Connect with us

Islamik

Subhanallah!! Inilah Sebab Seseorang Sukar Mengucap Kalimah Syahadah Ketika Sakaratulmaut

Published

on

Kenapa bibir kita (atas dan bawah) tidak bergerak sewaktu kita mengucapkan kalimah Laaila ha illallaah? Cuba ucapkan Laaila ha illallah, kedua bibir kita tak bergerak kan? Belum percaya? Cuba ulangi lagi “Laaila ha illallah”. Kenapa dan mengapa?

Jawabannya: Itulah rahmat Allah yang amat besar kepada hamba-hambaNya. Disaat sakaratul maut, tubuh kita tidak boleh berbuat apa-apa. Allah memberikan pilihan paling mudah untuk hamba-Nya untuk melafadzkan Laila ha illallah atau Laa Ilaaha Ilallaah.
Allah tidak menuntut badan kita bergerak sedikitpun bahkan bibir kita. Ini kerana seseorang yang didatangi sakaratul maut (nazak) dia sudah tidak berdaya lagi menggerakkan seluruh tubuhnya kecuali lidahnya saja.

Sedemikian besarnya Allah memberikan kemudahan saat orang-orang menghadapi kematian.

Sebahagian mungkin akan mendapatkan kesulitan untuk mengucapkan kalimah ini walaupun ia nya nampak mudah.Tetapi ketika sakaratul maut untuk memudahkan kita mengucap kalimah ini adalah bergantung kepada amal kita. Tapi Allah benar-benar tidak menginginkan umat Islam masuk neraka, kerana begitu sakitnya neraka, begitu tidak mampunya manusia masuk neraka, begitu luasnya neraka dan begitu ngerinya neraka.

Seandainya saja percikan setitis api neraka turun kebumi, maka bumi dan isinya akan hancur luluh.
أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ الْعَظِيمَ الَّذِي لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْحَيَّ الْقَيُّومَ وَأَتُوبُ إِلَيْه

Sakaratul Maut, tentang Kesakitan dan Apa Yang Memudahkannya

Kehadiran Malaikat Maut

Jika ajal telah tiba dan manusia sedia untuk memasuki alam ghaib, Allah S.w.t mengutus Malaikat Maut untuk mencabut roh yang mengatur dan menggerakkan badan. Allah berfirman maksudnya; “Dan Dialah yang mempunyai kekuasaan tertinggi di atas semua hamba-Nya, dan diutus-Nya kepadamu malaikat-malaikat penjaga, sehingga apabila datang kematian kepada salah seorang di antara kamu, dia diwafatkan oleh malaikat-malaikat Kami, dan malaikat-malaikat Kami itu tidak melalaikan kewajibannya.” [Surah Al-An’aam : ayat 61]

Malaikat Maut mendatangi seorang mukmin dalam rupa yang baik dan bagus. sedangkan kepada orang kafir dan munafiq, dia datang dalam bentuk yang menakutkan.

Dalam hadits dari Al-Barra’ ibnu ‘Azib diriwayatkan bahawa Rasulullah S.a.w bersabda; “Sesungguhnya jika seorang mukmin berada dalam keadaan berpisah dari dunia dan menuju Akhirat, malaikat dari langit turun kepadanya. Wajah mereka putih bagai matahari. Mereka membawa kafan dan wangian dari syurga, lalu mereka duduk di depannya sejauh pandangan sihamba. Kemudian datanglah Malaikat Maut as. lalu duduk dekat kepalanya lalu berkata, “Wahai jiwa yang baik (dalam riwayat lain – jiwa yang tenang), keluarlah menuju keampunan dan redha Tuhanmu!” Lalu jiwa itu keluar mengalir seperti titisan air mengalir dari mulut bekas air, lalu malaikat mengambilnya. Jika seorang kafir (dalam riwayat lain – orang jahat) sedang dalam keadaan terputus dari Akhirat dan menghadapi dunia, dari langit turun kepadanya malaikat, yang galak, bengis dan hitam wajahnya dengan memakai pakaian yang menjijikkan (dari neraka). Para malaikat itu duduk sejarak pandangan matanya. Kemudian datanglah Malaikat Maut dan duduk dekat kepalanya lalu berkata; “Wahai jiwa yang busuk, keluarlah menuju kebencian dan murka Allah!” Lalu ia berpisah dari jasadnya, dan si malaikat mencabut nyawanya seperti bulu wol yang tebal dan basah dicabut (bersamaan dengan itu terputuslah urat-urat dan sarafnya).” [HR Ahmad, Abu Daud, Al-Hakim, dinilai Sahih oleh Imam Ibnu Qayyim dalam I’lam al-Muwaqqiin]

Hadits di atas menyatakan bahawa Malaikat Maut memberi khabar gembira kepada Mukmin bahawa dia mendapat keampunan dan redha Allah, dan memberi khabar buruk kepada sikafir bahawa dia mendapat kebencian dan murka Allah. Hal seperti ini juga dijelaskan dalam banyak ayat Al-Quran. Allah S.w.t berfirman; “Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: `Rabb kami ialah Allah, kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengatakan); “Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih, dan bergembiralah kamu dengan (memperolehi) syurga yang telah dijanjikan Allah kepadamu.” [Surah Fusshilat : ayat 30]

“(Iaitu) orang-orang yang dimatikan dalam keadaan baik oleh para malaikat dengan mengatakan (kepada mereka); “Salamun ‘alaikum (selamat sejahtera ke atasmu)”, masuklah ke dalam syurga itu disebabkan apa yang telah kamu kerjakan”. [Surah An Nahl : 32]

Adapun terhadap orang-orang kafir, malaikat turun kepada mereka dalam keadaan sebaliknya. Allah S.w.t berfirman; “Sesungguhnya orang-orang yang diwafatkan malaikat dalam keadaan menganiaya diri sendiri, (kepada mereka) malaikat bertanya; “Dalam keadaan bagaimana kamu ini?” Mereka menjawab; “Adalah kami orang-orang yang tertindas di negeri (Mekah).” Para malaikat berkata; “Bukankah bumi Allah itu luas, sehingga kamu dapat berhijrah di bumi itu?” Orang-orang itu tempatnya neraka Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali.” [Surah An-Nisaa’ : ayat 97] [1]

Menurut riwayat Ibnu `Abbas; beberapa orang Islam turut berperang bersama kaum musyrikin, menentang Nabi Muhammad S.a.w. Dalam peperangan itu di antara mereka ada yang mati kena panah dan ada pula yang mati kena pedang, lalu turunlah ayat di atas. [Riwayat Bukhari]

Dalam ayat di atas, Allah menerangkan segolongan orang Islam yang tetap tinggal dl Mekah. Mereka menyembunyikan keislaman mereka dari penduduk Mekah dan mereka tidak ikut berhijrah ke Madinah, padahal mereka mempunyai keupayaan untuk melakukan hijrah. Mereka merasa senang tinggal di Mekah. Walaupun mereka tidak mempunyai kebebasan mengerjakan ajaran-ajaran agama dan membinanya. Allah menghidupkan mereka sebagai orang yang menganiaya diri sendiri.

Sewaktu perang Badar berlaku, mereka di bawa ikut berperang oleh orang musyrikin menghadapi Rasulullah S.a.w. Dalam peperangan ini sebahagian mereka mati terbunuh. [2]

Sakaratul Maut

“Setiap jiwa akan merasai mati.” [Surah Aali ‘Imran : ayat 185

Setiap manusia ketika meregang nyawa mengalami sakaratul maut sebagaimana dijelaskan dalam ayat, “Dan datanglah sakaratul maut dengan sebenar-benarnya. Itulah yang kamu selalu lari darinya.” [Surah Qaaf : ayat 19]

Sakaratul maut bermakna kesulitan dan kesukaran maut. Ar-Raghib berkata dalam al-Mufradat, “Kata sakar adalah suatu keadaan yang menghalang antara seseorang dengan akalnya. Dalam penggunaannya, kata ini banyak dipakai untuk makna minuman yang memabukkan. Kata ini juga membawa maksud marah, rindu, sakit, ngantuk dan keadaan tidak sedar (pengsan) yang disebabkan oleh rasa sakit. ” [3]

Rasulullah S.A.W pernah mengalami sakaratul maut. “Bahawa di hadapan Rasulullah ada satu bekas kecil dari kulit yang berisi air. Baginda memasukkan tangan ke dalamnya dan membasuh muka dengannya seraya berkata: “Laa Ilaaha Illa Allah. Sesungguhnya kematian mempunyai sakaratul maut.” Dan baginda menegakkan tangannya dan berkata: “Menuju Rafiqil A’la”. Sampai akhirnya nyawa baginda tercabut dan tangannya lemah.” [HR Bukhari, kitab Riqab, bab Sakaratul Maut, 6510 dan kitab Maghazi , bab Sakit dan wafatnya Nabi, 4446]

Aisyah bercerita mengenai sakitnya Rasulullah S.A.W, “Aku tidak melihat sakit pada seseorang yang lebih keras berbanding yang dialami Rasulullah S.A.W.”

Aisyah juga pernah masuk ke bilik ayahnya Abu Bakar yang sedang sakit menjelang wafatnya. Tatkala sakit itu semakin berat, Aisyah mengucapkan sebait syair:

“Kekayaan tidak bermakna apa-apa bagi seorang pemuda ketika mati melewati kerongkongannya dan menyesakkan dadanya.”

Lalu Abu Bakar membuka wajahnya dan berkata, “Bukan begitu, yang benar (mengutip sebuah ayat Al-Quran) “Dan datanglah sakaratul maut dengan sebenar-benarnya. Itulah yang kamu selalu lari darinya.”

Beberapa tokoh menceritakan pengalaman sakaratul maut mereka. Di antaranya adalah Amru ibn al-‘Ash. Saat dia sakarat, anaknya berkata kepadanya, “Wahai ayahku, engkau pernah mengatakan, “Semoga saja aku bertemu dengan seorang laki-laki yang berakal ketika maut menjemputnya agar dia melukiskan kepadaku apa yang dilihatnya!” “Sekarang, engkaulah orang itu. Maka ceritakanlah kepadaku!” Ayahnya menjawab, “Anakku, demi Allah seakan-akan bahagian sampingku berada di katil, seakan-akan aku bernafas dari jarum beracun, seakan-akan duri pohon ditarik dari tapak kaki hingga kepala.” Kemudian dia mengucapkan sebaris bait syair:

“Aduhai, andai saja sebelum hal yang telah jelas di hadapanku ini terjadi aku berada di puncak gunung sambil menggembala kambing gunung.” [4]

Mengapa Rasulullah S.a.w menderita ketika Sakaratul Maut?

Keadaan umum proses pencabutan nyawa seorang mukmin adalah mudah lagi ringan. Namun kadang-kadang derita Sakaratul Maut juga mendera sebahagian orang soleh. Tujuannya untuk menghapuskan dosa-dosa dan juga mengangkat kedudukannya. Sebagaimana yang dialami Rasulullah. Baginda Shallallallahu ‘alaihi wa sallam merasakan pedihnya Sakaratul Maut seperti diungkapkan Bukhari dalam hadits’ Aisyah di atas tadi. [5]

Ibnu Hajar Al-Asqolani berkata: “Dalam hadis tersebut, kesengsaraan Sakaratul Maut bukan petunjuk atas kehinaan martabat (seseorang). Dalam konteks orang yang beriman dapat untuk menambah kebaikannya atau menghapus kesalahan-kesalahannya.” [6]

Menurut Al Qurthubi dahsyatnya kematian dan sakaratul maut yang menimpa para nabi, mengandungi manfaat:

Pertama: Supaya orang mengetahui kadar sakitnya kematian dan ia (sakaratul maut) tidak dapat dilihat mata. Kadang-kala ada seseorang melihat orang lain yang akan meninggal. Tidak ada gerakan atau kegoncangan. Kelihatan roh keluar dengan mudah. Sehingga dia berfikir, perkara ini (sakaratul maut) ringan. Dia tidak mengetahui apa yang terjadi pada mayat (sebenarnya). Tatkala para nabi, menceritakan tentang dahsyatnya penderitaan dalam kematian, walaupun mereka mulia di sisi Allah, dan kemudahannya untuk sebahagian mereka, maka orang akan yakin dengan kepedihan kematian yang akan dia rasakan dan dihadapi mayat secara mutlak, berdasarkan khabar dari para nabi yang jujur ​​kecuali orang yang mati syahid.

Kedua: Mungkin akan terdetik di benak sebahagian orang, mereka adalah para kekasih Allah dan para nabi dan rasul-Nya , mengapa mengalami kesengsaraan yang berat ini? Padahal Allah mampu meringankan bagi mereka? Jawabnya, bahawa orang yang paling berat ujiannya di dunia adalah para nabi kemudian orang yang menyerupai mereka dan orang yang semakin serupa dengan mereka seperti dikatakan Nabi kita. Hadits ini dikeluarkan Bukhari dan lain-lain. Allah ingin menguji mereka untuk melengkapkan keutamaan dan peningkatan darjat mereka di sisi-Nya. Ini bukan suatu aib bagi mereka juga bukan bentuk seksaan. Allah menginginkan menutup hidup mereka dengan penderitaan ini meskipun mampu meringankan dan mengurangkan (kadar penderitaan) mereka dengan tujuan mengangkat kedudukan mereka dan memperbesar pahala-pahala mereka sebelum meninggal. Tapi bukan bererti Allah merumitkan proses kematian mereka melebihi kepedihan orang-orang yang bermaksiat. Sebab (kepedihan) ini adalah hukuman bagi mereka dan sekatan untuk kejahatan mereka. Maka tidak boleh disamakan.” [7]

Yang meringankan Sakaratul Maut

Rasulullah S.A.W memberitahu kepada kita bahawa sakaratul maut akan diringankan bagi orang yang mati syahid di medan perang. Abu Hurairah meriwayatkan bahawa Rasulullah S.A.W bersabda, “Orang yang mati syahid tidak merasakan sakitnya terbunuh, kecuali seperti sakitnya dicubit.” [Diriwayatkan oleh at-Turmudzi, an-Nasa’i dan ad-Darimi. Imam at-Turmudzi berkata, “Hadis ini hasan gharib.”] [8]

Doa agar dipermudahkan Sakaratul Maut
اللهم هون علينا سكرات الموت

“Allahumma hawwin ‘alainaa sakaraatil maut”.

“Ya Allah, permudahkan kepada kami Sakaratul Maut.”

Jika mahukan yang lebih panjang, seperti di bawah;
اللهم انا نسألك سلامة في الدين و عافية في الجسد و زيادة في العلم و بركة في الرزق, وتوبة قبل الموت و رحمة عند الموت و مغفرة بعد الموت اللهم هون علينا سكرات الموت والنجاة من النار والعفو عند الحساب

“Allahumma innaa nas-aluka salaamatan fid-din, wa ‘aafiatan fil-jasad, wa ziyaadatan fil-ilmi, wa barakatan fir-rizqi, wa taubatan qablal maut, wa rahmatan ‘indal maut, wa maghfiratan ba’dal maut, Allahumma hawwin ‘alainaa sakaraatil-maut, wan-najaata minan-naar, wal’afwa ‘indal hisaab.”

“Ya Allah, kami mohon keselamatan dalam agama, dan afiat pada badan kami, bertambah ilmu, berkat dalam rezeki, taubat sebelum mati, rahmat ketika mati (Sakaratul Maut), keampunan selepas mati, Ya Allah permudahkanlah kepada kami Sakaratul Maut, selamat dari api neraka dan keampunan ketika dihisab.”

Wallahu a’lam …….

Rujukan:

1 – Dr. ‘Umar Sulaiman Al-Asyqar – Ensiklopedia Kiamat, hal 32-35.
2 – Tafsir Ibnu Kasir, jilid I, hal. 542.
3 – Imam Ibnu Hajar al-Asqolani – Fathul Bari, 11, hal.362.
4 – Dr. ‘Umar Sulaiman Al-Asyqar – Ensiklopedia Kiamat, hal 35-39.
5 – Dr. Muhammad bin Abdul Aziz bin Ahmad Al-‘Ali – Sakaratul Maut, detik-detik yang menegangkan dan menyakitkan. Majalah As-Sunnah Edisi 12/Tahun VIII/1426H/2005.
6 – Fathul Bari 11 , hal. 363.
7 – Misykat al-Mashobih, II, hal. 358 , hadits no: 3836. Pentahqiqnya berkata, “Sanadnya Hasan”.
8 – At Tadzkirah Fi Ahwali Al-Mauta Wa ‘umuri Al-Akhirah (1/48-50) dengan diringkaskan.

Sumber: newklise.wordpress.com
Sumber 2: unikversiti.blogspot.my

Continue Reading
Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Islamik

Subhanallah! Ini Misteri Hajarul Aswad Dan Rahsia Besar Mengucupnya.

Published

on

Subhanallah! Ini Misteri Hajarul Aswad Dan Rahsia Besar Mengucupnya.

Hajarul Aswad adalah batu hitam yang terletak di sudut sebelah Tenggara Ka’bah, iaitu sudut dari mana Tawaf dimulai. Hajar Aswad merupakan jenis batu ‘Ruby’ yang diturunkan Allah dari syurga melalui malaikat Jibril.

Hajarul Aswad terdiri dari lapan keping yang terkumpul dan diikat dengan lingkaran perak. Batu hitam itu sudah licin kerana terus menerus di kecup, dicium dan diusap-usap oleh jutaan malah milion manusia sejak Nabi Ibrahim a.s, iaitu jamaah yang datang ke Baitullah, baik untuk haji mahu pun untuk tujuan Umrah.

Hadist Sahih riwayat Imam Bathaqie dan Ibnu ‘Abas RA, bahawa Rasul SAW bersabda: “Allah akan membangkitkan Al-Hajar (Hajarul Aswad) pada hari kiamat. Ia dapat melihat dan dapat berkata. Ia akan menjadi saksi terhadap orang yang pernah memegangnya dengan ikhlas dan benar”.

Hadis tersebut mengatakan bahawa disunatkan membaca doa ketika hendak istilam (mengusap) atau melambainya pada permulaan thawaf atau pada setiap putaran, sebagai mana, diriwayatkan oleh Ibnu Umar RA. Artinya:

“Bahawa Nabi Muhammad SAW datang ke Ka’bah lalu diusapnya Hajarul Aswad sambil membaca Bismillah Wallahu Akbar”. Asal Usul Hajarul Aswad Ketika Nabi Ibrahim a.s bersama anaknya membina Ka’bah banyak kekurangan yang dialaminya.

Pada mulanya Ka’bah itu tidak ada bumbung dan pintu masuk. Nabi Ibrahim a.s bersama Nabi Ismail mahu membinanya dengan meninggikan bangunannya dan mengangkut batu dari berbagai gunung. setelah bangunan Ka’bah itu hampir selesai, ternyata Nabi Ibrahim masih merasa kekurangan seketul batu lagi untuk diletakkan di Kaabah.

Nabi Ibrahim berkata pada Nabi Ismail, “Pergilah engkau mencari seketul batu yang akan aku letakkan sebagai penanda bagi manusia.” Kemudian Nabi Ismail a.s pun pergi dari satu bukit ke satu bukit untuk mencari batu yang baik dan sesuai. Ketika Nabi Ismail a.s sedang mencari batu di sebuah bukit, tiba-tiba datang malaikat Jibril a.s memberikan sebuah batu yang cantik.

Nabi Ismail dengan segera membawa batu itu kepada Nabi Ibrahim a.s. Nabi Ibrahim a.s. merasa gembira melihat batu yang sungguh cantik itu, beliau menciumnya beberapa kali. Kemudian Nabi Ibrahim a.s bertanya, “Dari mana kamu dapat batu ini?” Nabi Ismail berkata, “Batu ini kuterima dari yang tidak memberatkan cucuku dan cucumu (Jibril).

” Nabi Ibrahim mencium lagi batu itu dan diikuti oleh Nabi Ismail a.s. Sehingga sekarang Hajarul Aswad itu dicium oleh orang-orang yang pergi ke Baitullah. Siapa saja yang bertawaf di Ka’bah disunnahkan mencium Hajarul Aswad.

Rahsia Besar Yang Tidak Pernah Kita Bayangkan Sebelumnya

1. Satu riwayat Sahih dinyatakan: “Hajarul Aswad dan Makam Ibrahim berasal dari batu-batu ruby syurga yang kalaulah tidak kerana sentuhan dosa-dosa manusia akan dapat menyinari antara timur dan barat.

Setiap orang sakit yang memegangnya akan sembuh dari sakitnya” Hajarul Aswad dicium oleh berjuta-juta jemaah haji Duhulunya batu Hajarul Aswad itu putih bersih, tetapi akibat dicium oleh setiap orang yang datang menziarahi Ka’bah, ia menjadi hitam seperti terdapat sekarang. Wallahu a’alam.

2. “‘Barangsiapa menunaikan ibadah haji, dan ia tak berbuat rafats dan fasik, maka ia kembali (suci dan bersih) seperti anak manusia yang baru lahir dari perut ibunya.” (Muttafaqun alaihi).

3. Mencium hajarul aswad pada masa menunaikan Haji Di Baitullah tidak dapat diwakilkan, Ia menjadi penyedut dosa tanpa kita sedari, alangkah beruntungnya orang yang boleh menyentuh, mengusap dan memegangnya. Hadis Siti Aisyah RA mengatakan bahawa Rasul SAW bersabda :

“Nikmatilah (peganglah) Hajarul Aswad ini sebelum diangkat (dari bumi). Ia berasal dari syurga dan setiap sesuatu yang keluar dari syurga akan kembali ke syurga sebelum kiamat”. Akhir kata, Kita semua tahu jika Hajarul Aswad hanyalah batu yang tidak memberikan mudarat atau manfaat, begitu juga dengan Ka’bah, ia hanyalah bangunan yang terbuat dari batu.

Ibadah haji yang dihadiri berjuta-juta umat Islam Akan tetapi apa yang kita lakukan dalam proses ibadah haji tersebut lebih baik kita niatkan sekadar mengikuti ajaran dan sunnah Nabi SAW.

Umar bin Khatab pun juga pernah mengatakan “Aku tahu bahawa kau hanyalah batu, kalaulah bukan kerana aku melihat kekasihku Nabi SAW menciummu dan menyentuhmu, maka aku tidak akan menyentuhmu atau menciummu” Jadi apa yang dikerjakan berjuta juta umat islam bukanlah menyembah Batu seperti yang banyak dituduhkan kaum yang kerdil sekali akalnya.

Kerana ada rahsia besar dibalik setiap perilaku Nabi Muhammad saw dan sebab tentu saja apa yang dilakukan oleh beliau pastilah berasal dari Allah, sebagaimana yang terdapat dalam firmanNya:

“Dan tiadalah yang diucapkannya itu menurut kemahuan hawa nafsunya.

Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan” (QS. An-Najm : 53) Allaaahu Akbar, tiada tuhan lagi yang berhak disembah selain Allah dan Muhammad Saw adalah utusan Allah.

Muhammad hanyalah seorang Rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang Rasul. Mulai saat ini mari kita cuba berperilaku sebagaimana Nabi Muhammad, mencontohinya dalam segala tindak tanduk, makan, minum, berpakaian, hingga tidurnya. Sesungguhnya ada rahsia disebaliknya.

Continue Reading

Islamik

Ini Penjelasan Mufti Mengenai Hukum Tinggalkan 3 Kali Solat Jumaat Kerana Covid

Published

on

Ini Penjelasan Mufti Mengenai Hukum Tinggalkan 3 Kali Solat Jumaat Kerana Covid

Sejak penularan meluas COVID-19 di seluruh Malaysia, semua aktiviti yang melibatkan perhimpunan dibatalkan termasuklah aktiviti keagamaan.

Hasil perbincangan antara mufti-mufti dan pakar kesihatan, ahli agama mengambil keputusan untuk menghentikan solat Jumaat di semua masjid di seluruh negara.

Justeru, hal ini menimbulkan tanda tanya bagi sebahagian netizen yang keliru sama ada mereka termasuk dalam golongan diancam amaran jika meninggalkan solat Jumaat tiga kali berturut-turut ataupun terkecuali dari golongan tersebut.

Berikut merupakan soalan netizen dan jawapan Mufti Wilayah Persekutuan bagi isu ini.

Soalan :

Assalamu’alaikum ustaz, sekiranya ditakdirkan Perintah Kawalan Pergerakan yang turut melibatkan larangan menghadiri solat Jumaat dan solat berjemaah sekarang ini akan dipanjangkan tempohnya, adakah saya termasuk dalam amaran yang terdapat dalam hadis berkenaan mereka yang meninggalkan solat Jumaat tiga kali berturut-turut itu ? Mohon penjelasan.

Jawapan :

Wa’alaikumussalam w.b.t. Alhamdulillah segala puji dan syukur kami panjatkan kepada Allah S.W.T. Selawat dan salam kami ucapakan ke atas junjungan besar Nabi Muhammad S.A.W, para isteri dan keluarga baginda, para sahabat, seterusnya golongan yang mengikut jejak langkah baginda sehingga hari kiamat.

Menghadiri solat Jumaat merupakan salah satu tuntutan syarak kepada setiap lelaki beragama Islam yang mukallaf. Ini berdasarkan firman Allah S.W.T :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا نُودِيَ لِلصَّلَاةِ مِن يَوْمِ الْجُمُعَةِ فَاسْعَوْا إِلَىٰ ذِكْرِ اللَّـهِ وَذَرُوا الْبَيْعَ ۚ ذَٰلِكُمْ خَيْرٌ لَّكُمْ إِن كُنتُمْ تَعْلَمُونَ

Maksudnya : Wahai orang-orang yang beriman apabila diserukan azan untuk mengerjakan sembahyang pada hari Jumaat, maka segeralah kamu pergi (ke masjid) untuk mengingati Allah (dengan mengerjakan sembahyang Jumaat) dan tinggalkanlah berjual-beli (pada saat itu), yang demikian adalah baik bagi kamu, jika kamu mengetahui (hakikat yang sebenarnya).”

Surah Al-Jumu‘ah (9)

Maka dapat difahami bahawa menghadiri dan mendirikan kewajipan solat Jumaat merupakan ciri seorang mukmin yang mendahulukan tanggungjawab seorang hamba kepada Allah S.W.T mengatasi sebarang kepentingan duniawi seperti berjual beli pada masa tersebut.

Diberi keringanan dengan keuzuran

Meskipun begitu, tuntutan menghadiri solat Jumaat secara berjemaah ini diberikan keringanan kepada mereka yang mempunyai keuzuran yang diambil kira di sisi syarak untuk tidak menghadirinya. Ini berdasarkan sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Ibn Abbas R.Anhuma beliau berkata bahawa Rasulullah S.A.W bersabda :

مَنْ سَمِعَ النِّدَاءَ فَلَمْ يَأْتِهِ فَلاَ صَلاَةَ لَهُ إِلاَّ مِنْ عُذْرٍ

Maksudnya : Sesiapa yang mendengar seruan azan kemudian tidak mendatanginya (pergi ke masjid) maka tidak sempurna solatnya, melainkan disebabkan keuzuran.

Riwayat Ibn Majah (793)

Menurut hadis di atas, secara asasnya seseorang itu dituntut untuk menghadiri solat berjemaah sekiranya dia mendengar panggilan azan. Meskipun begitu, jika ada keuzuran tertentu maka dia diberi pengecualian untuk hadir menyahut seruan tersebut.

Maksud keuzuran

Manakala dalam sebuah riwayat yang lain, para sahabat bertanya kepada Rasulullah S.A.W apakah yang dimaksudkan dengan keuzuran ? Maka Rasulullah S.A.W. menjawab :

خَوْفٌ أَوْ مَرَضٌ

Maksudnya : Perasaan takut ataupun sakit.

Riwayat Abu Daud (551)

Maka jelas daripada hadis di atas bahawa perasaan takut atau sakit termasuk dalam kategori uzur yang membolehkan seseorang itu untuk tidak hadir ke masjid bagi solat berjamaah.

Kemudian para fuqaha memperincikan lagi akan tahap ketakutan yang membolehkan seseorang itu tidak menghadiri solat berjemaah dan juga solat Jumaat. Ini seperti yang disebutkan oleh Syeikh Ali al-Qaradaghi seperti berikut :

‘’Harus untuk meninggalkan solat Jumaat dan solat berjemaah dalam keadaan virus yang sedang tersebar disebabkan oleh perasaan takut dijangkiti virus tersebut.’’

Beliau juga menyebut bahawa keharusan tersebut perlulah disyaratkan dari sudut ketakutan penyebaran itu benar-benar yakin berlaku dan bukanlah pada sangkaan semata-mata. Rujuk https://bit.ly/2WvN367

Justeru, bertitik tolak dari nasihat dan pandangan pakar yang berautoriti berkenaan cepatnya Covid-19 ini merebak, maka dikeluarkan arahan supaya segala aktiviti solat berjemaah dan solat Jumaat di masjid dihentikan sementara waktu. Maka ketidakhadiran umat Islam ke masjid pada tempoh ini merupakan suatu keuzuran yang diambil kira di sisi syarak iaitu wujudnya perasaan takut akan jangkitan virus ini.

Hukum tinggalkan tiga kali berturut-turut

Berbalik kepada persoalan yang dikemukakan di atas, kami menyatakan bahawa memang benar terdapatnya ancaman terhadap mereka yang meninggalkan solat Jumaat sebanyak tiga kali secara berturut-turut di sisi syarak. Ini berdasarkan sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Abu al-Ja’d al-Dhamri (sebahagian menyatakan Al-Dhumairi) R.A beliau berkata bahawa Rasulullah S.A.W bersabda :

مَنْ تَرَكَ ثَلاَثَ جُمَعٍ تَهَاوُنًا بِهَا طَبَعَ اللَّهُ عَلَى قَلْبِهِ

Maksudnya : Sesiapa yang meninggalkan tiga kali solat jumaat kerana mengambil mudah akannya, nescaya Allah akan mengunci jantung hatinya.

Riwayat Abu Daud (1052)

Manakala dalam sebuah riwayat yang lain daripada Jabir bin Abdillah R.A beliau berkata bahawa Rasulullah S.A.W bersabda :

مَنْ تَرَكَ الْجُمُعَةَ ثَلاَثًا مِنْ غَيْرِ ضَرُورَةٍ طَبَعَ اللَّهُ عَلَى قَلْبِهِ

Maksudnya : Sesiapa yang meninggalkan solat Jumaat sebanyak tiga kali tanpa sebarang dharurat maka Allah akan mengunci mati jantung hatinya.

Riwayat Al-Nasa’ie (1370)

Kedua riwayat hadis di atas jelas menunjukkan kepada kita ancaman dan amaran yang terdapat di dalam hadis tersebut terikat dengan keadaan meninggalkan solat Jumaat kerana mengambil enteng, meremehkan ia, serta meninggalkan perlaksanaannya tanpa sebarang dharurat.

Syeikh Badruddin al-‘Aini dalam syarahan beliau terhadap hadis riwayat Abu Daud di atas berkata :

‘’Bab ini menjelaskan tentang kerasnya ancaman bagi perbuatan meninggalkan solat Jumaat tanpa sebarang keuzuran’’. Beliau menambah, perkataan تهاونا بها membawa masud : ‘’(Meninggalkannya) kerana malas serta culas dalam melakukannya’’. Rujuk Syarah Abi Daud, Badr al-Din al-‘Aini (4/371).

Manakala Mulla ‘Ali al-Qari ketika mengulas hadis tersebut menukilkan kata-kata Al-Thibi yang menyebut : ‘’(Iaitu meninggalkannya dengan tujuan menghina)’’. Kemudian dinukilkan pendapat ulama lain yang menyebut : ‘’Meninggalkannya kerana mengambil mudah’’. Rujuk Mirqaat al-Mafatih, Mulla ‘Ali al-Qari (3/1024).

Ancaman buat mereka yang tiada keuzuran

Maka jelas kepada kita bahawa ancaman yang dimaksudkan di dalam hadis di atas merupakan ke atas mereka yang meninggalkannya tanpa sebarang keuzuran yang dibenarkan di sisi syarak. Manakala mereka yang meninggalkan solat Jumaat disebabkan ada keuzuran, maka mereka tidak termasuk dalam ancaman tersebut. Sebaliknya, diberikan ganjaran sama seperti yang disebutkan oleh Rasulullah S.A.W :

إِذَا مَرِضَ الْعَبْدُ أَوْ سَافَرَ، كُتِبَ لَهُ مِثْلُ مَا كَانَ يَعْمَلُ مُقِيمًا صَحِيحًا

Maksudnya : Apabila seseorang hamba itu sakit atau bermusafir, akan ditulis buat dirinya ganjaran sama seperti yang diamalkannya semasa bermukim atau sihat.

Riwayat Al-Bukhari (2996)

Penjelasan panjang lebar berkenaan hal ini boleh dirujuk kepada Al-Kafi #1661: Ganjaran Solat Berjemaah Di Rumah Jika Meninggalkan Perlaksanaannya Di Masjid Disebabkan Keuzuran.

Kesimpulan

Sebagai kesimpulan, setelah kami meneliti beberapa nas dan hujahan yang dikemukakan di atas, maka kami berpendapat sekiranya tempoh kawalan pergerakan ini mengambil masa yang lama sehingga membawa kepada terlepasnya perlaksanaan solat Jumaat sebanyak tiga kali, mengambil kira faktor takut merebaknya Covid-19 dengan lebih meluas, maka mereka yang meninggalkan solat Jumaat disebabkan keuzuran ini tidak termasuk di dalam ancaman yang terdapat di dalam hadis-hadis tersebut. Wallahu A’lam.

Akhir kalam, kami berdoa kepada Allah S.W.T agar memberikan kefahaman yang tepat kepada kita semua dalam beragama. Ameen.

Sumber: Mufti Wilayah Persekutuan

Continue Reading

Islamik

Inilah 12 Hikmah dan Kebaikan Polig4mi Dalam Islam

Published

on

Inilah 12 Hikmah dan Kebaikan Polig4mi Dalam Islam

Apabila membicarakan hukum berpolig4mi terdapat 3 hukum yang ditetapkan oleh Islam iaitu harus, tidak dibenarkan dan digalakkan (istihbaab)

Firman Allah S.W.T. :

{وَإِنْ خِفْتُمْ أَلَّا تُقْسِطُوا فِي الْيَتَامَى فَانْكِحُوا مَا طَابَ لَكُمْ مِنَ النِّسَاءِ مَثْنَى وَثُلَاثَ وَرُبَاعَ}

Maksudnya : “Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yatim (bilamana kamu mengawininya), maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi: dua, tiga, atau empat”

(Surah an-Nisaa’ ayat 3).

Perintah Allah dalam ayat ini tidak menunjukkan wajibnya polig4mi, kerana perintah tersebut ada dijelaskan dengan ayat yang lain iaitu firman-Nya,

{فَإِنْ خِفْتُمْ أَلَّا تَعْدِلُوا فَوَاحِدَةً أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ ذَلِكَ أَدْنَى أَلَّا تَعُولُوا}

Maksudnya : “Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (kawinilah) seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya” (Surah an-Nisaa’ ayat 3).

Maka dengan adanya ayat ini, jelaslah bahwa ayat di atas meskipun berbentuk perintah, akan tetapi maknanya adalah larangan, iaitu larangan menikahi lebih dari satu wanita jika dikhawatirkan tidak dapat berbuat adil atau maknanya, “Janganlah kamu menikahi kecuali wanita yang kamu senangi”.

Ini seperti makna yang ditunjukkan dalam firman-Nya,

{وَقُلِ الْحَقُّ مِنْ رَبِّكُمْ فَمَنْ شَاءَ فَلْيُؤْمِنْ وَمَنْ شَاءَ فَلْيَكْفُرْ}

Maksudnya : “Dan katakanlah:’Kebenaran itu datangnya dari Rabbmu; maka barangsiapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan barangsiapa yang ingin (kafir) biarlah ia kafir”

(Surah al-Kahfi:29).

Maka tentu saja makna ayat ini adalah larangan melakukan perbuatan kafir dan bukan perintah untuk melakukannya.

Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Abdulah bin Baz ketika ditanya, “Apakah polig4mi dalam Islam hukumya mubah (boleh) atau dianjurkan?”

Beliau menjawab : “Polig4mi hukumnya disunnahkan (dianjurkan) bagi yang mampu, kerana firman Allah Ta’ala (beliau menyabutkan ayat tersebut di atas), dan kerana perbuatan Rasulullah S.A.W. menikahi sembilan orang wanita, Allah memberi manfaat (besar) bagi umat ini dengan adanya para isteri Nabi S.A.W. tersebut, dan ini (menikahi sembilan orang wanita adalah khusus untuk baginda sahaja.)

Adapun selain daripada Nabi S.A.W. boleh bernikah tidak lebih dari empat orang wanita. Kerana dalam polig4mi banyak terdapat kemaslahatan/kebaikan yang agung bagi kaum lelaki maupun wanita, bahkan bagi seluruh umat Islam. Sebab dengan polig4mi akan memudahkan bagi lelaki maupun wanita untuk menundukkan pandangan, menjaga kemaluan (kesucian), memperbanyak (jumlah) keturunan, dan (memudahkan) bagi lelaki untuk memimpin beberapa orang wanita dan membimbing mereka kepada kebaikan, serta menjaga mereka dari sebab-sebab keburukan dan penyimpangan.

Adapun bagi yang tidak mampu melakukan itu dan khawatir berbuat tidak adil, maka cukuplah dia menikahi seorang wanita (saja), kerana Allah Ta’ala berfirman,

{فَإِنْ خِفْتُمْ أَلَّا تَعْدِلُوا فَوَاحِدَةً أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ ذَلِكَ أَدْنَى أَلَّا تَعُولُوا}

Maksudnya : “Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (kawinilah) seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya” (Surah an-Nisaa’ ayat 3).

Semoga Allah senantiasa memberi taufik-Nya kepada semua kaum muslimin untuk kebaikan dan keselamatan mereka di dunia dan akhirat.

Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin berkata, “…Seorang laki-laki jika dia mampu dengan harta, badan (tenaga) dan hukumnya (bersikap adil), maka lebih utama (baginya) untuk menikahi dua sampai empat orang wanita jika dia mampu. Dia mampu dengan fizikalnya (tenaga ba tin) sehingga dia mampu menunaikan hak yang khusus bagi isteri-isterinya. Dia juga mampu dengan hartanya sehingga dia boleh memberi nafkah yang layak bagi isteri-isterinya. Dan dia mampu pula dengan bersikap adil di antara mereka. Kalau dia mampu seperti ini maka hendaknya dia menikah (dengan lebih dari seorang wanita), semakin banyak wanita yang dinikahinya maka itu lebih utama.

Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata, “Orang yang terbaik di umat ini adalah yang paling banyak isterinya.”(tidak lebih daripada 4 isteri)

Hikmah dan kebaikan polig4mi:

Hukum polig4mi telah disyariatkan oleh Allah Ta’ala yang mempunyai nama al-Hakim, ertinya Zat yang memiliki ketentuan hukum yang Maha Adil dan yang Maha Sempurna, maka hukum Allah Ta’ala yang mulia ini tentu memiliki banyak hikmah dan faedah yang agung, di antaranya:

12 hikmah dan manfaat di dalam hukum berpolig4mi:

Pertama: Terkadang polig4mi harus dilakukan dalam keadaan tertentu. Misalnya jika isteri sudah lanjut usia atau sakit, sehingga kalau suami tidak polig4mi dikhawatirkan dia tidak boleh menjaga kehormatan dirinya. Atau jika suami dan isteri sudah dianugerahi banyak keturunan, sehingga kalau dia harus menceraikan isterinya, dia merasa berat untuk berpisah dengan anak-anaknya, sementara dia sendiri takut terjerumus dalam perbuatan zi na jika tidak berpolig4mi. Maka masalah ini tidak akan boleh diselesaikan kecuali dengan polig4mi, insya Allah.

Kedua: Pernikahan merupakan sebab terjalinnya hubungan (kekeluargaan) dan terikatnya di antara sesama manusia, setelah hubungan nasab. Allah Ta’ala berfirman,

{وَهُوَ الَّذِي خَلَقَ مِنَ الْمَاءِ بَشَرًا فَجَعَلَهُ نَسَبًا وَصِهْرًا وَكَانَ رَبُّكَ قَدِيرًا}

“Dan Dia-lah yang menciptakan manusia dari air (mani), lalu Dia jadikan manusia itu (punya) keturunan dan mushaharah (hubungan kekeluargaan kerana pernikahan), dan adalah Rabbmu Maha Kuasa” (Surah al-Furqaan ayat 54).

Maka polig4mi (adalah sebab) terjalinnya hubungan dan mendekatkan (antara) banyak keluarga, dan ini salah satu sebab polig4mi yang dilakukan oleh Rasulullah S.A.W.

Ketiga: Polig4mi merupakan sebab terjaganya (kehormatan) sejumlah besar wanita akan dapat dipenuhi keperluan hidup mereka dengan mendapat nafkah daripada suami , tempat tinggal, memiliki keturunan dan anak yang banyak, dan ini merupakan tuntutan syariat.

Keempat: Di antara kaum laki-laki ada yang memiliki nafsu syahwat yang tinggi sehingga tidak cukup baginya hanya memiliki seorang isteri, sedangkan dia orang yang baik dan selalu menjaga kehormatan dirinya. Akan tetapi dia takut terjerumus dalam perzin aan dan dia ingin menyalurkan keperluan syahwatnya ditempat yang halal . Jelaslah ini adalah rahmat Allah S.W.T. kepada manusia membenarkan polig4mi sesuai dengan syariat-Nya.

Kelima: Kadangkala setelah menikah ternyata isteri mandul, tetapi suami berkeinginan untuk mendapatkan zuriat keturunan. Maka berpolig4mi adalah lebih baik daripada suami menceraikan isterinya.

Keenam: Kadangkala juga seorang suami sering bermusafir untuk mencari nafkah, sehingga dia perlu untuk menjaga kehormatan dirinya ketika dia berada jauh daripada isterinya.Maka adalah lebih baik dia bernikah ditempat dia mencari nafkah.

Ketujuh: Banyaknya peperangan dan disyariatkannya berjihad di jalan Allah, yang ini menjadikan ramai lelaki yang terbunuh sedangkan jumlah wanita semakin ramai, padahal mereka perlukan suami untuk melindungi mereka. Maka dalam keadaan seperti ini polig4mi merupakan penyelesaian terbaik.

Kelapan: Kadangkala seorang lelaki tertarik atau kagum terhadap seorang wanita atau sebaliknya, kerana kebaikan agama atau akhlaknya, maka pernikahan merupakan cara terbaik untuk menyatukan mereka berdua.

Kesembilan: Kadangkala terjadi masalah besar antara suami-isteri, yang menyebabkan terjadinya perceraian, kemudian suami menikah lagi dan setelah itu dia ingin kembali kepada isterinya yang pertama, maka dalam keadaan seperti ini polig4mi merupakan penyelesaian terbaik.

Kesepuluh: Umat Islam sangat memerlukan lahirnya banyak generasi muda, untuk mengukohkan barisan dan persiapan berjihad melawan orang-orang kafir, ini hanya akan boleh diperolehi dengan polig4mi dan tidak membataskan jumlah keturunan.

Kesebelas: Termasuk hikmah yang lain dengan suami berpolig4mi, seorang isteri memiliki kesempatan lebih besar untuk menuntut ilmu, membaca al-Quran dan mengurus rumahnya dengan baik, ketika suaminya sedang di rumah isterinya yang lain. Kesempatan seperti ini umumnya tidak didapatkan oleh isteri yang suaminya tidak berpolig4mi.

Keduabelas: Dan termasuk hikmah dan kebaikan polig4mi, semakin kuatnya ikatan cinta dan kasih sayang antara suami dengan isteri-isterinya. Kerana setiap kali tiba waktu giliran salah satu dari isteri-isterinya, maka suami dalam keadaan sangat rindu pada isterinya tersebut, demikian pula isteri sangat merindukan suaminya. Masing-masing isteri cuba memberi khidmat terbaik kepada suami mereka, keadaan ini hanya berlaku dengan adanya polig4mi.

Sahabat yang dimuliakan,

Masih terdapat banyak hikmah dan kebaikan lainnya, yang tentu saja orang yang beriman kepada Allah dan orang bertakwa meyakini akan kebenaran hukum-hukum Allah S.W.T. dan tidak ragu-ragu walaupun sedikit daripadanya.

Wahai kaum wanita yang mukmin!

Yakinlah bahawa setiap hukum yang disyariatkan oleh Allah S.W.T mengandungi hikmah dan kebaikan yang tidak dapat dijangkau oleh pemikiran kita. Walaupun mungkin kalian berat untuk menerimanya tetapi bila hati kalian dididik dengan asas iman dan takwa dan meletakkan kepentingan Allah dan Rasul-Nya melebihi kepentingan diri kalian maka kalian akan mencapai tahap wanita solehah. Tidak ada tempat yang paling baik untuk wanita solehah melainkan syurga Allah S.W.T seluas langit dan bumi.

Janganlah kalian terbawa-bawa dengan wanita barat dan wanita sekular yang membenci polig4mi dan menganggap hukum polig4mi ini adalah merampas hak wanita dan merendahkan darjat kaum wanita. Kelemahan sebahagian daripada kaum lelaki yang mengamalkan polig4mi bukannya alasan bahawa polig4mi itu membawa kemudaratan. Yakinilah bahawa kehidupan sebenar adalah di hari akhirat di dunia ini adalah medan ujian untuk menguji lelaki dan wanita siapakan di antara mereka yang taat dan patuh kepada-Nya dan menjadi orang-orang yang bertakwa.

Continue Reading

Trending