Connect with us

Islamik

Inilah Zikir Sebelum Tidur Yang Dianjurkan Rasulullah SAW

Published

on

Mengumpulkan dua telapak tangan. Lalu ditiup dan dibacakan surat Al Ikhlas, Al Falaq dan An Naas. Kemudian dua telapak tangan tersebut mengusap tubuh yang dapat dijangkau, dimulai dari kepala, wajah dan tubuh bagian depan. Semisal itu diulang sampai tiga kali.

[1] بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ اللَّهُ الصَّمَدُ لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ وَلَمْ يَكُن لَّهُ كُفُوًا أَحَدٌ

“Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Katakanlah: Dialah Allah, Yang Maha Esa. Allah adalah ilah yang bergantung kepada-Nya segala urusan. Dia tidak beranak dan tiada pula diperanakkan, dan tidak ada seorang pun yang setara dengan Dia.” (QS. Al Ikhlas: 1-4)

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ مِن شَرِّ مَا خَلَقَ وَمِن شَرِّ غَاسِقٍ إِذَا وَقَبَ وَمِن شَرِّ النَّفَّاثَاتِ فِي الْعُقَدِ وَمِن شَرِّ حَاسِدٍ إِذَا حَسَدَ

“Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Katakanlah: Aku berlindung kepada Rabb yang menguasai Shubuh, dari kejahatan makhluk-Nya, dan dari kejahatan malam apabila telah gelap gulita, dan dari kejahatan-kejahatan wanita tukang sihir yang menghembus pada buhul-buhul, dan dari kejahatan orang yang dengki apabila ia dengki”. (QS. Al Falaq: 1-5)

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ مَلِكِ النَّاسِ إِلَهِ النَّاسِ مِن شَرِّ الْوَسْوَاسِ الْخَنَّاسِ الَّذِي يُوَسْوِسُ فِي صُدُورِ النَّاسِ مِنَ الْجِنَّةِ وَ النَّاسِ

“Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Katakanlah: Aku berlindung kepada Rabb manusia. Raja manusia. Sembahan manusia, dari kejahatan (bisikan) syaitan yang biasa bersembunyi, yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia, dari jin dan manusia.” (QS. An Naas: 1-6)

[2] Membaca ayat Kursi.

Faedah: Siapa yang membaca ayat Kursi sebelum tidur, maka ia akan terus dijaga oleh Allah dan terlindungi dari gangguan setan hingga pagi hari.

[2] “Allah, tidak ada ilah (yang berhak disembah) melainkan Dia, yang hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya). Dia tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi. Tiada yang dapat memberi syafa’at di sisi-Nya tanpa seizin-Nya. Dia mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka. Mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya. Kursi Allah meliputi langit dan bumi. Dia tidak merasa berat memelihara keduanya. Dan Dia Maha Tinggi lagi Maha besar.” (QS. Al Baqarah: 255)

[3] Membaca Surat Al Baqarah ayat 285-286.

Faedah: Siapa yang membaca dua ayat tersebut pada malam hari, maka dua ayat tersebut telah memberi kecukupan baginya.

[3] آَمَنَ الرَّسُولُ بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْهِ مِنْ رَبِّهِ وَالْمُؤْمِنُونَ كُلٌّ آَمَنَ بِاللَّهِ وَمَلَائِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ لَا نُفَرِّقُ بَيْنَ أَحَدٍ مِنْ رُسُلِهِ وَقَالُوا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا غُفْرَانَكَ رَبَّنَا وَإِلَيْكَ الْمَصِيرُ * لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلاَّ وُسْعَهَا لَهَا مَا كَسَبَتْ وَعَلَيْهَا مَا اكْتَسَبَتْ رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذْنَا إِنْ نَسِينَا أَوْ أَخْطَأْنَا رَبَّنَا وَلَا تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِنَا رَبَّنَا وَلَا تُحَمِّلْنَا مَا لَا طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنَّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنْتَ مَوْلَانَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ

“Rasul telah beriman kepada Al-Qur’an yang diturunkan kepadanya dari Rabbnya, demikian pula orang-orang yang beriman. Semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya dan rasul-rasul-Nya. (Mereka mengatakan): “Kami tidak membeda-bedakan antara seorang pun (dengan yang lain) dari rasul-rasul-Nya”, dan mereka mengatakan: “Kami dengar dan kami ta’at”. (Mereka berdoa): “Ampunilah kami ya Rabb kami dan kepada Engkaulah tempat kembali”. Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya. (Mereka berdoa): “Ya Rabb kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami bersalah. Ya Rabb kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang yang sebelum kami. Ya Rabb kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri maaflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir“. (QS. Al Baqarah: 285-286)

[4] بِاسْمِكَ رَبِّيْ وَضَعْتُ جَنْبِيْ، وَبِكَ أَرْفَعُهُ، فَإِنْ أَمْسَكْتَ نَفْسِيْ فَارْحَمْهَا، وَإِنْ أَرْسَلْتَهَا فَاحْفَظْهَا بِمَا تَحْفَظُ بِهِ عِبَادَكَ الصَّالِحِيْنَ

Bismika robbi wadho’tu jambii, wa bika arfa’uh, fa-in amsakta nafsii farhamhaa, wa in arsaltahaa fahfazh-haa bimaa tahfazh bihi ‘ibaadakash shoolihiin.

Artinya:

“Dengan nama Engkau, wahai Rabbku, aku meletakkan lambungku. Dan dengan namaMu pula aku bangun daripadanya. Apabila Engkau menahan rohku (mati), maka berilah rahmat padanya. Tapi, apabila Engkau melepaskannya, maka peliharalah (dari kejahatan setan dan kejelekan dunia), sebagaimana Engkau memelihara hamba-hambaMu yang shalih.” (Dibaca 1 x)
Faedah: Apabila akan tidur, maka hendaklah tempat tidur tersebut dibersihkan karena siapa tahu ada kotoran yang membahayakan di situ, lalu membaca dzikir di atas.[4]

[5] اَللَّهُمَّ إِنَّكَ خَلَقْتَ نَفْسِيْ وَأَنْتَ تَوَفَّاهَا، لَكَ مَمَاتُهَا وَمَحْيَاهَا، إِنْ أَحْيَيْتَهَا فَاحْفَظْهَا، وَإِنْ أَمَتَّهَا فَاغْفِرْ لَهَا. اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ الْعَافِيَةَ

Allahumma innaka kholaqta nafsii wa anta tawaffaahaa, laka mamaatuhaa wa mahyaahaa, in ahyaytahaa fahfazh-haa, wa in ammatahaa faghfir lahaa. Allahumma innii as-alukal ‘aafiyah.

Artinya:

“Ya Allah, sesungguhnya Engkau menciptakan diriku, dan Engkaulah yang akan mematikannya. Mati dan hidupnya hanya milik-Mu. Apabila Engkau menghidupkannya, maka peliharalah (dari berbagai kejelekan). Apabila Engkau mematikannya, maka ampunilah. Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu keselamatan.” (Dibaca 1 x)[5]

[6] اَللَّهُمَّ قِنِيْ عَذَابَكَ يَوْمَ تَبْعَثُ عِبَادَكَ

Allahumma qinii ‘adzaabak, yawma tab’atsu ‘ibaadak.

Artinya:

“Ya Allah, jauhkanlah aku dari siksaanMu pada hari Engkau membangkitkan hamba-hambaMu (yaitu pada hari kiamat).” (Dibaca 1 x).
Faedah: Apabila Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam hendak tidur, beliau meletakkan tangan kanannya di bawah pipinya, kemudian membaca dzikir di atas.[6]

[7] بِاسْمِكَ اللَّهُمَّ أَمُوْتُ وَأَحْيَا

Bismika allahumma amuutu wa ahyaa.

Artinya:

“Dengan namaMu, ya Allah! Aku mati dan hidup.” (Dibaca 1 x)[7]

[8]

سُبْحَانَ اللهِ (33×)
الْحَمْدُ لِلَّهِ (33×)
اللهُ أَكْبَرُ (34×)
Subhanallah (33 x)
Alhamdulillah (33 x)
Allahu Akbar (33 x)

Artinya:

“Maha suci Allah (33 x), segala puji bagi Allah (33 x), Allah Maha Besar (34 x).”
Faedah: Bacaan di atas lebih baik daripada memiliki pembantu di rumah. Demikian dikatakan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pada puterinya, Fatimah dan istri tercintanya, ‘Aisyah radhiyallahu ‘anhuma.[8]

[9] اَللَّهُمَّ رَبَّ السَّمَاوَاتِ السَّبْعِ وَرَبَّ الْعَرْشِ الْعَظِيْمِ، رَبَّنَا وَرَبَّ كُلِّ شَيْءٍ، فَالِقَ الْحَبِّ وَالنَّوَى، وَمُنْزِلَ التَّوْرَاةِ وَاْلإِنْجِيْلِ وَالْفُرْقَانِ، أَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ كُلِّ شَيْءٍ أَنْتَ آخِذٌ بِنَاصِيَتِهِ. اَللَّهُمَّ أَنْتَ اْلأَوَّلُ فَلَيْسَ قَبْلَكَ شَيْءٌ، وَأَنْتَ اْلآخِرُ فَلَيْسَ بَعْدَكَ شَيْءٌ، وَأَنْتَ الظَّاهِرُ فَلَيْسَ فَوْقَكَ شَيْءٌ، وَأَنْتَ الْبَاطِنُ فَلَيْسَ دُوْنَكَ شَيْءٌ، اِقْضِ عَنَّا الدَّيْنَ وَأَغْنِنَا مِنَ الْفَقْرِ

Allahumma robbas-samaawaatis sab’i wa robbal ‘arsyil ‘azhiim, robbanaa wa robba kulli syai-in, faaliqol habbi wan-nawaa wa munzilat-tawrooti wal injiil wal furqoon. A’udzu bika min syarri kulli syai-in anta aakhidzum binaa-shiyatih. Allahumma antal awwalu falaysa qoblaka syai-un wa antal aakhiru falaysa ba’daka syai-un, wa antazh zhoohiru fa laysa fawqoka syai-un, wa antal baathinu falaysa duunaka syai-un, iqdhi ‘annad-dainaa wa aghninaa minal faqri.

Artinya:

“Ya Allah, Rabb yang menguasai langit yang tujuh, Rabb yang menguasai ‘Arsy yang agung, Rabb kami dan Rabb segala sesuatu. Rabb yang membelah butir tumbuh-tumbuhan dan biji buah, Rabb yang menurunkan kitab Taurat, Injil dan Furqan (Al-Qur’an). Aku berlindung kepadaMu dari kejahatan segala sesuatu yang Engkau memegang ubun-ubunnya (semua makhluk atas kuasa Allah). Ya Allah, Engkau-lah yang awal, sebelum-Mu tidak ada sesuatu. Engkaulah yang terakhir, setelahMu tidak ada sesuatu. Engkau-lah yang lahir, tidak ada sesuatu di atasMu. Engkau-lah yang Batin, tidak ada sesuatu yang luput dari-Mu[9]. Lunasilah utang kami dan berilah kami kekayaan (kecukupan) hingga terlepas dari kefakiran.”[10]

[10] الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ أَطْعَمَنَا وَسَقَانَا وَكَفَانَا وَآوَانَا، فَكَمْ مِمَّنْ لاَ كَافِيَ لَهُ وَلاَ مُؤْوِيَ

Alhamdulillahilladzi ath’amanaa wa saqoonaa wa kafaanaa wa aawaanaa, fakam mimman laa kaafiya lahu wa laa mu’wiya.

Artinya:

“Segala puji bagi Allah yang memberi makan kami, memberi minum kami, mencukupi kami, dan memberi tempat berteduh. Berapa banyak orang yang tidak mendapatkan siapa yang memberi kecukupan dan tempat berteduh.”[11]

[11] اَللَّهُمَّ عَالِمَ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَاطِرَ السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضِ، رَبَّ كُلِّ شَيْءٍ وَمَلِيْكَهُ، أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَـهَ إِلاَّ أَنْتَ، أَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ نَفْسِيْ، وَمِنْ شَرِّ الشَّيْطَانِ وَشِرْكِهِ، وَأَنْ أَقْتَرِفَ عَلَى نَفْسِيْ سُوْءًا أَوْ أَجُرُّهُ إِلَى مُسْلِمٍ

Allahumma ‘aalimal ghoybi wasy-syahaadah faathiros samaawaati wal ardh. Robba kulli syai-in wa maliikah. Asyhadu alla ilaha illa anta. A’udzu bika min syarri nafsii wa min syarrisy-syaythooni wa syirkihi, wa an aqtarifa ‘alaa nafsii suu-an aw ajurruhu ilaa muslim.

Artinya:

“Ya Allah, Rabb yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata, Rabb pencipta langit dan bumi, Rabb yang menguasai segala sesuatu dan yang merajainya. Aku bersaksi bahwa tiada Rabb yang berhak disembah kecuali Engkau. Aku berlindung kepadaMu dari kejahatan diriku, kejahatan setan dan balatentaranya, atau aku berbuat kejelekan pada diriku atau aku mendorongnya kepada seorang Muslim.”

Faedah: Do’a ini diajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pada Abu Bakr Ash Shiddiq untuk dibaca pada pagi, petang dan saat akan tidur.[12]

[12] Membaca “alif lam mim tanzil” (surat As-Sajdah) dan “tabaarokal ladzii biyadihil mulk” (surat Al Mulk).[13]
[13]

اَللَّهُمَّ أَسْلَمْتُ نَفْسِيْ إِلَيْكَ، وَفَوَّضْتُ أَمْرِيْ إِلَيْكَ، وَوَجَّهْتُ وَجْهِيَ إِلَيْكَ، وَأَلْجَأْتُ ظَهْرِيْ إِلَيْكَ، رَغْبَةً وَرَهْبَةً إِلَيْكَ، لاَ مَلْجَأَ وَلاَ مَنْجَا مِنْكَ إِلاَّ إِلَيْكَ، آمَنْتُ بِكِتَابِكَ الَّذِيْ أَنْزَلْتَ وَبِنَبِيِّكَ الَّذِيْ أَرْسَلْتَ

Allahumma aslamtu nafsii ilaik, wa fawwadh-tu amrii ilaik, wa wajjahtu wajhiya ilaik, wa alja’tu zhohrii ilaik, rogh-batan wa rohbatan ilaik, laa malja-a wa laa manjaa minka illa ilaik. Aamantu bikitaabikalladzi anzalta wa bi nabiyyikalladzi arsalta.

Artinya:

“Ya Allah, aku menyerahkan diriku kepadaMu, aku menyerahkan urusanku kepadaMu, aku menghadapkan wajahku kepadaMu, aku menyandarkan punggungku kepadaMu, karena senang (mendapatkan rahmatMu) dan takut pada (siksaanMu, bila melakukan kesalahan). Tidak ada tempat perlindungan dan penyelamatan dari (ancaman)Mu, kecuali kepadaMu. Aku beriman pada kitab yang telah Engkau turunkan, dan (kebenaran) NabiMu yang telah Engkau utus.” Apabila Engkau meninggal dunia (di waktu tidur), maka kamu akan meninggal dunia dengan memegang fitrah (agama Islam)”.

Faedah: Jika seseorang membaca dzikir di atas ketika hendak tidur lalu ia mati, maka ia mati di atas fithrah (mati di atas Islam).[14]

[1] HR. Bukhari no. 5017 dan Muslim no. 2192.
[2] HR. Bukhari no. 3275
[3] HR. Bukhari no. 4008 dan Muslim no. 807.
[4] HR. Al-Bukhari no. 6320 dan Muslim no. 2714.
[5] HR. Muslim no. 2712.
[6] HR. Tirmidzi no. 3398 dan Abu Daud no. 5045. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan hadits ini shahih. Syaikh Al Albani mengkritik tentang penyebutan dzikir ini tiga kali. Yang tepat riwayat tersebut tanpa penyebutan tiga kali. Lihat As Silsilah Ash Shahihah no. 2754, 6: 588.
[7] HR. Bukhari no. 6312 dan Muslim no. 2711.
[8] HR. Bukhari no. 3705 dan Muslim no. 2727.
[9] Maksud “فَلَيْسَ دُوْنَكَ شَيْءٌ” adalah kiasan akan ilmu Allah yang meliputi segala sesuatu. Walaupun Allah itu Maha Tinggi, akan tetapi Allah begitu dekat. Ketinggian Allah tidak menafikan kedekatan Allah. (Lihat Syarh Al ‘Aqidah Al Wasithiyah, hal. 113)
[10] HR. Muslim no. 2713.
[11] HR. Muslim no. 2715.
[12] HR. Tirmidzi no. 3392 dan Abu Daud no. 5067. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahawa sanad hadits ini shahih. Adapun kalimat terakhir (وَأَنْ أَقْتَرِفَ عَلَى نَفْسِيْ سُوْءًا أَوْ أَجُرُّهُ إِلَى مُسْلِمٍ) adalah tambahan dari riwayat Ahmad 2: 196. Dikomentari oleh Syaikh Syu’aib Al Arnauth bahwa hadits tersebut shahih dilihat dari jalur lainnya (shahih lighoirihi).
[13] HR. Tirmidzi no. 3404. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa hadits ini adalah hadits yang hasan.
[14] HR. Al-Bukhari no. 6313 dan Muslim no. 2710.

Bagian dari Buku Dzikir Pagi Petang karya Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal
Direvisi ulang 11 Jumadats Tsaniyyah 1436 H
Artikel Rumaysho.Com

Sumber : https://rumaysho.com/1683-dzikir-sebelum-tidur205.html

Continue Reading
Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Islamik

Ini Sebab Rasulullah Menyuruh Kita Bersihkan Tempat Tidur Sebelum Duduk Atau Baring

Published

on

Ini Sebab Rasulullah Menyuruh Kita Bersihkan Tempat Tidur Sebelum Duduk Atau Baring

Sudahkah kita membiasakan diri mengibaskan tempat tidur dengan kain atau sarung sebelum kita duduk dan tidur di atas katil kita? Tentunya sambil mengucapkan BISMILLAH.

Ternyata ada fakta saintifik di sebaliknya sunnah bersihkan tempat tidur yang tentu sahaja pada kesihatan tubuh kita. Juga apakah ada rahsia lain yang berkaitan dengan alam ghaib mengenai hal ini?

Oleh sebab itu jangan sampai kita meremehkan sunnah bersihkan tempat tidur sebelum tidur ya Dari sahabat Abu Hurairah ra Rasulullah Shallahu ‘alaihi wasallam bersabda

“Apabila salah seorang dari kalian hendak berbaring di tempat tidurnya hendaklah ia kibas-kibas tempat tidurnya itu dengan sarungnya. Kerana dia tidak tahu apa yang terjadi pada tempat tidurnya setelah ia tinggalkan sebelumnya.”

(HR Bukhari Muslim) Hadis lain sebagai tambahan “Bagi orang yang bangun dari tempat tidurnya kemudian kembali lagi maka dianjurkan untuk mengibasinya kembali.” (Sebagaimana hadis riwayat Tirmidzi. 3410)

Sekurang-kurangnya ada dua alasan penting yang menyebabkan kita perlu bersihkan tempat tidur dengan mengibaskan kain sarung ke atas tilam yang akan kita tiduri:

1. Adanya kuman penyakit yang hinggap di tilam, bantal dan selimut yang kita gunakan Bahwa setiap orang tidur di atas tilam pastinya ada sel-sel mati di tubuhnya yang berjatuhan di tempat tidur dan pada saat seseorang itu terjaga dari tidurnya sel-sel tersebut tertinggal di situ.

Ketika orang tersebut kembali tidur tapi tidak terlebih dahulu membersihkan tilam yang akan diduduki kemungkinan besar ada kuman tak terlihat yang memakan sel-sel mati tersebut di atas tilam, selimut dan bantal yang kita gunakan.

Oleh sebab itu sangat penting untuk mengibas atas katil terlebih dahulu untuk memastikan kuman tersebut hilang.

2. Adanya makhluk ghaib yang tidur di atas katil tersebut, yakni jin jahat atau syaitan Tidak ada satu tilam pun yang terbentang di dalam suatu rumah yang tidak ditiduri oleh manusia, kecuali syaitan akan tidur di atas tilam tersebut.

Orang yang beriman kepada yang ghaib pasti menyedari bahawa kita hidup bersama dengan makhluk ciptaan Allah yang lain yang tak terlihat mata kasar. Oleh sebab itu melakukan sunah mengibas-ngibaskan tempat tidur dengan sarung sebelum tidur sambil membaca Bissmillah insyaaAllah mampu menghindarkan kita dari godaan syaitan yang terkutuk. Sunnah yang mudah namun berfadilat besar. Wallaahualam.

Sunnah sebelum tidur kita bersihkan tempat tidur:

Continue Reading

Islamik

Nikahi Seorang Pel4cur, Lelaki Ini Nak Merubahnya Jadi Baik Tapi “Saya Pulang Ke Rumah Dan Terdengar Suara Lelaki Dari Dalam Bilik Saya”

Published

on

Nikahi Seorang Pel4cur, Lelaki Ini Nak Merubahnya Jadi Baik Tapi “Saya Pulang Ke Rumah Dan Terdengar Suara Lelaki Dari Dalam Bilik Saya”

Jakarta: Bagaikan kisah dalam drama televisyen, seorang lelaki di Lumajang, Jawa Timur sanggup menikahi seorang pekerja s*ks.

Lelaki itu mengambil keputusan sedemikian kerana percaya wanita dicintainya itu bakal berubah menjadi individu yang lebih baik.

Namun, impiannya musnah dalam sekelip mata selepas menyaksikan kecurangan isteri di hadapan matanya sendiri.

Tribun News melaporkan semuanya terbongkar selepas lelaki itu menemui isteri dan teman lelaki wanita itu dalam bilik rumah mereka.

Ketika itu, isterinya dalam keadaan tanpa seurat benang. Berang dengan apa yang dilihatnya menyebabkan lelaki terbabit bertindak menghayunkan sabit yang ada bersamanya ke arah teman lelaki isterinya.

“Selesai menebas rumput, saya pulang ke rumah dan terdengar suara lelaki dari dalam bilik saya.

“Saya masuk ke bilik untuk memeriksa dan menemui isteri bersama lelaki lain tanpa berpakaian.

“Tanpa berfikir panjang, saya terus hayunkan sabit kepada lelaki terbabit hingga terkena kepalanya ,” kata lelaki itu.

Susulan kejadian, dia cuba melarikan diri, tetapi gagal apabila ditahan polis. Jurucakap Polis Lumajang, Masykur berkata, insiden itu menyebabkan mangsa cedera pada bahagian kepala dan tangan.

Keadaannya stabil dan dia dirawat di Hospital Bhayangkara.

“Siasatan awal mendapati suspek bertindak mengikut emosi dan dia ditahan untuk siasatan lanjut,” katanya.

Beliau berkata, lelaki itu akan didakwa dan berdepan hukuman penjara maksimum lima tahun kerana menyebabkan kecederaan terhadap mangsa.

Dalam pada itu, Ketua Polis Kunit, Hariyono mengesahkan bahawa isteri suspek adalah bekas pekerja s*ks.

Continue Reading

Islamik

“Eh, Ikut Neelofa Ke, Baguslah”Pakai Tudung Labuh, Ifa Raziah Nafi Sudah Berhijab

Published

on

“Eh, Ikut Neelofa Ke, Baguslah”Pakai Tudung Labuh, Ifa Raziah Nafi Sudah Berhijab

Selebriti versatil, Ifa Raziah berkongsi foto memakai niqab menerusi akaun Instagramnya Jumaat lalu. Hal itu membuat banyak pihak yang berpendapat Ifa sudah menukar penampilannya dengan menutup aurat.

Malah menerusi pemerhatian Gempak di ruangan komen entri berkenaan, ramai pengikut Ifa berasa gembira melihat ‘Diva’ kesayangan ramai itu menutup aurat dengan sempurna.

Pada masa yang sama, ada juga warganet yang menganggap Ifa mengikut jejak hos dan pelakon popular, Neelofa yang kini telah berniqab.

Meski demikian, setelah sempat memuat naik fotonya menggenakan niqab, Ifa kemudian kembali mempamerkan penampilannya seperti biasa.

Ketika dihubungi Gempak sebentar tadi, Ifa menjelaskan kekeliruan netizen mengenai penampilannya. Sambil memberitahu dirinya masih belum berpenampilan menutup aurat, Ifa menafikan perkongsiannya itu dipengaruhi oleh hijrah Neelofa.

Menurutnya, dia sering berkongsi foto menutup aurat pada setiap hari Jumaat dan berhijab sepanjang bulan Ramadhan.

“Perkongsian itu tidaklah mengikut Neelofa, tetapi kepada mereka yang mengikuti saya di media sosial, tentu mereka tahu yang saya selalu berkongsi foto menutup aurat setiap hari Jumaat.

“Selain itu, saya juga akan bertudung pada setiap bulan Ramadan hingga 10 Syawal, ataupun sepanjang saya pergi umrah, saya akan berhijab.

View this post on Instagram

Salam Jumaat Yg Barakah👍 . . Syukur Alhamdulillah🤲 Nikmat yang diberi, semoga Hari Jumaat yang Mulia ini menjadi hari yang penuh bermanfaat untuk kita dekatkan diri dengan Allah SWT . Jom kuruskan badan untuk beribadah kerana ia adalah HIJRAH. Lakukan amalan dan niat yang mulia, Semoga segala urusan kita pada hari ini dipermudahkan dan diberi kekuatan semangat untuk terus kurus😉 . Hanya amalkan 1 sachet SOLID MOLID setiap pagi semasa sarapan ya! . . 📲 WS no dibawah untuk pembelian wasap.my/60193722975 wasap.my/60193722975.. . . #ifaraziah #missdiva #serifabeauty #soliddiva #solidmolid #solidbeauty #solidberry #missdivaglow #diet #missdivashine #slimming #detox #stokistwanted #agentwanted #dropshipwanted #kuruscantiklentik #viral #fyp #malaysiaonlineshop #onlineshopping #Shopee #tiktok #ceo #trending #skincare #beautiful #pukpukpukk #malaysia #singapore

A post shared by MISS DIVA IFA RAZIAH (@ifa_raziah) on

“Walaupun saya belum berhijab sepenuhnya, tetapi sekurang-kurangnya saya menghormati hari Jumaat dan bulan Ramadan yang mulia,” katanya.

Dalam pada itu, Ifa juga mengatakan dirinya dalam proses untuk berubah ke arah yang lebih baik. Sebagai manusia biasa, tak ada orang yang tidak ingin berubah demi kebaikan, katanya.

“Sesiapa yang nak ikut perkara baik, baguslah, saya cuba berubah secara perlahan.

“Doakan yang baik-baik, bagi saya, apa jua yang kita lakukan, yang penting adalah nawaitu kita,” katanya lagi.

Continue Reading

Trending