Connect with us

Islamik

Jangan Sesekali.. Inilah 13 Bahaya Cemburu Dalam Islam Bagi Suami Isteri

Published

on

Rasa cemburu kerap hadir dalam perasaan diri anda. Dimana rasa ini timbul karena rasa yang tidak suka jika orang yang anda sayangi lebih memilih orang lain dibandingkan anda. Inilah 13 bahaya cemburu dalam islam bagi suami isteri. Kalau boleh, sila elakkan agar perkara yang lebih buruk boleh berlaku kepada diri anda dan juga pasangan anda.

Di dalam bahtera rumah tangga, rasa cemburu terhadap pasangan merupakan fitrah manusia yang bisa datang kapan saja. Dimana jika rasa cemburu tidak ada, bahkan hal tersebut sangatlah dikuatirkan. Bisa jadi pasangan anda tidak memiliki rasa kasih dan sayang yang begitu besar terhadap anda.

Dalam kehidupan Nabi SAW, rasa cemburu kerap diperlihatkan oleh istri Nabi. Terutama bagi Ummu Aisyah yang memang memiliki rasa cemburu yang lebih besar dibandingkan istri-istri Nabi lainnya. Dalam hadist yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad bin Hanbali, Imam An-Nasa’i, dan Imam Abu Dawud, bahwasanya Rasulullah SAW pernah bersabda:

“Sungguh ada sifat cemburu yang disukai oleh Allah SWT yaitu sifat cemburu yang disertai dengan keragu-raguan dan ada pula sifat cemburu yang sangat dibenci oleh Allah SWT yaitu rasa cemburu yang tanpa disertai rasa keragu-raguan lagi.”

Cemburu di dalam islam sebenarnya diperbolehkan, asalkan jika rasa cemburu yang timbul tidak memiliki sifat yang berlebihan hingga menyebabkan pertengkaran di antara keduanya. Ketika Nabi SW memiliki seorang istri yang bernama Aisyah, beliau merupakan sesosok istri yang memiliki rasa cemburu yang besar kepada Nabi.

Terutama untuk istri-istri Nabi lainnya. Namun, hal tersebut tidaklah dilarang justru menjadi tolak ukur rasa cintanya kepada Nabi yang begitu besar. Hal ini berkaitan dengan keutamaan Khadijah istri Rasulullah yang begitu Beliau sayangi.

Namun bagaimana jika rasa cemburu tersebut sudah melewati batasnya. Misal seorang istri yang memiliki rasa cemburu buta terhadap suaminya hingga ia melakukan apa saja untuk menjaga suaminya dari perempuan lain.

Adakah bahaya cemburu dalam islam? Berikut pembahasan mengenai bahaya cemburu dalam islam yang memang harus anda ketahui dan pahami secara betul:

1.Rasa Percaya yang Berkurang

Saat rasa cemburu mulai menyapa pada diri anda, tentu kepercayaan yang semula anda tanamkan kepada pasangan secara perlahan mulai berkurang dengan sendirinya. Hal inilah yang ditakutkan dalam kehidupan rumah tangga. Dimana apabila rasa percaya terhadap pasangan mulai berkurang, tentu akan berakhibat fatalnya kehidupan rumah tangga yang selama ini anda bina. Anda bisa mempelajarinya dari tips menjaga hati dalam islam.

2. Ragu Terhadap Pasangan

Cemburu bisa timbul karena ada dugaan yang jelas terhadap pasangan. Maka rasa cemburu yang seperti inilah yang masih dalam tahapan yang wajar. Namun apabila keraguan yang engkau tanamkan kepada pasangan tanpa adanya landasan atau tuduhan yang kuat. Maka hal tersebut merupakan perbuatan yang dibenci oleh Allah SWT.

Nabi SAW pernah bersabda: “Ada jenis cemburu yang disukai oleh Allah SWT dan adapula cemburu yang dibenci oleh-Nya, yaitu cemburu yang didasari atas tuduhan atau sangkaan. Sedangkan cemburu yang dibenci oleh Allah SWT yaitu cemburu yang tidak dilandasi dengan keraguan.” (Sunan Al-Baihaqi).

3. Menimbulkan Persepsi yang Buruk

Kecemburuan terhadap pasangan bukan hanya mengurangi rasa percaya kepada mereka. Melainkan juga menimbulkan persepsi yang buruk kepada pasangan kita. Hal ini juga telah dijelaskan dalam firman Allah SWT yang berbunyi:

“Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa adalah apabila mereka ditimpa rasa was-was yang berasal dari syaitan, maka mereka langsung mengingat kepada-Ku. Maka dari itu pula merek akan melihat kesalahan-kesalahan.” (QS. Al-A’raf: 201).

4. Memicu Kemarahan

Dalam sebuah riwayat menyebutkan bahwa Sa’ad bin Ubadah menyatakan: “Seandainya aku telah melihat seorang laki-laki bersama istriku, maka aku akan memukulnya dengan sisi padangku yang sangat tajam.”

Saat mendengar berkataan tersebut, Rasulullah SAW bersabda:

“Tidak herankan kalian terhadap kecemburuan Sa’ad? Jika aku berada di posisiny, maka aku akan lebih cemburu daripadanya. Dan Allah SWT akan lebih cemburu lagi dari apa yang ada pada diriku.” (HR. Bukhari). Hal ini berkaitan dengan sifat marah dalam islam yang harus anda ketahui juga.

5. Ancaman Dosa

Saat kemarahan mulai ada di dalam rasa cemburu yang engkau tanamkan, maka hal tersebutlah yang mengancam dosa bagimu. Hal inilah yang paling ditakuti oleh Allah SWT. Dimana saat seseorang memiliki rasa cemburu berlebih kepada pasangannya, maka bukan nikmat atas pahala yang mereka dapatkan. Melainkan justru dosa yang terus tertumbuk dari rasa marah yang mereka tanamkan pada dirinya.

Seperti halnya dalam firman Allah SWT: “Hai orang-orang beriman, jauhkanlah dirimu dari kebanyakan prasangka, sesungguhnya yang demikian itu adalah dosa.” (QS. Al-Hujurat: 12).

6. Berburuk Sangka Terhadap Pasangan

Berburuk sangka terhadap pasangan tidak hanya memicu pertikaian diantara keduanta. Melainkan juga menimbulkan rasa yang kurang baik di dalam diri mereka. Dimana sifat inilah yang sangat dibenci oleh Allah SWT.

Dalam firman Allah SWT: Dan janganlah engkau iri hati terhadap apa yang telah Aku karuniakan terhadap sebagian dari kamu. Karena bagi (laki-laki) ada bagian dari apa yang mereka usahakan. Dan mohonlah kepada Allah SWT atas sebagian dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui atas segalanya.” (QS. An-Nisa’: 32).

7. Adanya Luka dalam Hati

Saat perasangka sudah ada di dalam hati, maka kecemburuan juga semakin menjadi-jadi. Hal inilah yang menimbulkan adanya luka dalam hati kita. Dimana saat kita merasa benci terhadap seseorang, tentu luka hati juga akan tertanam pada diri kita.

Untuk itu, islam melarang bagi mereka yang memiliki sifat cemburu yang berlebih kepada pasangannya. Baca juga mengenai cara menghilangkan dendam dalam islam dan keutamaan memaafkan dalam islam.

8. Memicu Timbulnya Permasalahan Baru

Kecemburuan yang besar bukan hanya menyakiti diantara satu pasangan kita, melainkan juga dapat memicu timbulnya permasalahn baru di dalam rumah tangga. Yang awalnya hanya sebuah prasangka kecil bisa semakin besar dengan rasa cemburu yang meluap di dalamnya. Hal inilah yang harus dihindari ketika cemburu sudah membutakan hati kita.

9. Komunikasi yang Semakin Buruk

Cemburu bukan hanya menimbulkan permasalahan baru di dalam rumah tangga, melainkan juga memperburuk komunikasi diantara keduanya. Apabila komunikasi sudah tidak terjalin seperti sediakala. Maka sebaiknya ada pihak penengah agar rasa cemburu tidak menimbulkan permasalahan yang berujung ke tanduk pertikaian.

10. Menimbulkan Pertikaian Diantara Keduanya

Saat rasa cemburu sudah memutakan mata hati anda, maka rasa sakit hati akan tertanam pada diri anda. Tidak hanya mengurangi keharmonisan di dalam rumah tangga, melainkan juga berimbas ke pertikaian diantara sepasang suami dan istri. Hal inilah yang sangat dilarang dalam islam. Dimana sebuah rumah tangga yang seharusnya dibangun dengan rasa cinta dan kasih. Justru berujung ke dalam jurang kehancuran.

11. Menyebabkan Kehancuran

Bukan hanya ketidakharmonisan di dalam rumah tangga, melainkan juga adanya permasalahan baru yang terus diungkit-ungkit. Apabila rasa cemburu sudah mengarah ke suatu yang tidak wajar dan justru menimbulkan permasalahan baru di dalam keluarga yang menyebabkan kehancuran.

Maka setidaknya ada salah satu pihak yang mencoba untuk mengalah demi keutuhan bahtera rumah tangga yang anda bina selama ini. Anda bisa mempelajari hal lain dari Baginda Nabi yaitu cara Rasulullah menyeyangi istri dan cara Rasulullah marah kepada istri.

12. Haramnya Masuk Syurga

Memiliki sifat cemburu terhadap pasangan memang dibenarkan dalam islam, namun tidak bagi mereka yang memiliki sifat cemburu hingga berlebih (cemburu buta). Sifat cemburu yang seperti inilah yang akan memicu terjadinya kehancuran di dalam rumah tangga hingga Allah SWT mengharamkan bagi mereka untuk menikmati surga-Nya.

Seperti halnya sabda Rasulullah SAW berikut ini:

“Ada tiga golonganku yang mana Allah SWT mengharamkannya masuk surga yaitu mereka pecandu khamr, mereka yang durhaka kepada orang tuanya, dan mereka yang membiarkan kefasikan dan kekafiran di dalam rumah tangganya.” (HR. An-Nasa’i).

13. Adanya Pihak yang Tersakiti

Bukan hanya dari kedua belah pihak yang merasa tersakiti, melainkan akan ada pihak lain yang akan tersakiti dari rasa cemburu yang ada dalam diri anda. Hal inilah yang bisa memicu adanya pertengkaran yang sangat dibenci oleh Allah SWT.

Sebenarnya cemburu dalam islam diperbolehkan, selama hal tersebut masih dalam batasan yang wajar. Hal tersebut juga terjadi dalam kehidupan pernikahan Rasulullah SAW bersama Aisyah istrinya. Dimana dalam sebuah hadist, Sahabat Anas bin Malik menceritakan:

“Bahwasanya Rasulullah SAW sedang berada di rumah salah satu istrinya, Anas berkata: “Menurutku adalah istrinya Aisyah. Lalu salah satu dari istri Beliau mengantarkan sebuah makanan dengan mengutus seorang sahabat lainnya. Namun pada waktu itu, istri Beliau marah dan melempar piring sehingga terbelah menjadi dua.” Kemudian Rasulullah SAW mengatakan: “Ibu kalian sedang dalam keadaan marah (cemburu). Lalu beliau menyatukan kedua pecahan piring tersebut dan merapikan makanannya seraya mengatakan: “Makanlah kalian” dan para sahabat pun memakannya”.

Di dalam islam cemburu memang diperbolehkan selama hal tersebut tidak menimbulkan bahaya di dalam keretakan rumah tangga. Semoga informasi mengenai bahaya cemburu dalam islam di atas dapat bermanfaat bagi kita semua.

Continue Reading
Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Islamik

12 Tahun Mak Meninggal, Jenazah Mak Masih Elok dan Cukup Sifat

Published

on

12 Tahun Mak Meninggal, Jenazah Mak Masih Elok dan Cukup Sifat

Sesungguhnya m4ti itu pasti dan setiap yang bernyawa pasti merasai m4ti. Namun, bagaimanakah kem4tian kita? Tiada siapa yang tahu. Semuanya bergantung kepada amalan kita di dunia ini sebagai hamba yang Maha Kuasa.

Seorang wanita yang dikenali sebagai Amina Jasmine telah berkongsi sebuah kisah mengenai ibunya yang sarat dengan pengajaran untuk dijadikan pedoman hidup. Kisah mengenai jasad ibunya yang masih terpelihara dan tidak berbau walaupun sudah dikebumikan 12 tahun lalu. Jom kita ikuti perkongsiannya dibawah.

Alhamdulillah selesai pemindahan kubur mak.

12 tahun mak pergi mengadap Illahi. Jenazah mak elok, masih dlm keadaan kiam. Kain kafan mak tak koyak, bantal dan tali masih ada. Susuk badan mak jelas dipandangan mata kami yang menyaksikan tadi. Cukup sifat dan tak berbau. Allahuakhbar, Maha Suci Allah.

Dia wanita yang lembut. Tak suka mengata org lain, tak suka menc3rca orang lain. Mak sangat mudah mengalirkan air mata. Hatinya bak tisu mudah terkoyak. Setiap c3rca orang mak balas dengan senyuman dan air mata. Dengan suami mak bersabar.

Dan siapa sangka dalam kepadatan Tanah Perkuburan Bukit Alip, mak dapat dikebumikan sebelah ku bur arwah ayah. Maha Suci Allah.

Setelah 12 tahun mak pergi, Allah beri aku ‘sesuatu’, tentang hidup ni, hati ini dan keinsafan ini. Cari redha Allah.

Tali kain kafan mak setelah 12 tahun. Masih elok tak reput berada disisi m4yat.

Mayat Tidak Hancur Tanda Allah Redha?

Tidak kurang kisah penyebaran peristiwa ajaib seperti mayat seseorang yang telah meninggal dunia dikalangan masyarakat kita. Kisahnya bermacam versi, kebanyakkan adalah kisah setelah lama kematian seseorang itu lalu kuburnya digali semula didapati mayatnya tidak reput dan tidak hancur malah seakan-akan baru sahaja ditanam. Fenomena ini dikenali sebagai incorruptible body. Lalu hasil dari kejadian sebegitu, ramai orang menyandarkan peristiwa itu adalah petanda Allah menjaga jasad tersebut. Lalu mereka akan mengaitkan bahawa individu ini dahulunya adalah seorang huffaz yang menghafal al Quran, orang soleh, atau orang yang baik-baik dan sebagainya.

Peristiwa mayat tidak reput ini tidak dinafikan sememangnya berlaku. Malah di dalam sebuah hadis nabi Muhammad SAW menyebut:

اَفْضَلُ اَيَّامِكُمُ الْجُمْعَةُ فِيْهِ خُلِقَ آدَمُ وَ فِيْهِ قُبِضَ وَ فِيْهِ النَّفْخَةُ وَ فِيْهِ الصَّعْقَةُ فَاكْثِرُوا عَلَيَّ مِنَ الصَّلاَةِ فَإِنَّ صَلاَتَكُمْ مَعْرُوضَةٌ عَلَيَّ قَالُوا وَ كَيْفَ تُعْرَضُ صَلاَتُناَ عَلَيْكَ وَ قَدْ اَرمَتَّ يَقُولُونَ بَلِيْتَ فَقَالَ اِنَّ اللهَ حَرَّمَ عَلَى الْأَرْضِ اَنْ تَأْكُلَ اَجْسَادَ الْأَنْبِيَاءِ

“Hari yang paling utama adalah hari Jumaat. Pada hari itu Adam diciptakan, pada hari itu dia meninggal, pada hari itu sangkakala ditiup dan pada hari itu terjadi kiamat, maka perbanyaklah kalian berselawat kepadaku di hari itu, kerana selawat kalian akan diperlihatkan kepadaku”). Para sahabat bertanya, “Bagaimana selawat kami diperlihatkan kepadamu padahal kamu telah menjadi debu?” Baginda menjawab, “Sesungguhnya Allah ta’ala telah mengharamkan bumi dari memakan jasad para Nabi.”

Hadis di atas diriwayatkan oleh Said bin Manshur, Ibnu Abu Syaibah, Ahmad dalam Musnad-nya, Ibnu ‘Ashim dalam bab berselawat, Abu Daud, al-Nasa’i dan Ibnu Maajah dalam kitab sunan mereka, al-Thabrani dalam kitab Mu’jam-nya, Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibban dan al-Hakim dalam kitab Shahih mereka, dan al-Baihaqi dalam Hayat al-Anbiya’ dan Syu’ab al-Iman dan karangannya yang lain.

Perlu diketahui hadis, “Sesungguhnya Allah ta’ala telah mengharamkan bumi dari memakan jasad para Nabi.”, telah datang dari jalan yang banyak yang dikumpulkan oleh al-Hafiz al-Mundziri dalam bahagian khusus dan dia berkata dalam al-Targhib wal Tarhib, “Hadits tersebut diriwayatkan oleh Ibnu Maajah dengan sanad yang jayyid (sangat bagus) dan diriwayatkan oleh Ahmad, Abu Daud, Ibnu Hibban dalam kitab shahihnya dan al-Hakim, dan dia juga menshahihkan hadits tersebut.”

Dalil hadis hanya mengkhususkan bahawa jasad para nabi sahaja dijaga dan tidak dimakan oleh tanah. Sememangnya jasad para nabi akan dijaga berdasarkan hadis ini, dan hadis ini tidaklah mengkhususkan bahawa kesemua jasad yang tidak dimakan tanah itu kesemuanya adalah jasad para nabi kerana terdapat juga jasad-jasad yang lain turut tidak dimakan oleh tanah. Ini kerana dalam konteks hadis ini tidak juga memberi isyarat bahawa perkara itu tidak berlaku kepada orang lain. Malah ia juga berlaku kepada orang yang Allah murkai.
Malah fenomena ini juga berlaku kepada mana-mana manusia di dunia ini. Jika dilihat di negara-negara lain juga terdapat kejadian seperti ini. Tetapi untuk menyandarkan peristiwa ini semata-mata sebagai penanda aras mayat itu diredhai oleh Allah adalah suatu yang perlu berhati-hati.

Sedangkan hal tersebut juga terjadi kepada orang jahat yang dilaknat oleh Allah sepertimana Firaun, firman Allah yang bermaksud:

“Maka pada hari ini Kami selamatkan badanmu supaya kamu dapat menjadi pelajaran bagi orang-orang yang datang sesudahmu dan sesungguhnya kebanyakan dari manusia lengah dari tanda-tanda kekuasaan Kami.” (Yunus: 92)

Jika ingin dikatakan jasad yang ditanam tidak reput dan rosak dimamah tanah itu adalah petanda aras adalah kebenaran kepada agama, maka bagaimana pula dengan jasad firaun juga yang dipelihara oleh Allah sehingga kekal pada hari ini? Begitu juga dengan peninggalan mayat-mayat di Pompeii yang diselaputi dengan letusan gunung berapi yang masih tersisa sehingga hari ini, adakah peninggalan itu menjadi tanda aras Allah meredhai mereka?

Begitu juga hal ini menjadi modal yang dijaja oleh penganut Kristian di Barat terutama denominasi Katolik. Mereka memiliki banyak koleksi mayat dari kalangan paderi (saint) yang tidak reput malah diletakkan di dalam bekas kaca untuk ditonjolkan kepada orang ramai bahawa paderi itu merupakan orang baik dan mayatnya itu dirahmati oleh Tuhan. Antaranya adalah St. Luigi Orione, St. John Neumann, St. Pio da Pietrelcina, St. Bernadette Soubirous dan banyak lagi.

Malah terdapat ramai tokoh agama yang saling mengejar peristiwa seperti ini untuk dijadikan sebagai penanda aras bagi kebenaran dan keredhaan Tuhan berpihak kepada mereka.

Kita tidak menafikan kuasa Allah dalam menguruskan alam ini. Apa yang mahu dibawa dalam perbicangan ini adalah perlunya mengubah cara berfikir dengan menyandarkan sesuatu perkara itu dengan aras ‘kebenaran’ dan ‘keredhaan’ Allah. Sedangkan kejadian Allah menjaga mayat seseorang dengan petanda Allah meredhainya itu tidak disebut khusus di dalam nas kecuali mengenai jasad para nabi sahaja.

Akan tetapi, masyarakat kita menyebar peristiwa itu seakan agama yang bercakap soal ukuran aqidah keimanan itu. Oleh itu membina pemikiran yang bebas dari sangkaan dan sikap rasa-rasa dalam beragama bukanlah sesuatu yang mudah untuk melawan arus masyarakat yang sedia terjinak dengan perkara-perkara ajaib ini. Terutama untuk membezakan diantara perkara itu berlaku bukan sebagai petanda aras kebenaran semata-mata. Perkara ini perlu diperhalusi dan jangan dirangkul pukal sekali bahawa ia adalah dalil semata-mata untuk kita.
Oleh itu untuk kembali berdiri dengan aqidah yang dibawa oleh al Quran dan Hadis adalah penting untuk membina pemikiran yang berhati-hati terhadap perkara yang melibatkan dengan sentimen keimanan.

Sumber : Amina Jasmine

Continue Reading

Islamik

Rezeki Datang Mencurah-Curah Bila Kita Amalkan Menyuap Isteri & Anak Makan

Published

on

Rezeki Datang Mencurah-Curah Bila Kita Amalkan Menyuap Isteri & Anak Makan

Semasa pergi ke hospital semalam, datang seorang lelaki yang baik mengajak saya duduk berbual kerana dia ada masalah. Dia bercerita yang kehidupan keluarganya sangat sempit dan tidak tenteram. Asyik bergaduh saja dan rasa sakit jiwa.

“Saya dah usaha macam-macam cara dah. Tak tahu nak buat macam mana dah,” katanya.

“Abang makan, ada suapkan makanan dalam mulut isteri tak?” saya tanya.

“Tak pernah ustaz,” jawabnya.

“Abang pernah menyuap makanan ke dalam mulut anak-anak tak?” soalan saya kemudian dijawab dengan jawapan yang sama.

“Orang dulu-dulu tak adalah kaya sangat tetapi kehidupan keluarga penuh dengan kasih sayang, rezeki pun cukup saja, rasa tenang dan berkat. Sebab janji Allah dengan menghargai keluarga, rezeki bertambah.

Sekarang? Dah banyak keluarga yang tak makan sekali apatah lagi suami menyuap isteri dan anak-anak. Ada yang masih makan bersama tetapi sambil makan, tangan sibuk melayan handphone, mata sibuk melayan tv. Ya Allah.

“Bila isteri makan dari tangan kita, terasa bahagia sangat. Bila kita menyuap isteri makanan kerana cinta, kerana Allah walaupun cuma beberapa suap, terasa nikmatnya. Buat pula tergigit jari sikit. Hehe! Sunnah berjemaah.
Juga makan satu bekas yang sama. Sekarang satu dulang rumah saya, kami makan berlima. Kadang-kadang anak pula berebut nak menyuap makanan ke mulut mak dan ayahnya sekali sekala.

“Cuba abang amalkan menyuap isteri dan anak-anak. Orang yang tidak mengasihi tidak akan dikasihi. Kasihilah keluarga, lihatlah bagaimana rezeki datang mencurah-curah,” jelas saya padanya.

“Baiklah ustaz. Saya nampak itulah jalan yang saya tidak pernah fikir. Rezeki datang bila kita berkasih sayang dan menghargai keluarga,” katanya.

Bila isteri suapkan saya, terasa best sangat nikmat. Ya Allah, inilah nikmat dunia ini. Ya Allah, berilah kami terus dapat menikmatinya dan bersama dalam syurga.

Oleh: Ustaz Ebit Lew

Continue Reading

Islamik

6 Jenis Penat Yang Meletihkan Tapi Tinggi Pahalanya Di Sisi Allah. No 3 Yang Paling Besar Ganjarannya

Published

on

6 Jenis Penat Yang Meletihkan Tapi Tinggi Pahalanya Di Sisi Allah. No 3 Yang Paling Besar Ganjarannya

Ada orang penat kerana kerja seharian, ada yang penat belajar, bahkan ada yang penat kerana tengah sarat mengandung. Dan macam-macam lagi jenis kepenatan yang dirasai oleh kita. Lain orang pasti lain pengalamannya dan ujian yang perlu ditempuh.

Namun, jika apa yang anda lakukan itu adalah kerana diri sendiri, agama dan juga untuk Allah, pasti akan ada ganjaran yang Allah berikan. Sedarkah anda, setiap kepenatan dan peluh yang dilalui itu ada jenisnya yang disukai Allah? Ada diceritakan melalui beberapa dalil mengenai jenis kepenatan yang disukai Allah, antaranya;

1. Penat Dalam Mengajak Kepada Kebaikan

Dalam kita menegur atau berdakwah ke arah kebaikan, tidak semua orang suka kepadanya. Ada yang akan mengambil masa yang lama untuk menerimanya dan ada juga yang langsung tidak mengendahkan apa yang kita sampaikan.

Jangan berputus asa! Yang paling penting ialah kita sendiri yang perlu sentiasa sabar dan terus berdakwah ke arah kebaikan. Walau kita penat kerana apa yang dilakukan itu kadang-kadang sehingga boleh menimbulkan kecaman, namun percayalah setiap usaha yang dilakukan amatlah disukai Allah.

Mafhum: “Dan tidak ada yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada (mengesakan dan mematuhi perintah) Allah, serta ia sendiri mengerjakan amal yang soleh.” (Surah Fussilat, 41:33)

2. Penat Dalam Beribadah

Hati manusia itu sentiasa berbolak-balik. Ada masa-masanya mungkin perasaan suka akan beribadat itu boleh diganti dengan perasaan yang lesu dan lemau. Apabila berada dalam situasi ini, salah satu sebabnya adalah kerana penat. Penat dalam beribadah ialah penat yang disukai Allah. Kerana kita telah meletakkan tenaga kita kepadaNya.

Jangan risau. Perasaan itu boleh sembuh jika kita tidak memaksa. Cuba untuk berehat dan cari balik motivasi untuk beribadah.

Mafhum: “Dan orang-orang yang berusaha dengan bersungguh-sungguh kerana memenuhi kehendak agama Kami, sesungguhnya Kami akan memimpin mereka ke jalan-jalan Kami (yang menjadikan mereka bergembira serta beroleh keredaan).” (Surah Al-Ankabut, 29:69)

3. Penat Mengandung, Melahirkan Dan Menyusukan

Wanita yang mengandung, melahirkan dan menyusu anaknya akan mengalami kepenatan dan kesakitan yang hanya dilalui oleh mereka. Betapa hebatnya wanita sehingga Allah memberi kekuatan kepada mereka sedemikian rupa.

Kepenatan yang dialaminya itu merupakan salah satu perkara yang disukai Allah kerana ia adalah pengorbanan yang luar biasa yang dilakukan untuk melahirkan khalifah di muka bumi. Hatta, ibu bapa yang penat membesar dan mendidik anak juga akan diberi ganjaran pahala yang tidak ternilai.

Mafhum: “Dan Kami wajibkan manusia berbuat baik kepada kedua ibu bapanya; ibunya telah mengandungnya dengan menanggung kelemahan demi kelemahan (dari awal mengandung hingga akhir menyusuinya), dan tempoh menceraikan susunya ialah dalam masa dua tahun.” (Surah Luqman, 31:14)

4. Penat Dalam Mencari Nafkah

Mencari nafkah dan rezeki itu adalah perkara yang dituntut bahkan ia adalah keperluan untuk meneruskan kelangsungan hidup. Sama ada yang bekerja dari awal pagi sehingga lewat malam atau yang bekerja secara shift, semuanya pasti ada kepenatan sendiri yang perlu dilalui.

Namun, percayalah jika ia adalah rezeki dan nafkah yang halal, maka ia adalah sesuatu yang disukai Allah.

Mafhum: “Kemudian, setelah selesai sembahyang, maka bertebaranlah kamu di muka bumi (untuk menjalankan urusan masing-masing) dan carilah apa yang kamu hajati dari limpah kurnia Allah serta ingatlah akan Allah banyak-banyak (dalam segala keadaan), supaya kamu berjaya (di dunia dan di akhirat).” (Surah Al-Jumu’a, 62:10)

5. Penat Dalam Menuntut Ilmu

Apabila kita lihat cabaran-cabaran yang dilalui mahasiswa hari ini, ujiannya adalah pelbagai. Ditambah pula dengan episod COVID-19 yang perlu dilalui. Ada yang berjaga malam untuk menyiapkan tugasan, ada yang perlu menghabiskan wang untuk keperluan pelajaran dan sebagainya.

Itu semua adalah asam garam dalam belajar. Kepenatan ini, jika ia membuahkan hasil suatu hari kelak pastinya akan membuatkan anda mampu mengukir senyum lebar dan merasa berbaloi dengan kesusahan yang dialami itu.

Mafhum: “Hendaklah kamu menjadi orang-orang Rabbaniyyin (yang hanya menyembah Allah dengan ilmu dan amal yang sempurna), kerana kamu sentiasa mengajarkan isi kitab Allah itu dan kerana kamu sentiasa mempelajarinya.” (Surah Ali-Imran, 3:79)

6. Penat Dalam Urusan Keluarga

Menggalas tanggungjawab sebagai ibu bapa mahupun kakak atau abang merupakan salah satu amanah yang perlu dijalankan dengan baik. Tidak semestinya tugas menjaga keluarga itu jatuh di atas bahu orang tua sahaja, namun juga kepada anak-anak.

Setiap keluarga itu pasti mempunyai ombak dan badai yang perlu diharungi. Bukan hari-harinya disinari pelangi. Justeru, walau penat menjengah, jangan pernah berputus asa dengan ujian itu.

Mafhum: “Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah diri kamu dan keluarga kamu dari neraka yang bahan-bahan bakarannya: manusia dan batu (berhala).” (Surah At-Tahrim, 66:6)

Continue Reading

Trending