Connect with us

Islamik

Subhanallah!! Inilah Sebab Seseorang Sukar Mengucap Kalimah Syahadah Ketika Sakaratulmaut

Published

on

Kenapa bibir kita (atas dan bawah) tidak bergerak sewaktu kita mengucapkan kalimah Laaila ha illallaah? Cuba ucapkan Laaila ha illallah, kedua bibir kita tak bergerak kan? Belum percaya? Cuba ulangi lagi “Laaila ha illallah”. Kenapa dan mengapa?

Jawabannya: Itulah rahmat Allah yang amat besar kepada hamba-hambaNya. Disaat sakaratul maut, tubuh kita tidak boleh berbuat apa-apa. Allah memberikan pilihan paling mudah untuk hamba-Nya untuk melafadzkan Laila ha illallah atau Laa Ilaaha Ilallaah.
Allah tidak menuntut badan kita bergerak sedikitpun bahkan bibir kita. Ini kerana seseorang yang didatangi sakaratul maut (nazak) dia sudah tidak berdaya lagi menggerakkan seluruh tubuhnya kecuali lidahnya saja.

Sedemikian besarnya Allah memberikan kemudahan saat orang-orang menghadapi kematian.

Sebahagian mungkin akan mendapatkan kesulitan untuk mengucapkan kalimah ini walaupun ia nya nampak mudah.Tetapi ketika sakaratul maut untuk memudahkan kita mengucap kalimah ini adalah bergantung kepada amal kita. Tapi Allah benar-benar tidak menginginkan umat Islam masuk neraka, kerana begitu sakitnya neraka, begitu tidak mampunya manusia masuk neraka, begitu luasnya neraka dan begitu ngerinya neraka.

Seandainya saja percikan setitis api neraka turun kebumi, maka bumi dan isinya akan hancur luluh.
أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ الْعَظِيمَ الَّذِي لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْحَيَّ الْقَيُّومَ وَأَتُوبُ إِلَيْه

Sakaratul Maut, tentang Kesakitan dan Apa Yang Memudahkannya

Kehadiran Malaikat Maut

Jika ajal telah tiba dan manusia sedia untuk memasuki alam ghaib, Allah S.w.t mengutus Malaikat Maut untuk mencabut roh yang mengatur dan menggerakkan badan. Allah berfirman maksudnya; “Dan Dialah yang mempunyai kekuasaan tertinggi di atas semua hamba-Nya, dan diutus-Nya kepadamu malaikat-malaikat penjaga, sehingga apabila datang kematian kepada salah seorang di antara kamu, dia diwafatkan oleh malaikat-malaikat Kami, dan malaikat-malaikat Kami itu tidak melalaikan kewajibannya.” [Surah Al-An’aam : ayat 61]

Malaikat Maut mendatangi seorang mukmin dalam rupa yang baik dan bagus. sedangkan kepada orang kafir dan munafiq, dia datang dalam bentuk yang menakutkan.

Dalam hadits dari Al-Barra’ ibnu ‘Azib diriwayatkan bahawa Rasulullah S.a.w bersabda; “Sesungguhnya jika seorang mukmin berada dalam keadaan berpisah dari dunia dan menuju Akhirat, malaikat dari langit turun kepadanya. Wajah mereka putih bagai matahari. Mereka membawa kafan dan wangian dari syurga, lalu mereka duduk di depannya sejauh pandangan sihamba. Kemudian datanglah Malaikat Maut as. lalu duduk dekat kepalanya lalu berkata, “Wahai jiwa yang baik (dalam riwayat lain – jiwa yang tenang), keluarlah menuju keampunan dan redha Tuhanmu!” Lalu jiwa itu keluar mengalir seperti titisan air mengalir dari mulut bekas air, lalu malaikat mengambilnya. Jika seorang kafir (dalam riwayat lain – orang jahat) sedang dalam keadaan terputus dari Akhirat dan menghadapi dunia, dari langit turun kepadanya malaikat, yang galak, bengis dan hitam wajahnya dengan memakai pakaian yang menjijikkan (dari neraka). Para malaikat itu duduk sejarak pandangan matanya. Kemudian datanglah Malaikat Maut dan duduk dekat kepalanya lalu berkata; “Wahai jiwa yang busuk, keluarlah menuju kebencian dan murka Allah!” Lalu ia berpisah dari jasadnya, dan si malaikat mencabut nyawanya seperti bulu wol yang tebal dan basah dicabut (bersamaan dengan itu terputuslah urat-urat dan sarafnya).” [HR Ahmad, Abu Daud, Al-Hakim, dinilai Sahih oleh Imam Ibnu Qayyim dalam I’lam al-Muwaqqiin]

Hadits di atas menyatakan bahawa Malaikat Maut memberi khabar gembira kepada Mukmin bahawa dia mendapat keampunan dan redha Allah, dan memberi khabar buruk kepada sikafir bahawa dia mendapat kebencian dan murka Allah. Hal seperti ini juga dijelaskan dalam banyak ayat Al-Quran. Allah S.w.t berfirman; “Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: `Rabb kami ialah Allah, kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengatakan); “Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih, dan bergembiralah kamu dengan (memperolehi) syurga yang telah dijanjikan Allah kepadamu.” [Surah Fusshilat : ayat 30]

“(Iaitu) orang-orang yang dimatikan dalam keadaan baik oleh para malaikat dengan mengatakan (kepada mereka); “Salamun ‘alaikum (selamat sejahtera ke atasmu)”, masuklah ke dalam syurga itu disebabkan apa yang telah kamu kerjakan”. [Surah An Nahl : 32]

Adapun terhadap orang-orang kafir, malaikat turun kepada mereka dalam keadaan sebaliknya. Allah S.w.t berfirman; “Sesungguhnya orang-orang yang diwafatkan malaikat dalam keadaan menganiaya diri sendiri, (kepada mereka) malaikat bertanya; “Dalam keadaan bagaimana kamu ini?” Mereka menjawab; “Adalah kami orang-orang yang tertindas di negeri (Mekah).” Para malaikat berkata; “Bukankah bumi Allah itu luas, sehingga kamu dapat berhijrah di bumi itu?” Orang-orang itu tempatnya neraka Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali.” [Surah An-Nisaa’ : ayat 97] [1]

Menurut riwayat Ibnu `Abbas; beberapa orang Islam turut berperang bersama kaum musyrikin, menentang Nabi Muhammad S.a.w. Dalam peperangan itu di antara mereka ada yang mati kena panah dan ada pula yang mati kena pedang, lalu turunlah ayat di atas. [Riwayat Bukhari]

Dalam ayat di atas, Allah menerangkan segolongan orang Islam yang tetap tinggal dl Mekah. Mereka menyembunyikan keislaman mereka dari penduduk Mekah dan mereka tidak ikut berhijrah ke Madinah, padahal mereka mempunyai keupayaan untuk melakukan hijrah. Mereka merasa senang tinggal di Mekah. Walaupun mereka tidak mempunyai kebebasan mengerjakan ajaran-ajaran agama dan membinanya. Allah menghidupkan mereka sebagai orang yang menganiaya diri sendiri.

Sewaktu perang Badar berlaku, mereka di bawa ikut berperang oleh orang musyrikin menghadapi Rasulullah S.a.w. Dalam peperangan ini sebahagian mereka mati terbunuh. [2]

Sakaratul Maut

“Setiap jiwa akan merasai mati.” [Surah Aali ‘Imran : ayat 185

Setiap manusia ketika meregang nyawa mengalami sakaratul maut sebagaimana dijelaskan dalam ayat, “Dan datanglah sakaratul maut dengan sebenar-benarnya. Itulah yang kamu selalu lari darinya.” [Surah Qaaf : ayat 19]

Sakaratul maut bermakna kesulitan dan kesukaran maut. Ar-Raghib berkata dalam al-Mufradat, “Kata sakar adalah suatu keadaan yang menghalang antara seseorang dengan akalnya. Dalam penggunaannya, kata ini banyak dipakai untuk makna minuman yang memabukkan. Kata ini juga membawa maksud marah, rindu, sakit, ngantuk dan keadaan tidak sedar (pengsan) yang disebabkan oleh rasa sakit. ” [3]

Rasulullah S.A.W pernah mengalami sakaratul maut. “Bahawa di hadapan Rasulullah ada satu bekas kecil dari kulit yang berisi air. Baginda memasukkan tangan ke dalamnya dan membasuh muka dengannya seraya berkata: “Laa Ilaaha Illa Allah. Sesungguhnya kematian mempunyai sakaratul maut.” Dan baginda menegakkan tangannya dan berkata: “Menuju Rafiqil A’la”. Sampai akhirnya nyawa baginda tercabut dan tangannya lemah.” [HR Bukhari, kitab Riqab, bab Sakaratul Maut, 6510 dan kitab Maghazi , bab Sakit dan wafatnya Nabi, 4446]

Aisyah bercerita mengenai sakitnya Rasulullah S.A.W, “Aku tidak melihat sakit pada seseorang yang lebih keras berbanding yang dialami Rasulullah S.A.W.”

Aisyah juga pernah masuk ke bilik ayahnya Abu Bakar yang sedang sakit menjelang wafatnya. Tatkala sakit itu semakin berat, Aisyah mengucapkan sebait syair:

“Kekayaan tidak bermakna apa-apa bagi seorang pemuda ketika mati melewati kerongkongannya dan menyesakkan dadanya.”

Lalu Abu Bakar membuka wajahnya dan berkata, “Bukan begitu, yang benar (mengutip sebuah ayat Al-Quran) “Dan datanglah sakaratul maut dengan sebenar-benarnya. Itulah yang kamu selalu lari darinya.”

Beberapa tokoh menceritakan pengalaman sakaratul maut mereka. Di antaranya adalah Amru ibn al-‘Ash. Saat dia sakarat, anaknya berkata kepadanya, “Wahai ayahku, engkau pernah mengatakan, “Semoga saja aku bertemu dengan seorang laki-laki yang berakal ketika maut menjemputnya agar dia melukiskan kepadaku apa yang dilihatnya!” “Sekarang, engkaulah orang itu. Maka ceritakanlah kepadaku!” Ayahnya menjawab, “Anakku, demi Allah seakan-akan bahagian sampingku berada di katil, seakan-akan aku bernafas dari jarum beracun, seakan-akan duri pohon ditarik dari tapak kaki hingga kepala.” Kemudian dia mengucapkan sebaris bait syair:

“Aduhai, andai saja sebelum hal yang telah jelas di hadapanku ini terjadi aku berada di puncak gunung sambil menggembala kambing gunung.” [4]

Mengapa Rasulullah S.a.w menderita ketika Sakaratul Maut?

Keadaan umum proses pencabutan nyawa seorang mukmin adalah mudah lagi ringan. Namun kadang-kadang derita Sakaratul Maut juga mendera sebahagian orang soleh. Tujuannya untuk menghapuskan dosa-dosa dan juga mengangkat kedudukannya. Sebagaimana yang dialami Rasulullah. Baginda Shallallallahu ‘alaihi wa sallam merasakan pedihnya Sakaratul Maut seperti diungkapkan Bukhari dalam hadits’ Aisyah di atas tadi. [5]

Ibnu Hajar Al-Asqolani berkata: “Dalam hadis tersebut, kesengsaraan Sakaratul Maut bukan petunjuk atas kehinaan martabat (seseorang). Dalam konteks orang yang beriman dapat untuk menambah kebaikannya atau menghapus kesalahan-kesalahannya.” [6]

Menurut Al Qurthubi dahsyatnya kematian dan sakaratul maut yang menimpa para nabi, mengandungi manfaat:

Pertama: Supaya orang mengetahui kadar sakitnya kematian dan ia (sakaratul maut) tidak dapat dilihat mata. Kadang-kala ada seseorang melihat orang lain yang akan meninggal. Tidak ada gerakan atau kegoncangan. Kelihatan roh keluar dengan mudah. Sehingga dia berfikir, perkara ini (sakaratul maut) ringan. Dia tidak mengetahui apa yang terjadi pada mayat (sebenarnya). Tatkala para nabi, menceritakan tentang dahsyatnya penderitaan dalam kematian, walaupun mereka mulia di sisi Allah, dan kemudahannya untuk sebahagian mereka, maka orang akan yakin dengan kepedihan kematian yang akan dia rasakan dan dihadapi mayat secara mutlak, berdasarkan khabar dari para nabi yang jujur ​​kecuali orang yang mati syahid.

Kedua: Mungkin akan terdetik di benak sebahagian orang, mereka adalah para kekasih Allah dan para nabi dan rasul-Nya , mengapa mengalami kesengsaraan yang berat ini? Padahal Allah mampu meringankan bagi mereka? Jawabnya, bahawa orang yang paling berat ujiannya di dunia adalah para nabi kemudian orang yang menyerupai mereka dan orang yang semakin serupa dengan mereka seperti dikatakan Nabi kita. Hadits ini dikeluarkan Bukhari dan lain-lain. Allah ingin menguji mereka untuk melengkapkan keutamaan dan peningkatan darjat mereka di sisi-Nya. Ini bukan suatu aib bagi mereka juga bukan bentuk seksaan. Allah menginginkan menutup hidup mereka dengan penderitaan ini meskipun mampu meringankan dan mengurangkan (kadar penderitaan) mereka dengan tujuan mengangkat kedudukan mereka dan memperbesar pahala-pahala mereka sebelum meninggal. Tapi bukan bererti Allah merumitkan proses kematian mereka melebihi kepedihan orang-orang yang bermaksiat. Sebab (kepedihan) ini adalah hukuman bagi mereka dan sekatan untuk kejahatan mereka. Maka tidak boleh disamakan.” [7]

Yang meringankan Sakaratul Maut

Rasulullah S.A.W memberitahu kepada kita bahawa sakaratul maut akan diringankan bagi orang yang mati syahid di medan perang. Abu Hurairah meriwayatkan bahawa Rasulullah S.A.W bersabda, “Orang yang mati syahid tidak merasakan sakitnya terbunuh, kecuali seperti sakitnya dicubit.” [Diriwayatkan oleh at-Turmudzi, an-Nasa’i dan ad-Darimi. Imam at-Turmudzi berkata, “Hadis ini hasan gharib.”] [8]

Doa agar dipermudahkan Sakaratul Maut
اللهم هون علينا سكرات الموت

“Allahumma hawwin ‘alainaa sakaraatil maut”.

“Ya Allah, permudahkan kepada kami Sakaratul Maut.”

Jika mahukan yang lebih panjang, seperti di bawah;
اللهم انا نسألك سلامة في الدين و عافية في الجسد و زيادة في العلم و بركة في الرزق, وتوبة قبل الموت و رحمة عند الموت و مغفرة بعد الموت اللهم هون علينا سكرات الموت والنجاة من النار والعفو عند الحساب

“Allahumma innaa nas-aluka salaamatan fid-din, wa ‘aafiatan fil-jasad, wa ziyaadatan fil-ilmi, wa barakatan fir-rizqi, wa taubatan qablal maut, wa rahmatan ‘indal maut, wa maghfiratan ba’dal maut, Allahumma hawwin ‘alainaa sakaraatil-maut, wan-najaata minan-naar, wal’afwa ‘indal hisaab.”

“Ya Allah, kami mohon keselamatan dalam agama, dan afiat pada badan kami, bertambah ilmu, berkat dalam rezeki, taubat sebelum mati, rahmat ketika mati (Sakaratul Maut), keampunan selepas mati, Ya Allah permudahkanlah kepada kami Sakaratul Maut, selamat dari api neraka dan keampunan ketika dihisab.”

Wallahu a’lam …….

Rujukan:

1 – Dr. ‘Umar Sulaiman Al-Asyqar – Ensiklopedia Kiamat, hal 32-35.
2 – Tafsir Ibnu Kasir, jilid I, hal. 542.
3 – Imam Ibnu Hajar al-Asqolani – Fathul Bari, 11, hal.362.
4 – Dr. ‘Umar Sulaiman Al-Asyqar – Ensiklopedia Kiamat, hal 35-39.
5 – Dr. Muhammad bin Abdul Aziz bin Ahmad Al-‘Ali – Sakaratul Maut, detik-detik yang menegangkan dan menyakitkan. Majalah As-Sunnah Edisi 12/Tahun VIII/1426H/2005.
6 – Fathul Bari 11 , hal. 363.
7 – Misykat al-Mashobih, II, hal. 358 , hadits no: 3836. Pentahqiqnya berkata, “Sanadnya Hasan”.
8 – At Tadzkirah Fi Ahwali Al-Mauta Wa ‘umuri Al-Akhirah (1/48-50) dengan diringkaskan.

Sumber: newklise.wordpress.com
Sumber 2: unikversiti.blogspot.my

Continue Reading
Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Islamik

12 Tahun Mak Meninggal, Jenazah Mak Masih Elok dan Cukup Sifat

Published

on

12 Tahun Mak Meninggal, Jenazah Mak Masih Elok dan Cukup Sifat

Sesungguhnya m4ti itu pasti dan setiap yang bernyawa pasti merasai m4ti. Namun, bagaimanakah kem4tian kita? Tiada siapa yang tahu. Semuanya bergantung kepada amalan kita di dunia ini sebagai hamba yang Maha Kuasa.

Seorang wanita yang dikenali sebagai Amina Jasmine telah berkongsi sebuah kisah mengenai ibunya yang sarat dengan pengajaran untuk dijadikan pedoman hidup. Kisah mengenai jasad ibunya yang masih terpelihara dan tidak berbau walaupun sudah dikebumikan 12 tahun lalu. Jom kita ikuti perkongsiannya dibawah.

Alhamdulillah selesai pemindahan kubur mak.

12 tahun mak pergi mengadap Illahi. Jenazah mak elok, masih dlm keadaan kiam. Kain kafan mak tak koyak, bantal dan tali masih ada. Susuk badan mak jelas dipandangan mata kami yang menyaksikan tadi. Cukup sifat dan tak berbau. Allahuakhbar, Maha Suci Allah.

Dia wanita yang lembut. Tak suka mengata org lain, tak suka menc3rca orang lain. Mak sangat mudah mengalirkan air mata. Hatinya bak tisu mudah terkoyak. Setiap c3rca orang mak balas dengan senyuman dan air mata. Dengan suami mak bersabar.

Dan siapa sangka dalam kepadatan Tanah Perkuburan Bukit Alip, mak dapat dikebumikan sebelah ku bur arwah ayah. Maha Suci Allah.

Setelah 12 tahun mak pergi, Allah beri aku ‘sesuatu’, tentang hidup ni, hati ini dan keinsafan ini. Cari redha Allah.

Tali kain kafan mak setelah 12 tahun. Masih elok tak reput berada disisi m4yat.

Mayat Tidak Hancur Tanda Allah Redha?

Tidak kurang kisah penyebaran peristiwa ajaib seperti mayat seseorang yang telah meninggal dunia dikalangan masyarakat kita. Kisahnya bermacam versi, kebanyakkan adalah kisah setelah lama kematian seseorang itu lalu kuburnya digali semula didapati mayatnya tidak reput dan tidak hancur malah seakan-akan baru sahaja ditanam. Fenomena ini dikenali sebagai incorruptible body. Lalu hasil dari kejadian sebegitu, ramai orang menyandarkan peristiwa itu adalah petanda Allah menjaga jasad tersebut. Lalu mereka akan mengaitkan bahawa individu ini dahulunya adalah seorang huffaz yang menghafal al Quran, orang soleh, atau orang yang baik-baik dan sebagainya.

Peristiwa mayat tidak reput ini tidak dinafikan sememangnya berlaku. Malah di dalam sebuah hadis nabi Muhammad SAW menyebut:

اَفْضَلُ اَيَّامِكُمُ الْجُمْعَةُ فِيْهِ خُلِقَ آدَمُ وَ فِيْهِ قُبِضَ وَ فِيْهِ النَّفْخَةُ وَ فِيْهِ الصَّعْقَةُ فَاكْثِرُوا عَلَيَّ مِنَ الصَّلاَةِ فَإِنَّ صَلاَتَكُمْ مَعْرُوضَةٌ عَلَيَّ قَالُوا وَ كَيْفَ تُعْرَضُ صَلاَتُناَ عَلَيْكَ وَ قَدْ اَرمَتَّ يَقُولُونَ بَلِيْتَ فَقَالَ اِنَّ اللهَ حَرَّمَ عَلَى الْأَرْضِ اَنْ تَأْكُلَ اَجْسَادَ الْأَنْبِيَاءِ

“Hari yang paling utama adalah hari Jumaat. Pada hari itu Adam diciptakan, pada hari itu dia meninggal, pada hari itu sangkakala ditiup dan pada hari itu terjadi kiamat, maka perbanyaklah kalian berselawat kepadaku di hari itu, kerana selawat kalian akan diperlihatkan kepadaku”). Para sahabat bertanya, “Bagaimana selawat kami diperlihatkan kepadamu padahal kamu telah menjadi debu?” Baginda menjawab, “Sesungguhnya Allah ta’ala telah mengharamkan bumi dari memakan jasad para Nabi.”

Hadis di atas diriwayatkan oleh Said bin Manshur, Ibnu Abu Syaibah, Ahmad dalam Musnad-nya, Ibnu ‘Ashim dalam bab berselawat, Abu Daud, al-Nasa’i dan Ibnu Maajah dalam kitab sunan mereka, al-Thabrani dalam kitab Mu’jam-nya, Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibban dan al-Hakim dalam kitab Shahih mereka, dan al-Baihaqi dalam Hayat al-Anbiya’ dan Syu’ab al-Iman dan karangannya yang lain.

Perlu diketahui hadis, “Sesungguhnya Allah ta’ala telah mengharamkan bumi dari memakan jasad para Nabi.”, telah datang dari jalan yang banyak yang dikumpulkan oleh al-Hafiz al-Mundziri dalam bahagian khusus dan dia berkata dalam al-Targhib wal Tarhib, “Hadits tersebut diriwayatkan oleh Ibnu Maajah dengan sanad yang jayyid (sangat bagus) dan diriwayatkan oleh Ahmad, Abu Daud, Ibnu Hibban dalam kitab shahihnya dan al-Hakim, dan dia juga menshahihkan hadits tersebut.”

Dalil hadis hanya mengkhususkan bahawa jasad para nabi sahaja dijaga dan tidak dimakan oleh tanah. Sememangnya jasad para nabi akan dijaga berdasarkan hadis ini, dan hadis ini tidaklah mengkhususkan bahawa kesemua jasad yang tidak dimakan tanah itu kesemuanya adalah jasad para nabi kerana terdapat juga jasad-jasad yang lain turut tidak dimakan oleh tanah. Ini kerana dalam konteks hadis ini tidak juga memberi isyarat bahawa perkara itu tidak berlaku kepada orang lain. Malah ia juga berlaku kepada orang yang Allah murkai.
Malah fenomena ini juga berlaku kepada mana-mana manusia di dunia ini. Jika dilihat di negara-negara lain juga terdapat kejadian seperti ini. Tetapi untuk menyandarkan peristiwa ini semata-mata sebagai penanda aras mayat itu diredhai oleh Allah adalah suatu yang perlu berhati-hati.

Sedangkan hal tersebut juga terjadi kepada orang jahat yang dilaknat oleh Allah sepertimana Firaun, firman Allah yang bermaksud:

“Maka pada hari ini Kami selamatkan badanmu supaya kamu dapat menjadi pelajaran bagi orang-orang yang datang sesudahmu dan sesungguhnya kebanyakan dari manusia lengah dari tanda-tanda kekuasaan Kami.” (Yunus: 92)

Jika ingin dikatakan jasad yang ditanam tidak reput dan rosak dimamah tanah itu adalah petanda aras adalah kebenaran kepada agama, maka bagaimana pula dengan jasad firaun juga yang dipelihara oleh Allah sehingga kekal pada hari ini? Begitu juga dengan peninggalan mayat-mayat di Pompeii yang diselaputi dengan letusan gunung berapi yang masih tersisa sehingga hari ini, adakah peninggalan itu menjadi tanda aras Allah meredhai mereka?

Begitu juga hal ini menjadi modal yang dijaja oleh penganut Kristian di Barat terutama denominasi Katolik. Mereka memiliki banyak koleksi mayat dari kalangan paderi (saint) yang tidak reput malah diletakkan di dalam bekas kaca untuk ditonjolkan kepada orang ramai bahawa paderi itu merupakan orang baik dan mayatnya itu dirahmati oleh Tuhan. Antaranya adalah St. Luigi Orione, St. John Neumann, St. Pio da Pietrelcina, St. Bernadette Soubirous dan banyak lagi.

Malah terdapat ramai tokoh agama yang saling mengejar peristiwa seperti ini untuk dijadikan sebagai penanda aras bagi kebenaran dan keredhaan Tuhan berpihak kepada mereka.

Kita tidak menafikan kuasa Allah dalam menguruskan alam ini. Apa yang mahu dibawa dalam perbicangan ini adalah perlunya mengubah cara berfikir dengan menyandarkan sesuatu perkara itu dengan aras ‘kebenaran’ dan ‘keredhaan’ Allah. Sedangkan kejadian Allah menjaga mayat seseorang dengan petanda Allah meredhainya itu tidak disebut khusus di dalam nas kecuali mengenai jasad para nabi sahaja.

Akan tetapi, masyarakat kita menyebar peristiwa itu seakan agama yang bercakap soal ukuran aqidah keimanan itu. Oleh itu membina pemikiran yang bebas dari sangkaan dan sikap rasa-rasa dalam beragama bukanlah sesuatu yang mudah untuk melawan arus masyarakat yang sedia terjinak dengan perkara-perkara ajaib ini. Terutama untuk membezakan diantara perkara itu berlaku bukan sebagai petanda aras kebenaran semata-mata. Perkara ini perlu diperhalusi dan jangan dirangkul pukal sekali bahawa ia adalah dalil semata-mata untuk kita.
Oleh itu untuk kembali berdiri dengan aqidah yang dibawa oleh al Quran dan Hadis adalah penting untuk membina pemikiran yang berhati-hati terhadap perkara yang melibatkan dengan sentimen keimanan.

Sumber : Amina Jasmine

Continue Reading

Islamik

Rezeki Datang Mencurah-Curah Bila Kita Amalkan Menyuap Isteri & Anak Makan

Published

on

Rezeki Datang Mencurah-Curah Bila Kita Amalkan Menyuap Isteri & Anak Makan

Semasa pergi ke hospital semalam, datang seorang lelaki yang baik mengajak saya duduk berbual kerana dia ada masalah. Dia bercerita yang kehidupan keluarganya sangat sempit dan tidak tenteram. Asyik bergaduh saja dan rasa sakit jiwa.

“Saya dah usaha macam-macam cara dah. Tak tahu nak buat macam mana dah,” katanya.

“Abang makan, ada suapkan makanan dalam mulut isteri tak?” saya tanya.

“Tak pernah ustaz,” jawabnya.

“Abang pernah menyuap makanan ke dalam mulut anak-anak tak?” soalan saya kemudian dijawab dengan jawapan yang sama.

“Orang dulu-dulu tak adalah kaya sangat tetapi kehidupan keluarga penuh dengan kasih sayang, rezeki pun cukup saja, rasa tenang dan berkat. Sebab janji Allah dengan menghargai keluarga, rezeki bertambah.

Sekarang? Dah banyak keluarga yang tak makan sekali apatah lagi suami menyuap isteri dan anak-anak. Ada yang masih makan bersama tetapi sambil makan, tangan sibuk melayan handphone, mata sibuk melayan tv. Ya Allah.

“Bila isteri makan dari tangan kita, terasa bahagia sangat. Bila kita menyuap isteri makanan kerana cinta, kerana Allah walaupun cuma beberapa suap, terasa nikmatnya. Buat pula tergigit jari sikit. Hehe! Sunnah berjemaah.
Juga makan satu bekas yang sama. Sekarang satu dulang rumah saya, kami makan berlima. Kadang-kadang anak pula berebut nak menyuap makanan ke mulut mak dan ayahnya sekali sekala.

“Cuba abang amalkan menyuap isteri dan anak-anak. Orang yang tidak mengasihi tidak akan dikasihi. Kasihilah keluarga, lihatlah bagaimana rezeki datang mencurah-curah,” jelas saya padanya.

“Baiklah ustaz. Saya nampak itulah jalan yang saya tidak pernah fikir. Rezeki datang bila kita berkasih sayang dan menghargai keluarga,” katanya.

Bila isteri suapkan saya, terasa best sangat nikmat. Ya Allah, inilah nikmat dunia ini. Ya Allah, berilah kami terus dapat menikmatinya dan bersama dalam syurga.

Oleh: Ustaz Ebit Lew

Continue Reading

Islamik

6 Jenis Penat Yang Meletihkan Tapi Tinggi Pahalanya Di Sisi Allah. No 3 Yang Paling Besar Ganjarannya

Published

on

6 Jenis Penat Yang Meletihkan Tapi Tinggi Pahalanya Di Sisi Allah. No 3 Yang Paling Besar Ganjarannya

Ada orang penat kerana kerja seharian, ada yang penat belajar, bahkan ada yang penat kerana tengah sarat mengandung. Dan macam-macam lagi jenis kepenatan yang dirasai oleh kita. Lain orang pasti lain pengalamannya dan ujian yang perlu ditempuh.

Namun, jika apa yang anda lakukan itu adalah kerana diri sendiri, agama dan juga untuk Allah, pasti akan ada ganjaran yang Allah berikan. Sedarkah anda, setiap kepenatan dan peluh yang dilalui itu ada jenisnya yang disukai Allah? Ada diceritakan melalui beberapa dalil mengenai jenis kepenatan yang disukai Allah, antaranya;

1. Penat Dalam Mengajak Kepada Kebaikan

Dalam kita menegur atau berdakwah ke arah kebaikan, tidak semua orang suka kepadanya. Ada yang akan mengambil masa yang lama untuk menerimanya dan ada juga yang langsung tidak mengendahkan apa yang kita sampaikan.

Jangan berputus asa! Yang paling penting ialah kita sendiri yang perlu sentiasa sabar dan terus berdakwah ke arah kebaikan. Walau kita penat kerana apa yang dilakukan itu kadang-kadang sehingga boleh menimbulkan kecaman, namun percayalah setiap usaha yang dilakukan amatlah disukai Allah.

Mafhum: “Dan tidak ada yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada (mengesakan dan mematuhi perintah) Allah, serta ia sendiri mengerjakan amal yang soleh.” (Surah Fussilat, 41:33)

2. Penat Dalam Beribadah

Hati manusia itu sentiasa berbolak-balik. Ada masa-masanya mungkin perasaan suka akan beribadat itu boleh diganti dengan perasaan yang lesu dan lemau. Apabila berada dalam situasi ini, salah satu sebabnya adalah kerana penat. Penat dalam beribadah ialah penat yang disukai Allah. Kerana kita telah meletakkan tenaga kita kepadaNya.

Jangan risau. Perasaan itu boleh sembuh jika kita tidak memaksa. Cuba untuk berehat dan cari balik motivasi untuk beribadah.

Mafhum: “Dan orang-orang yang berusaha dengan bersungguh-sungguh kerana memenuhi kehendak agama Kami, sesungguhnya Kami akan memimpin mereka ke jalan-jalan Kami (yang menjadikan mereka bergembira serta beroleh keredaan).” (Surah Al-Ankabut, 29:69)

3. Penat Mengandung, Melahirkan Dan Menyusukan

Wanita yang mengandung, melahirkan dan menyusu anaknya akan mengalami kepenatan dan kesakitan yang hanya dilalui oleh mereka. Betapa hebatnya wanita sehingga Allah memberi kekuatan kepada mereka sedemikian rupa.

Kepenatan yang dialaminya itu merupakan salah satu perkara yang disukai Allah kerana ia adalah pengorbanan yang luar biasa yang dilakukan untuk melahirkan khalifah di muka bumi. Hatta, ibu bapa yang penat membesar dan mendidik anak juga akan diberi ganjaran pahala yang tidak ternilai.

Mafhum: “Dan Kami wajibkan manusia berbuat baik kepada kedua ibu bapanya; ibunya telah mengandungnya dengan menanggung kelemahan demi kelemahan (dari awal mengandung hingga akhir menyusuinya), dan tempoh menceraikan susunya ialah dalam masa dua tahun.” (Surah Luqman, 31:14)

4. Penat Dalam Mencari Nafkah

Mencari nafkah dan rezeki itu adalah perkara yang dituntut bahkan ia adalah keperluan untuk meneruskan kelangsungan hidup. Sama ada yang bekerja dari awal pagi sehingga lewat malam atau yang bekerja secara shift, semuanya pasti ada kepenatan sendiri yang perlu dilalui.

Namun, percayalah jika ia adalah rezeki dan nafkah yang halal, maka ia adalah sesuatu yang disukai Allah.

Mafhum: “Kemudian, setelah selesai sembahyang, maka bertebaranlah kamu di muka bumi (untuk menjalankan urusan masing-masing) dan carilah apa yang kamu hajati dari limpah kurnia Allah serta ingatlah akan Allah banyak-banyak (dalam segala keadaan), supaya kamu berjaya (di dunia dan di akhirat).” (Surah Al-Jumu’a, 62:10)

5. Penat Dalam Menuntut Ilmu

Apabila kita lihat cabaran-cabaran yang dilalui mahasiswa hari ini, ujiannya adalah pelbagai. Ditambah pula dengan episod COVID-19 yang perlu dilalui. Ada yang berjaga malam untuk menyiapkan tugasan, ada yang perlu menghabiskan wang untuk keperluan pelajaran dan sebagainya.

Itu semua adalah asam garam dalam belajar. Kepenatan ini, jika ia membuahkan hasil suatu hari kelak pastinya akan membuatkan anda mampu mengukir senyum lebar dan merasa berbaloi dengan kesusahan yang dialami itu.

Mafhum: “Hendaklah kamu menjadi orang-orang Rabbaniyyin (yang hanya menyembah Allah dengan ilmu dan amal yang sempurna), kerana kamu sentiasa mengajarkan isi kitab Allah itu dan kerana kamu sentiasa mempelajarinya.” (Surah Ali-Imran, 3:79)

6. Penat Dalam Urusan Keluarga

Menggalas tanggungjawab sebagai ibu bapa mahupun kakak atau abang merupakan salah satu amanah yang perlu dijalankan dengan baik. Tidak semestinya tugas menjaga keluarga itu jatuh di atas bahu orang tua sahaja, namun juga kepada anak-anak.

Setiap keluarga itu pasti mempunyai ombak dan badai yang perlu diharungi. Bukan hari-harinya disinari pelangi. Justeru, walau penat menjengah, jangan pernah berputus asa dengan ujian itu.

Mafhum: “Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah diri kamu dan keluarga kamu dari neraka yang bahan-bahan bakarannya: manusia dan batu (berhala).” (Surah At-Tahrim, 66:6)

Continue Reading

Trending