena ini dikenali sebagai incorruptible body. Lalu hasil dari kejadian sebegitu, ramai orang menyandarkan peristiwa itu adalah petanda Allah menjaga jasad tersebut. Lalu mereka akan mengaitkan bahawa individu ini dahulunya adalah seorang huffaz yang menghafal al Quran, orang soleh, atau orang yang baik-baik dan sebagainya.

Peristiwa mayat tidak reput ini tidak dinafikan sememangnya berlaku. Malah di dalam sebuah hadis nabi Muhammad SAW menyebut:

اَفْضَلُ اَيَّامِكُمُ الْجُمْعَةُ فِيْهِ خُلِقَ آدَمُ وَ فِيْهِ قُبِضَ وَ فِيْهِ النَّفْخَةُ وَ فِيْهِ الصَّعْقَةُ فَاكْثِرُوا عَلَيَّ مِنَ الصَّلاَةِ فَإِنَّ صَلاَتَكُمْ مَعْرُوضَةٌ عَلَيَّ قَالُوا وَ كَيْفَ تُعْرَضُ صَلاَتُناَ عَلَيْكَ وَ قَدْ اَرمَتَّ يَقُولُونَ بَلِيْتَ فَقَالَ اِنَّ اللهَ حَرَّمَ عَلَى الْأَرْضِ اَنْ تَأْكُلَ اَجْسَادَ الْأَنْبِيَاءِ

“Hari yang paling utama adalah hari Jumaat. Pada hari itu Adam diciptakan, pada hari itu dia meninggal, pada hari itu sangkakala ditiup dan pada hari itu terjadi kiamat, maka perbanyaklah kalian berselawat kepadaku di hari itu, kerana selawat kalian akan diperlihatkan kepadaku”). Para sahabat bertanya, “Bagaimana selawat kami diperlihatkan kepadamu padahal kamu telah menjadi debu?” Baginda menjawab, “Sesungguhnya Allah ta’ala telah mengharamkan bumi dari memakan jasad para Nabi.”

Hadis di atas diriwayatkan oleh Said bin Manshur, Ibnu Abu Syaibah, Ahmad dalam Musnad-nya, Ibnu ‘Ashim dalam bab berselawat, Abu Daud, al-Nasa’i dan Ibnu Maajah dalam kitab sunan mereka, al-Thabrani dalam kitab Mu’jam-nya, Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibban dan al-Hakim dalam kitab Shahih mereka, dan al-Baihaqi dalam Hayat al-Anbiya’ dan Syu’ab al-Iman dan karangannya yang lain.

Perlu diketahui hadis, “Sesungguhnya Allah ta’ala telah mengharamkan bumi dari memakan jasad para Nabi.”, telah datang dari jalan yang banyak yang dikumpulkan oleh al-Hafiz al-Mundziri dalam bahagian khusus dan dia berkata dalam al-Targhib wal Tarhib, “Hadits tersebut diriwayatkan oleh Ibnu Maajah dengan sanad yang jayyid (sangat bagus) dan diriwayatkan oleh Ahmad, Abu Daud, Ibnu Hibban dalam kitab shahihnya dan al-Hakim, dan dia juga menshahihkan hadits tersebut.”

Dalil hadis hanya mengkhususkan bahawa jasad para nabi sahaja dijaga dan tidak dimakan oleh tanah. Sememangnya jasad para nabi akan dijaga berdasarkan hadis ini, dan hadis ini tidaklah mengkhususkan bahawa kesemua jasad yang tidak dimakan tanah itu kesemuanya adalah jasad para nabi kerana terdapat juga jasad-jasad yang lain turut tidak dimakan oleh tanah. Ini kerana dalam konteks hadis ini tidak juga memberi isyarat bahawa perkara itu tidak berlaku kepada orang lain. Malah ia juga berlaku kepada orang yang Allah murkai.
Malah fenomena ini juga berlaku kepada mana-mana manusia di dunia ini. Jika dilihat di negara-negara lain juga terdapat kejadian seperti ini. Tetapi untuk menyandarkan peristiwa ini semata-mata sebagai penanda aras mayat itu diredhai oleh Allah adalah suatu yang perlu berhati-hati.

Sedangkan hal tersebut juga terjadi kepada orang jahat yang dilaknat oleh Allah sepertimana Firaun, firman Allah yang bermaksud:

“Maka pada hari ini Kami selamatkan badanmu supaya kamu dapat menjadi pelajaran bagi orang-orang yang datang sesudahmu dan sesungguhnya kebanyakan dari manusia lengah dari tanda-tanda kekuasaan Kami.” (Yunus: 92)

Jika ingin dikatakan jasad yang ditanam tidak reput dan rosak dimamah tanah itu adalah petanda aras adalah kebenaran kepada agama, maka bagaimana pula dengan jasad firaun juga yang dipelihara oleh Allah sehingga kekal pada hari ini? Begitu juga dengan peninggalan mayat-mayat di Pompeii yang diselaputi dengan letusan gunung berapi yang masih tersisa sehingga hari ini, adakah peninggalan itu menjadi tanda aras Allah meredhai mereka?

Begitu juga hal ini menjadi modal yang dijaja oleh penganut Kristian di Barat terutama denominasi Katolik. Mereka memiliki banyak koleksi mayat dari kalangan paderi (saint) yang tidak reput malah diletakkan di dalam bekas kaca untuk ditonjolkan kepada orang ramai bahawa paderi itu merupakan orang baik dan mayatnya itu dirahmati oleh Tuhan. Antaranya adalah St. Luigi Orione, St. John Neumann, St. Pio da Pietrelcina, St. Bernadette Soubirous dan banyak lagi.

Malah terdapat ramai tokoh agama yang saling mengejar peristiwa seperti ini untuk dijadikan sebagai penanda aras bagi kebenaran dan keredhaan Tuhan berpihak kepada mereka.

Kita tidak menafikan kuasa Allah dalam menguruskan alam ini. Apa yang mahu dibawa dalam perbicangan ini adalah perlunya mengubah cara berfikir dengan menyandarkan sesuatu perkara itu dengan aras ‘kebenaran’ dan ‘keredhaan’ Allah. Sedangkan kejadian Allah menjaga mayat seseorang dengan petanda Allah meredhainya itu tidak disebut khusus di dalam nas kecuali mengenai jasad para nabi sahaja.

Akan tetapi, masyarakat kita menyebar peristiwa itu seakan agama yang bercakap soal ukuran aqidah keimanan itu. Oleh itu membina pemikiran yang bebas dari sangkaan dan sikap rasa-rasa dalam beragama bukanlah sesuatu yang mudah untuk melawan arus masyarakat yang sedia terjinak dengan perkara-perkara ajaib ini. Terutama untuk membezakan diantara perkara itu berlaku bukan sebagai petanda aras kebenaran semata-mata. Perkara ini perlu diperhalusi dan jangan dirangkul pukal sekali bahawa ia adalah dalil semata-mata untuk kita.
Oleh itu untuk kembali berdiri dengan aqidah yang dibawa oleh al Quran dan Hadis adalah penting untuk membina pemikiran yang berhati-hati terhadap perkara yang melibatkan dengan sentimen keimanan.

Sumber : Amina Jasmine

Continue Reading

Islamik

Rezeki Datang Mencurah-Curah Bila Kita Amalkan Menyuap Isteri & Anak Makan

Published

on

Rezeki Datang Mencurah-Curah Bila Kita Amalkan Menyuap Isteri & Anak Makan

Semasa pergi ke hospital semalam, datang seorang lelaki yang baik mengajak saya duduk berbual kerana dia ada masalah. Dia bercerita yang kehidupan keluarganya sangat sempit dan tidak tenteram. Asyik bergaduh saja dan rasa sakit jiwa.

“Saya dah usaha macam-macam cara dah. Tak tahu nak buat macam mana dah,” katanya.

“Abang makan, ada suapkan makanan dalam mulut isteri tak?” saya tanya.

“Tak pernah ustaz,” jawabnya.

“Abang pernah menyuap makanan ke dalam mulut anak-anak tak?” soalan saya kemudian dijawab dengan jawapan yang sama.

“Orang dulu-dulu tak adalah kaya sangat tetapi kehidupan keluarga penuh dengan kasih sayang, rezeki pun cukup saja, rasa tenang dan berkat. Sebab janji Allah dengan menghargai keluarga, rezeki bertambah.

Sekarang? Dah banyak keluarga yang tak makan sekali apatah lagi suami menyuap isteri dan anak-anak. Ada yang masih makan bersama tetapi sambil makan, tangan sibuk melayan handphone, mata sibuk melayan tv. Ya Allah.

“Bila isteri makan dari tangan kita, terasa bahagia sangat. Bila kita menyuap isteri makanan kerana cinta, kerana Allah walaupun cuma beberapa suap, terasa nikmatnya. Buat pula tergigit jari sikit. Hehe! Sunnah berjemaah.
Juga makan satu bekas yang sama. Sekarang satu dulang rumah saya, kami makan berlima. Kadang-kadang anak pula berebut nak menyuap makanan ke mulut mak dan ayahnya sekali sekala.

“Cuba abang amalkan menyuap isteri dan anak-anak. Orang yang tidak mengasihi tidak akan dikasihi. Kasihilah keluarga, lihatlah bagaimana rezeki datang mencurah-curah,” jelas saya padanya.

“Baiklah ustaz. Saya nampak itulah jalan yang saya tidak pernah fikir. Rezeki datang bila kita berkasih sayang dan menghargai keluarga,” katanya.

Bila isteri suapkan saya, terasa best sangat nikmat. Ya Allah, inilah nikmat dunia ini. Ya Allah, berilah kami terus dapat menikmatinya dan bersama dalam syurga.

Oleh: Ustaz Ebit Lew

Continue Reading

Islamik

6 Jenis Penat Yang Meletihkan Tapi Tinggi Pahalanya Di Sisi Allah. No 3 Yang Paling Besar Ganjarannya

Published

on

6 Jenis Penat Yang Meletihkan Tapi Tinggi Pahalanya Di Sisi Allah. No 3 Yang Paling Besar Ganjarannya

Ada orang penat kerana kerja seharian, ada yang penat belajar, bahkan ada yang penat kerana tengah sarat mengandung. Dan macam-macam lagi jenis kepenatan yang dirasai oleh kita. Lain orang pasti lain pengalamannya dan ujian yang perlu ditempuh.

Namun, jika apa yang anda lakukan itu adalah kerana diri sendiri, agama dan juga untuk Allah, pasti akan ada ganjaran yang Allah berikan. Sedarkah anda, setiap kepenatan dan peluh yang dilalui itu ada jenisnya yang disukai Allah? Ada diceritakan melalui beberapa dalil mengenai jenis kepenatan yang disukai Allah, antaranya;

1. Penat Dalam Mengajak Kepada Kebaikan

Dalam kita menegur atau berdakwah ke arah kebaikan, tidak semua orang suka kepadanya. Ada yang akan mengambil masa yang lama untuk menerimanya dan ada juga yang langsung tidak mengendahkan apa yang kita sampaikan.

Jangan berputus asa! Yang paling penting ialah kita sendiri yang perlu sentiasa sabar dan terus berdakwah ke arah kebaikan. Walau kita penat kerana apa yang dilakukan itu kadang-kadang sehingga boleh menimbulkan kecaman, namun percayalah setiap usaha yang dilakukan amatlah disukai Allah.

Mafhum: “Dan tidak ada yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada (mengesakan dan mematuhi perintah) Allah, serta ia sendiri mengerjakan amal yang soleh.” (Surah Fussilat, 41:33)

2. Penat Dalam Beribadah

Hati manusia itu sentiasa berbolak-balik. Ada masa-masanya mungkin perasaan suka akan beribadat itu boleh diganti dengan perasaan yang lesu dan lemau. Apabila berada dalam situasi ini, salah satu sebabnya adalah kerana penat. Penat dalam beribadah ialah penat yang disukai Allah. Kerana kita telah meletakkan tenaga kita kepadaNya.

Jangan risau. Perasaan itu boleh sembuh jika kita tidak memaksa. Cuba untuk berehat dan cari balik motivasi untuk beribadah.

Mafhum: “Dan orang-orang yang berusaha dengan bersungguh-sungguh kerana memenuhi kehendak agama Kami, sesungguhnya Kami akan memimpin mereka ke jalan-jalan Kami (yang menjadikan mereka bergembira serta beroleh keredaan).” (Surah Al-Ankabut, 29:69)

3. Penat Mengandung, Melahirkan Dan Menyusukan

Wanita yang mengandung, melahirkan dan menyusu anaknya akan mengalami kepenatan dan kesakitan yang hanya dilalui oleh mereka. Betapa hebatnya wanita sehingga Allah memberi kekuatan kepada mereka sedemikian rupa.

Kepenatan yang dialaminya itu merupakan salah satu perkara yang disukai Allah kerana ia adalah pengorbanan yang luar biasa yang dilakukan untuk melahirkan khalifah di muka bumi. Hatta, ibu bapa yang penat membesar dan mendidik anak juga akan diberi ganjaran pahala yang tidak ternilai.

Mafhum: “Dan Kami wajibkan manusia berbuat baik kepada kedua ibu bapanya; ibunya telah mengandungnya dengan menanggung kelemahan demi kelemahan (dari awal mengandung hingga akhir menyusuinya), dan tempoh menceraikan susunya ialah dalam masa dua tahun.” (Surah Luqman, 31:14)

4. Penat Dalam Mencari Nafkah

Mencari nafkah dan rezeki itu adalah perkara yang dituntut bahkan ia adalah keperluan untuk meneruskan kelangsungan hidup. Sama ada yang bekerja dari awal pagi sehingga lewat malam atau yang bekerja secara shift, semuanya pasti ada kepenatan sendiri yang perlu dilalui.

Namun, percayalah jika ia adalah rezeki dan nafkah yang halal, maka ia adalah sesuatu yang disukai Allah.

Mafhum: “Kemudian, setelah selesai sembahyang, maka bertebaranlah kamu di muka bumi (untuk menjalankan urusan masing-masing) dan carilah apa yang kamu hajati dari limpah kurnia Allah serta ingatlah akan Allah banyak-banyak (dalam segala keadaan), supaya kamu berjaya (di dunia dan di akhirat).” (Surah Al-Jumu’a, 62:10)

5. Penat Dalam Menuntut Ilmu

Apabila kita lihat cabaran-cabaran yang dilalui mahasiswa hari ini, ujiannya adalah pelbagai. Ditambah pula dengan episod COVID-19 yang perlu dilalui. Ada yang berjaga malam untuk menyiapkan tugasan, ada yang perlu menghabiskan wang untuk keperluan pelajaran dan sebagainya.

Itu semua adalah asam garam dalam belajar. Kepenatan ini, jika ia membuahkan hasil suatu hari kelak pastinya akan membuatkan anda mampu mengukir senyum lebar dan merasa berbaloi dengan kesusahan yang dialami itu.

Mafhum: “Hendaklah kamu menjadi orang-orang Rabbaniyyin (yang hanya menyembah Allah dengan ilmu dan amal yang sempurna), kerana kamu sentiasa mengajarkan isi kitab Allah itu dan kerana kamu sentiasa mempelajarinya.” (Surah Ali-Imran, 3:79)

6. Penat Dalam Urusan Keluarga

Menggalas tanggungjawab sebagai ibu bapa mahupun kakak atau abang merupakan salah satu amanah yang perlu dijalankan dengan baik. Tidak semestinya tugas menjaga keluarga itu jatuh di atas bahu orang tua sahaja, namun juga kepada anak-anak.

Setiap keluarga itu pasti mempunyai ombak dan badai yang perlu diharungi. Bukan hari-harinya disinari pelangi. Justeru, walau penat menjengah, jangan pernah berputus asa dengan ujian itu.

Mafhum: “Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah diri kamu dan keluarga kamu dari neraka yang bahan-bahan bakarannya: manusia dan batu (berhala).” (Surah At-Tahrim, 66:6)

Continue Reading

Trending